Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA perfilman Indonesia kembali meluncurkan karya terbaru di awal 2025. Sebuah film berjudul Lyora: Penantian Buah Hati dijadwalkan akan segera memulai proses syuting pada 18 Januari 2025.
Film ini diadaptasi dari novel berjudul Lyora: Keajaiban yang Dinanti karya Fenty Effendy. Novel tersebut mengangkat kisah perjuangan nyata Meutya Hafid, yang kini menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia (Menkomdigi), bersama suaminya, Fajrie, dalam menantikan buah hati.
Film bergenre drama keluarga ini disutradarai Pritagita Arianegara, dan diproduseri oleh Virgie Baker, Robert Ronny, dan Pandu Birantoro.
Robert Ronny, selaku produser, menceritakan awal mula tercetusnya kisah ini untuk dijadikan film.
"Saya sudah mengetahui cerita tentang Lyora sejak lama, karena Meutya adalah sahabat istri saya. Namun, ide mengadaptasinya ke layar lebar baru muncul setelah novelnya diterbitkan dan mendapat perhatian luas. Kisah ini sangat kuat dan inspiratif, sehingga kami merasa ini adalah cerita yang tepat untuk difilmkan," ungkap produser Robert Ronny dalam acara kick off film Lyora: Penantian Buah Hati, Jumat (17/1) di International Design School, Jakarta.
Film Lyora: Penantian Buah Hati mengisahkan perjalanan politisi Meutya dan Fajrie dalam mendapatkan anak melalui program bayi tabung.
Meutya, yang kala itu menjabat sebagai ketua komisi I DPR RI, harus menghadapi tiga kali keguguran dalam satu tahun sebelum akhirnya berhasil di usia 44 tahun.
Film ini menyentuh berbagai aspek, mulai dari penantian hingga perjuangan mental seorang wanita dalam menjalani program kehamilan.
Marsha Timothy, pemeran Meutya Hafid, mengaku merasa terhormat saat diberi tawaran untuk memerankan sosok perempuan inspiratif tersebut.
"Saya merasa terhormat saat dipercaya memerankan sosok perempuan hebat Indonesia, Ibu Meutya Hafid. Saya tahu beliau adalah sosok pekerja keras yang tetap lembut dan penuh kasih terhadap keluarganya, termasuk Lyora, sang buah hatinya," ujarnya
Marsha juga turut menambahkan rasa gembiranya saat memerankan sosok wanita inspiratif.
"Selama bermain film saya selalu senang saat memerankan sosok wanita inspiratif, karena tidak hanya memberikan pengalaman mendewasakan diri, tetapi juga membuka wawasan baru," ungkap Marsha.
Sementara itu, Darius Sinathrya, yang memerankan Fajrie, suami Meutya Hafid, mengatakan film Lyora memberikan makna tentang kegigihan dari pasangan yang menantikan buah hati mereka.
“Kisah perjuangan Ibu Meutya Hafid dan Mas Fajrie dalam menantikan anak mereka, Lyora, sangat dekat dengan realita masyarakat kita. Meskipun saya belum sempat bertemu langsung, namun dari film ini saya belajar arti kegigihan, dan sebagai suami kita memang harus senantiasa memberikan dukungan pada istri bagaimana situasi dan kondisinya", ujar Darius Sinathrya.
Sutradara Pritagita Arianegara menambahkan bahwa film ini juga menyoroti tantangan mental dan finansial dalam program bayi tabung.
"Kami ingin menunjukkan bahwa perjuangan ini tidak hanya tentang aspek biologis, tetapi juga menyangkut dukungan mental dari keluarga, sahabat, dan kesiapan finansial," ujarnya.
Selain Marsha Timothy dan Darius Sinathrya, film ini juga dibintangi oleh Widya Wati, Olga Lydia, Hannah Al Rashid, dan Aimee Saras.
Hannah Al Rashid, yang memerankan sahabat Meutya, berharap agar film ini tidak hanya menginspirasi banyak orang. Akan tetapi dapat juga membuka mata masyarakat dan pemerintah terkait biaya program bayi tabung.
“Mungkin dengan adanya film ini, pemerintah bisa mempertimbangkan kebijakan seperti subsidi untuk program bayi tabung. Bahkan memperluas cakupan asuransi kesehatan agar lebih banyak pasangan yang terbantu," harapnya.
Film yang diproduksi Paragon Picture dan Ideosource ini adalah pengingat bahwa anak bukan hanya tujuan hidup, tetapi juga doa dan harapan yang baik.
Kisah ini diharapkan memberikan semangat bagi banyak pasangan yang tengah berjuang untuk menjadi orangtua.
Film ini akan tayang pada 2025. (Z-1)
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Aktris utama Dian Sastrowardoyo dilaporkan mengalami insiden jatuh dari kuda saat menjalani salah satu adegan penting saat syuting film Esok Tanpa Ibu.
Sutradara Timur Bekmambetov menjelaskan bahwa MERCY dirancang untuk memadukan ketegangan cerita dengan pendekatan visual berbasis layar digital atau Screenlife.
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Meski berhasil memecahkan rekor untuk produksi Hollywood, Zootopia 2 harus mengakui keunggulan film animasi asal Tiongkok, Ne Zha 2.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebanyak 22 persen pengguna internet di Indonesia pernah mengalami penipuan daring.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid meraih penghargaan Outstanding Public Service Innovations (OPSI) KIPP Tahun 2025.
Pemerintah memperkuat upaya perlindungan terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) sejak tahap paling awal, yakni proses pencarian kerja di ruang digital.
Meutya Hafid mengatakan pemulihan layanan komunikasi menjadi prioritas pemerintah untuk memastikan kebutuhan warga dan koordinasi penanganan bencana tetap berjalan.
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) di sektor pertanian mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penggunaan pupuk
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia harus berlandaskan nilai dan etika.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved