Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM komedi aksi berjudul Keluarga Besar akan segera tayang dan menjadi pilihan tontonan keluarga di momen Lebaran.
Film ini mengangkat ide cerita tentang sebuah keluarga berbadan besar yang tinggal di rumah susun (rusun). Menariknya, lokasi syuting tersebut benar-benar dilakukan di sebuah rusun di wilayah Cakung, Jakarta Timur.
"Awalnya, ide ini muncul saat kami membayangkan bagaimana jika ada satu keluarga berbadan besar tinggal di rusun. Dari situ, kami kembangkan menjadi film Keluarga Besar," ujar Sutradara Ario Rubbik saat konferensi pers, dikutip Rabu (19/3).
Selain menyajikan komedi, film ini juga mengangkat isu-isu yang relevan dalam kehidupan berkeluarga, terutama masalah kurangnya komunikasi antara anggota keluarga.
"Kami ingin mengangkat isu kurangnya komunikasi yang sering terjadi di zaman sekarang, baik antara anak dan orangtua," tambah Ario.
Film ini dibintangi oleh Mo Sidik, yang mengungkapkan bahwa film ini sangat cocok ditonton bersama keluarga di momen Lebaran.
"Film ini ringan dan menghibur, meskipun ada isu-isu berat yang diangkat. Selain itu, ada banyak adegan lucu yang membuat film ini cocok ditonton bersama keluarga," kata Mo.
Salah satu tantangan utama pembuatan film ini, menurut sutradara, adalah lokasi syuting yang berada di rusun dengan empat lantai.
"Kesulitan pasti ada, apalagi syuting di rusun dengan empat lantai. Tapi, kami terbantu dengan penata artistik yang luar biasa, Eza Tampubolon, yang mampu memaksimalkan elemen-elemen yang ada," ujar Ario.
Tantangan lainnya adalah kondisi fisik para pemain, terutama mereka yang berbadan besar, yang harus bolak-balik naik turun tangga.
"Badan mereka kan besar-besar dan harus naik turun tangga terus. Tapi, mereka tetap semangat," tambah Ario.
Selain komedi, film ini juga mengangkat isu-isu sosial yang relevan, seperti kehidupan bertetangga di rusun dan pentingnya komunikasi dalam keluarga.
"Kami ingin menggambarkan kehidupan bertetangga di rusun yang jarang dieksplorasi. Selain itu, kami juga ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga, yang seringkali terabaikan di zaman sekarang," ungkap Ario.
Film ini juga menampilkan adegan-adegan yang menggambarkan keunikan kehidupan di rusun, seperti barang-barang yang diletakkan di luar unit apartemen.
"Di rusun, barang-barang yang diletakkan di luar itu unik-unik, kalau apartemen biasanya kan di luar ada yang taruh sendal, di rusun,
tetangga taruh sofanya di luar," tambah Mo Sidik.
Film Keluarga Besar juga menampilkan karakter-karakter yang unik dan beragam, seperti sosok kepala keluarga dari kalangan menengah ke
bawah yang menghadapi tuntutan dari anak dan istrinya, serta kehidupan anak-anak muda generasi Z yang menghadapi masalah eksternal dan internal di kehidupan mereka.
"Kami ingin menggambarkan bahwa di balik kehidupan yang terlihat harmonis, sebenarnya ada masalah-masalah yang dihadapi setiap keluarga. Dan sering kali, masalah-masalah tersebut muncul akibat kurangnya komunikasi," kata Ario.
Meskipun film ini bergenre komedi, mereka tidak ingin terjebak dalam komedi yang bersifat body shaming. Mereka lebih memilih untuk menampilkan komedi situasi yang muncul dari interaksi antarkarakter dan kehidupan sehari-hari di rusun.
"Komedi di film ini lebih bersifat situasional. Misalnya, bagaimana empat orang berbadan besar berinteraksi di dalam satu ruangan sempit, atau bagaimana mereka menghadapi masalah-masalah yang muncul akibat ukuran tubuh mereka," jelas Ario.
Proses syuting film ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama karena lokasi syuting yang berada di rusun asli. Mereka harus menghadapi kondisi ruangan yang sempit dan panas, serta berinteraksi dengan penghuni rusun lainnya.
"Awalnya, kami mempertimbangkan untuk menggunakan studio, tapi setelah berdiskusi dengan produser, ternyata biayanya jauh lebih mahal. Selain itu, kami juga ingin mendapatkan nuansa kehidupan rusun yang lebih autentik," ungkap sutradara film. (Ant/Z-1)
Sejak kemunculannya, Nussa telah menjadi ikon animasi yang lekat dengan nilai-nilai positif bagi anak-anak.
Christine Hakim tidak kuasa menahan air mata saat membagikan pengalamannya menghidupkan sosok Ibu Wibisana dalam film adaptasi novel karya Leila S Chudori, Laut Bercerita.
Menurut Dian Sastrowardoyo, sosok Kinan dalam film Laut Bercerita adalah representasi perempuan yang sangat inspiratif.
Reza Rahadian mengungkapkan bahwa dalam mendalami karakter Biru Laut, ia memilih untuk tetap setia pada pondasi awal yang telah dibangun penulis.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved