Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA film Komang, Naya Anindita, mengungkapkan tantangan terbesar dalam mengadaptasi kisah nyata cinta antara Raim Laode dan Komang Ade adalah membuat kisah selama 7 tahun menjadi sebuah film berdurasi sekitar 2 jam.
Menurut Naya, menyajikan perjalanan cinta yang panjang tersebut dalam waktu yang terbatas tanpa kehilangan esensi dari karakter adalah
sebuah tugas yang sangat sulit.
"Saya harus memastikan bahwa karakter-karakter ini diberikan ruang untuk mengekspresikan emosi mereka, tapi juga harus cepat beralih ke adegan selanjutnya," kata Naya, Rabu (19/3).
Naya menyampaikan, tantangan lain adalah bagaimana memberi 'bumbu' yang membuat penonton merasa gemas, tanpa mengubah esensi dari karakter tersebut.
Naya menyebutkan dirinya merasa bertanggung jawab penuh atas hasil film ini, terlebih karena kisah yang diangkat adalah kisah nyata.
Ia juga sangat menghargai masukan yang diberikan oleh Raim Laode dan Komang Ade selama proses produksi, termasuk pertemuan panjang yang dilakukan bersama Komang untuk mendalami karakter lebih dalam.
"Saya senang mereka happy dengan hasilnya," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Produser Chand Parwez Servia berbicara tentang reaksi emosional yang ia rasakan saat melakukan editing film tersebut.
"Ada beberapa bagian yang membuat saya tetap mengeluarkan air mata, ada bagian yang membuat saya lemas, dan ada bagian yang menurut saya bisa sangat luar biasa," ungkap Chand.
Ia mengakui adanya kekhawatiran mengenai apakah Raim Laode dan Komang akan menyukai hasil film ini, mengingat film ini mengangkat kisah nyata mereka.
Chand juga menyoroti pesan mendalam yang terkandung dalam film ini, yaitu tentang bagaimana perbedaan dapat disatukan dengan niat tulus dan cinta.
"Film ini bukan hanya tentang kisah yang luar biasa, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa mengatasi perbedaan-perbedaan dalam hidup,
termasuk dalam sebuah keluarga," katanya.
Menurutnya, film Komang berhasil menyampaikan pesan positif yang bisa mempererat hubungan antar manusia, terutama dalam menghadapi perbedaan yang ada.
Ia menambahkan, film ini berhasil menjelaskan bagaimana mereka pertama kali bertemu, menampilkan berbagai rintangan yang harus dihadapi, hingga proses keduanya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Semoga penonton Indonesia bisa terhibur dan dapat memetik pelajaran dari hubungan Ode dan Komang di film ini,' ujar Chand Parwez Servia.
Diproduksi oleh Starvision, film Komang menyajikan kisah asmara yang manis sekaligus penuh tantangan antara dua anak muda, Raim Laode alias Ode (Kiesha Alvaro) dengan Komang Ade Widiandari (Aurora Ribero).
Kisah keduanya berawal ketika mereka sama-sama menjalani kehidupan di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
Ode dikisahkan sebagai pemuda asli Buton yang memiliki minat di dunia stand-up comedy dan musik, serta dikenal sebagai sosok yang taat agama.
Sementara itu, Komang adalah perempuan dari keluarga transmigran asal Bali yang menetap di Baubau.
Selain Kiesha Alvaro dan Aurora Ribero, film Komang turut dibintangi oleh sejumlah aktor berbakat Indonesia di antaranya Cut Mini, Arie Kriting, Mathias Muchus, Ayu Laksmi, Neneng Risma, Rhesa Putri, Arman Dewarti, Ciaxman, Raim Laode, Anggika Bolsterli, Pevita Pearce, Afgansyah Reza, Naya Anindita, Shabira Alula, Azkya Mahira, Najla Putri, Sultan Hamonangan, Jonathan Alvaro, Oki DM, hingga debut Adzando Davema.
Film Komang akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai Lebaran 2025. (Ant/Z-1)
Aktor sekaligus produser eksekutif, Iko Uwais, menekankan pentingnya mengalihkan energi agresivitas anak muda ke ranah kreatif.
Film Ikatan Darah yang disutradarai oleh Sidharta Tata ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 30 April 2026.
Bagi Derby Romero, terlibat dalam proyek film Ikatan Darah adalah perwujudan dari impian lama.
Meskipun dikenal dengan latar belakang komedi, keterlibatan Rahmet Ababil di film Ikatan Darah disebut-sebut akan menjadi salah satu elemen paling "menonjol".
Setelah sebelumnya sukses mengarahkan serial Pertaruhan, Sidharta Tata menyebut film Ikatan Darah sebagai ambisi lama yang akhirnya mendapatkan momentum untuk diwujudkan.
Bagi para aktor, membintangi film aksi, seperti Ikatan Darah, bukan sekadar menghafal dialog, melainkan juga menuntut ketangkasan fisik yang mumpuni.
Setelah sebelumnya sukses mengarahkan serial Pertaruhan, Sidharta Tata menyebut film Ikatan Darah sebagai ambisi lama yang akhirnya mendapatkan momentum untuk diwujudkan.
Berbeda dari tema film keluarga lainnya, Rapi Film menghadirkan Tunggu Aku Sukses Nanti yang membawa tema besar pada kumpul keluarga saat Lebaran.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Produser dan sutradara kompak menyebut telah menyiapkan universe untuk Pelangi di Mars, baik itu berupa sekuel, prekuel ataupun spin-off.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved