Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Sadchurro Rilis Album Penuh Perdana, Everything Is Not Real

Basuki Eka Purnama
21/11/2025 10:45
Sadchurro Rilis Album Penuh Perdana, Everything Is Not Real
Sadchurro(MI/HO)

SADCHURRO, proyek musik dari Ganes Mardhika resmi meluncurkan Everything Is Not Real, sebuah album penuh perdana yang kini sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming musik sejak Jumat (21/11).

Perjalanan Sadchurro menuju album penuh perdananya dimulai saat ia melepas single Blurry di 2021 lalu, berlanjut dengan maxi-single Ocean di 2024 yang disusul oleh lagu berbahasa Indonesia pertamanya, Biarkan, yang dirilis di pertengahan 2025. 

Diakui oleh Sadchurro, bahwa proses penggarapannya terbilang panjang namun berjalan dengan menyenangkan dan tanpa beban.

“Sebenarnya perjalanannya cukup panjang tapi mengalir saja. Setelah rilis Blurry di 2021, gue punya banyak ide dan materi yang belum gue tuntaskan. Saat mengerjakan maxi-single Ocean di 2024, gue mulai sadar kalau materi yang menumpuk ini harusnya bisa jadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar single lepasan,” lanjutnya.

Sang solois turut mengutarakan bahwa tema utama dari Everything Is Not Real adalah seputar perasaan-perasaan tidak menyenangkan yang kerap kali mampir di kehidupan dewasa yang kadang menjadi ganjalan di perjalanannya.

“Tema besarnya soal depresi, disosiasi, dan perasaan detachment, ketika lo merasa asing dengan diri sendiri ataupun dengan dunia sekitar sampai lo merasa kayak semuanya fana atau gak ada yang nyata. Kalau biasanya kita disuruh ‘grounding’, di sini gue coba mendalami atau meromantisasi perasaan itu,” tutur Sadchurro.

Hitung total, sembilan judul dihadirkan oleh Sadchurro melalui Everything Is Not Real. Sembilan judul tersebut adalah Liminal Dreaming, Biarkan, Blurry, Sink Me In The Ocean, Terminal 3, Satu Gelas Lagi (feat. Rasyiqa), Cinema, I (Don’t) Wanna Be Alone (feat. Danilla & Satan’s Heir), dan (Somehow) I’m Not Already Dead.

Sembilan judul tersebut hadir dalam koridor musik yang Sadchurro usung sejak awal perjalanannya, yakni pakem emo / dream pop / sad pop dengan masing-masing warnanya. 

Tersebut dua judul yang menjadi favorit oleh sang solois, yakni Blurry dan I (Don’t) Wanna Be Alone (feat. Danilla & Satan’s Heir) yang merupakan judul ketiga dan kedelapan di album.

“Selain Biarkan sebagai focus track pertama yang sudah rilis lebih dulu di bulan Juni lalu, yang dijadikan focus track di album ini adalah I (Don’t) Wanna Be Alone’ (feat. Danilla & Satan’s Heir). Lagu tersebut lumayan ada BM-nya, tapi gue suka dengan hasilnya dan seru banget pas dibawakan manggung. Kalau personal favorite kayaknya gue tetap pilih ‘Blurry’ karena lagu itu yang memulai semua ini,” lanjutnya.

Lebih jauh, terdapat tiga nama musisi kolaborator yang terlibat di dalam album. Mereka adalah Rasyiqa, Danilla, serta Satan’s Heir (juga dikenal sebagai Ekrig, vokalis dari grup musik Avhath). 

Proses mengajak ketiganya terbilang organik, bagaimana semua berawal dari obrolan tongkrongan hingga akhirnya berlanjut ke dalam studio.

Soal keterlibatan Rasyiqa, sejak awal Sadchurro memang sudah terbayang untuk menyertakan vokal perempuan di lagu Satu Gelas Lagi, juga berangkat dari kekagumannya terhadap lagu Uncomfortably Numb milik American Football serta Sullen dari Barefood yang masing-masing kolaboratornya memberi warna tersendiri. 

Sementara untuk hadirnya Danilla dan Satan’s Heir, Sadchurro punya keinginan tersendiri untuk mengajak keduanya ambil bagian di dalam album.

“Sambil merampungkan guide untuk rekaman dan utak-atik ini-itu, tiba-tiba muncul saja berbagai ide dan ke-BM-an, salah satunya adalah pada part vokal. Gue langsung terbayangnya bagian tersebut diisi oleh Danilla & Satan’s Heir.”

Selain dengan keterlibatan tiga musisi kolaborator yang ambil bagian di masing-masing lagunya, juga hadir nama-nama lain yang membantu sadchurro dari dalam studio. 

Mereka adalah Casey Leiwakabessy (Heave) sebagai produser yang juga mengisi bagian gitar, Dimas Jamal Mahdi (Satria The Monster) yang mengisi drum, Wisnu Ikhsantama yang mengisi synth di lagu Cinema, serta Ekrig (Satan’s Heir) yang turut menjadi co-producer untuk lagu Liminal Dreaming dan Cinema.

Untuk urusan visual, Sadchurro mempercayakan keseluruhannya kepada Sara Alisha yang menggarap logonya, Vinodii yang mengambil foto untuk artwork album dan mengerjakan video musik Biarkan, serta Stella Marlena & Reinhardt Reeves yang menggarap video lirik untuk seluruh lagu di album ini.

Beriringan dengan perilisannya, Sadchurro sudah mempersiapkan beberapa rencana lanjutan untuk sang album penuh perdana, mulai dari rilisan fisik, showcase, merchandise, hingga rangkaian tur serta yang paling utama: memaksimalkan panggung-panggung mendatang untuk memperkenalkan deretan lagu di Everything Is Not Real secara luas.

“Gue berharap album ini bisa menemani pendengarnya di momen-momen yang mereka butuhkan, sama seperti proses pengerjaan album yang menemani gue. Kalau ada satu-dua lagu yang bisa resonate sama siapapun, itu sudah lebih dari cukup,” tutup Sadchurro.

Everything Is Not Real, album penuh perdana dari Sadchurro sudah tersedia di berbagai platform streaming musik. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya