Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Sarah Sechan membagikan pengalamannya saat terlibat dalam produksi film Wasiat Warisan, yang berlatar kawasan Danau Toba. Dia menyebut adaptasi dialek Batak menjadi tantangan terbesar yang ia hadapi.
Sebagai aktris berdarah Sunda, ia harus menjalani persiapan intensif agar dialognya terdengar autentik.
Sarah Sechan mengaku sempat ragu saat ditawari peran yang mengharuskannya berdialek Batak.
"Saya sempat berpikir, ini mesti casting ulang kali ya, karena kan aku Sunda pisan," kata Sarah.
Menurut dia, berdialek Batak di film yang nantinya akan tayang di bioskop mulai 4 Desember itu, tidak boleh dibuat-buat dan harus berdialek dengan tepat.
Meskipun sang ibu, Kusmiati Sechan, memang pernah tinggal dan bersekolah di Medan, Sarah menyadari dialek Medan dan Samosir memiliki perbedaan, seperti halnya perbedaan dialek Sunda di Bandung dan Ciamis.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Sarah mendapatkan bantuan dari acting coach dan speech coach . Ia juga secara aktif mendengarkan percakapan rekan-rekan sesama pemain di lokasi syuting.
Namun, di tengah fokusnya pada pendalaman dialek, Sarah mengungkapkan adanya gangguan yang datang dari lawan mainnya, Derby Romero.
Ia berkelakar, Derby menjadi 'pengganggu' yang menguji fokusnya selama syuting.
Salah satu kejadian lucu terjadi ketika ia harus mengucapkan satu kalimat penuh dalam bahasa Batak;
"Jadi ada satu dialog aku pakai bahasa Batak Mangharoani di kuburannya bapak sama mamaknya Tarida (karakter yang diperankan Sarah di film Wasiat Warisan)," kata Sarah.
Saat ia mencoba mengucapkan kalimat tersebut dengan intonasi yang benar, Derby Romero (yang dalam film berperan sebagai karakter adik Tarida yang bernama Togar) berbisik di sampingnya.
Sarah Sechan menggambarkan bisikan Derby tersebut menggunakan intonasi Sunda.
Gangguan itu yang mengacaukan konsentrasi Sarah Sechan karena bertolak belakang dengan dialek serius yang harus ia sampaikan dalam bahasa Batak.
Selain itu, Derby juga sering menakut-nakutinya dengan cerita hantu dan cerita jorok di lokasi yang keramat.
"Aku kalau bisa, kalau diajak main film lagi (dengan Derby), mau, tapi jangan satu scene," seloroh Sarah.
Di luar dinamika yang menguji kesabaran tersebut, Sarah Sechan mengaku bisa langsung menyatu dengan perannya (Tarida).
Ia menemukan bahwa dinamika keluarga dalam cerita film, yang meliputi konflik dan kehangatan, sangat mirip dengan kondisi keluarganya sendiri.
Hal ini, ditambah dengan suasana syuting yang hangat dan bantuan dari seluruh pemain dan kru, membuat proses adaptasinya terhadap karakter Tarida—anak perempuan pertama yang memiliki tanggung jawab besar—berjalan dengan baik.
Sarah kemudian mengungkapkan harapan agar perannya di film Wasiat Warisan akan membuatnya berkesempatan memenangi penghargaan Piala Citra dari Festival Film Indonesia di masa mendatang. (Ant/Z-1)
Bukan sekadar drama rumah tangga biasa, film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? dirancang sebagai sebuah eksplorasi spiritual dan perjalanan batin seorang perempuan.
Beby mengungkap cerita dalam film Tolong Saya! (Dowajuseyo) lahir dari kejadian mistis yang ia alami saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Indonesia di Korsel.
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Aktris utama Dian Sastrowardoyo dilaporkan mengalami insiden jatuh dari kuda saat menjalani salah satu adegan penting saat syuting film Esok Tanpa Ibu.
Sutradara Timur Bekmambetov menjelaskan bahwa MERCY dirancang untuk memadukan ketegangan cerita dengan pendekatan visual berbasis layar digital atau Screenlife.
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved