Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH memasuki tahap penjurian awal dan telah tersaring 30 judul film panjang, FFI 2024 saat ini tengah memasuki proses penjurian tahap berikutnya yang akan melibatkan para asosiasi film, hingga kemudian Akademi Citra, sebelum daftar pendek nominasi diserahkan ke dewan juri akhir. FFI 2024 akan melaksanakan Malam Nominasi pada Oktober dan Malam Anugerah pada 20 November di Jakarta.
Baca juga : Revitalisasi Seni Tradisional Diharapkan Jaga Masa Depan Kebudayaan Indonesia
Dalam penyelenggaraan ajang penghargaan ke-44, Ario Bayu yang kini menjabat sebagai Ketua Komite FFI 2024–2026 mengutarakan semangat yang ingin dibawa adalah perayaan penghargaan FFI bisa memberikan dampak pada lanskap kebudayaan, seni, dan ekonomi.
Pihaknya ingin menggandeng seluruh ekosistem perfilman. Terlepas dari dikotomi film yang kuat secara seni dan artistik serta film populer, ia pun mengutarakan FFI juga mengakomodasi film-film populer dengan menghadirkan kategori favorit penonton yang bisa dipilih berdasarkan voting publik.
“FFI sebagai fasilitator, kami menilai ada pertanggungjawaban administrasi. Tantangannya adalah upaya dan semangatnya bisa menilai seideal mungkin, film berbasis meritokrasi. Film-film yang ada di FFI itu bisa mencerminkan masyarakat kita saat ini,” kata Ketua Komite FFI 2024–2026 Ario Bayu saat wawancara terbatas dengan media di The Darmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis, (26/9).
Baca juga : Mendorong Perubahan Melalui Kesenian
Sebagai ruang untuk mencari narasi tentang film Indonesia, Ario Bayu pun menilai pencariannya begitu dinamis dan tidak pernah selesai. Untuk mendeskripsikan cakrawala sinema Indonesia, dalam penjurian, FFI pun melibatkan banyak pihak.
“Ada asosiasi, lalu setelah ada daftar film-film yang terpilih, juga ada proses penilaian dari tim Akademi Citra—mereka yang pernah meraih Piala Citra—yang sudah punya merit, hingga akhirnya terseleksi lagi untuk diajukan ke dewan juri akhir,” lanjut Ario.
Dalam proses penyempurnaannya, Ario ingin tetap menjaga ruang demokrasi dengan menjunjung integritas melalui seni. Para juri yang terlibat, tidak boleh memiliki kepentingan pribadi. Ario dan tim komitenya berupaya menciptakan mekanisme untuk menjaga objektivitas, termasuk dengan tahap kuratorial awal.
Baca juga : Diwawancara Ustaz Felix Siauw, Rhoma Irama Mengaku Pernah Minum Bir
Untuk tetap bisa melibatkan seluruh ekosistem film yang bukan saja diakui secara capaian artistik namun juga capaian lain yang memberi dampak ekonomi, FFI 2024 juga tetap mempertahankan kategori pilihan favorit penonton untuk memberi ruang bagi film-film populer.
“Kalau berbicara film, ada dampak ke lanskap kebudayaan dan ekonomi, yang berpengaruh terhadap PDB Indonesia dan lapangan pekerjaan. Ada dikotomi antara yang seni dan populer juga. Film-film populer, harus diakui juga turut memberikan kontribusi yang tinggi terhadap ekonomi. Namun semua film yang diproduksi insan film memiliki unsur tersebut. Sebabnya FFI juga ada kategori favorit yang dipilih dengan voting oleh penonton, untuk menyeimbangkan industrinya.”
“Objektinya harus berdampak pada kebudayaan, seni, dan ekonomi. Itu fungsi festival film. Misal, program yang dibuat oleh Ketua Pelaksana FFI 2024 Prilly Latuconsina, dengan strateginya membangkitkan gairah di akar rumput, lewat FFI Goes to Campus. Sebuah ide yang juga berdampak pada literasi film. Lalu, untuk Malam Anugerah, kami juga menghadirkan ruang-ruang inovasi yang terus kami strategikan untuk lebih menarik, apa yang ingin diperlihatkan ke publik,” jelas Ario Bayu. (M-4)
LOMBA foto bertajuk Pesta Rakyat yang diselenggarakan Komunitas Fotografi Media Indonesia, Dari Balik Lensa (DBL), sudah memasuki tahap penjurian.
The King's Warden sendiri merupakan sebuah drama sejarah atau sageuk yang mengangkat kisah emosional Raja Danjong, raja keenam dari Dinasti Joseon yang penuh dengan intrik politik.
Leo Pictures perkenalkan 10 aktor baru hasil online casting untuk film Jangan Buang Ibu. Simak daftar pemain dan perjalanan sukses Saputra Kori di sini.
Rio Dewanto menegaskan bahwa Pelangi di Mars dirancang agar pesan dan ceritanya dapat dicerna dengan baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Dalam film Jangan Buang Ibu, Nirina Zubir bertransformasi secara drastis untuk memerankan karakter Ristiana melalui tiga fase usia yang berbeda.
Bagi Reza Rahadian, bergabung dalam jagat sinema Suzzanna merupakan penantian yang cukup panjang.
Mengisi suara karakter robot bernama Batik, Bimo tidak hanya sekadar memberikan vokal mekanis, melainkan menghadirkan sosok pelindung yang terinspirasi dari realitas kehidupan keluarga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved