Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH membicarakan bagaimana menyikapi tabir dusta dalam asas percintaan melalui single I Know, bulan lalu, trio asal Surabaya Thee Marloes, kini hadir kembali dengan lagu baru berjudul Mungkin Saja.
Meski lagunya up tempo dan dikemas dengan balutan elemen musik funk, Mungkin Saja merupakan curahan untuk menyikapi usia yang bertambah, namun banyak rencana yang gagal. Kehilangan kepercayaan keluarga, teman dekat, bahkan diri sendiri.
"Lagu ini merupakan sebuah kecaman bukan hanya untuk yang mendengarkan tapi untuk diri sendiri juga. Seiring bertambahnya usia, banyak perubahaan yang kita alami. Dari apa yang kita sukai, cara kita berpikir sampai membawa diri. Dalam proses tersebut, kita tidak bisa memungkiri bahwa ada orang-orang yang mungkin tidak menyukai itu, yang pada akhirnya mengakibatkan hubungan kita bisa renggang dengan beberapa orang. Tapi itu mungkin salah satu proses pendewasaan yang pastinya akan terjadi oleh siapapun, kapanpun, dan mungkin juga sedang terjadi ama kita," jelas Thee Marloes mengenai single baru mereka itu
Baca juga : Gandeng Andien, Basboi Rilis Single Pesona
Selain merupakan salah satu lagu yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Mungkin Saja, dibuat secara spontan di studio dan langsung direkam pada saat itu juga dan dengan lirik yang disempurnakan beberapa minggu setelahnya.
Baca juga : Rayakan Ulang Tahun Ke-17, Nadine Fatiana Rilis Single Limits
Bagi Thee Marloes, lagu ini juga merupakan sebuah alternatif pada album perdana mereka nanti yang dari segi lirik tidak membahas topik percintaan.
Perilisan single Mungkin Saja juga dilengkapi dengan sebuah video klip yang menampilkan ketiga personel Thee Marloes sedang mengendarai mobil menuju sudut kota lama Surabaya dan pelabuhan Tanjung Perak.
Alasan mengapa lanskap Surabaya diperlihatkan memiliki makna dan cerita personal bagi masing-masing personel Thee Marloes sebagai kota kelahiran dan bertumbuh selama 30 tahun terakhir.
Baca juga : Slchld Rilis Single Care
Pemilihan destinasi lokasi terakhir yang berada di sekitaran Pelabuhan Tanjung Perak, juga sekaligus menyesuaikan dengan judul album perdana mereka nanti Perak.
Perak merupakan album yang mencangkup kisah perjalanan para personel Thee Marloes dari Kota Surabaya yang dirangkum ke dalam lagu-lagu bernuansa soul.
Kehadiran album ini juga bukan semata-mata ada untuk menandakan karier bermusik mereka, namun juga bertujuan untuk menciptakan sebuah wadah yang sebelumnya tidak ada.
Baca juga : Sambut Usia Baru, Nadhif Basalamah Rilis Single Sesuatu
Pembuatannya juga didasari atas kecintaan para personilnya dalam membuat karya musik. Saat mendengarkan musik Thee Marloes, akan sangat terdengar jelas bahwa mereka sangat menikmati setiap proses yang dilewati, mulai proses penulisan, rekaman, sampai akhirnya mereka membawakan lagu-lagu ciptaan mereka secara langsung di depan para penonton.
"Kami ingin membagikan apa yang kami lalui di kehidupan ini," ungkap Natassya, selaku vokalis.
Tanpa memperdulikan banyak mengenai latar belakang, batasan bahasa atau asal usul budaya masing-masing orang, musik dan energi yang diberikan oleh Thee Marloes pada setiap lagunya dapat melekat dan dimainkan di meja putar piringan hitam selama bertahun-tahun. Album perdananya
Thee Marloes saat ini menjadi salah satu grup musik yang sedang ramai dibicarakan di industri musik Indonesia. Mereka telah diundang untuk tampil di sejumlah festival musik ternama di Indonesia termasuk Joyland Festival yang digelar di Jakarta dan juga Synchronize Festival di tahun 2023.
Dengan tingginya antusiasme dan juga sebuah fanbase yang tengah berkembang, tahun ini akan menjadi tahun di mana para penggemar Thee Marloes bisa mengantisipasi banyak kejutan, terutama menuju perilisan album Perak. (Z-1)
Westlife tampil di Indonesia dalam konser bertajuk A Gala Evening, yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), BSD City, Selasa (10/2) malam.
Alih-alih narasi perpisahan yang penuh amarah atau pertikaian, lagu Berjarak dari Cocolite memotret fase persimpangan ketika dua orang yang saling mencintai mulai merasa lelah dan bimbang.
Cakra Khan menilai bahwa setiap komposisi lahir dari tujuan dan makna mendalam yang tidak boleh luntur begitu saja.
Keberhasilan ini membawa Work dari No Na langsung melesat ke posisi puncak Trending YouTube Music Indonesia dan peringkat pertama iTunes Indonesia.
Lagu Born in February dari WUSS merupakan narasi perlawanan terhadap stigma bahwa menjadi yang kedua berarti menjadi bayangan atau pengganti.
Sebagai pemenang Grand Prix dari 48.000 peserta, LIL LEAGUE kini memosisikan diri sebagai representasi energi segar bagi generasi baru pop Jepang.
Alih-alih narasi perpisahan yang penuh amarah atau pertikaian, lagu Berjarak dari Cocolite memotret fase persimpangan ketika dua orang yang saling mencintai mulai merasa lelah dan bimbang.
Keberhasilan ini membawa Work dari No Na langsung melesat ke posisi puncak Trending YouTube Music Indonesia dan peringkat pertama iTunes Indonesia.
Lagu Born in February dari WUSS merupakan narasi perlawanan terhadap stigma bahwa menjadi yang kedua berarti menjadi bayangan atau pengganti.
Lagu Sementara atau Selamanya dari Trisouls menyentuh sisi kerentanan seseorang saat memendam kekaguman dan kegugupan yang melanda ketika ingin mengungkapkan perasaan.
Berbeda dengan dua pendahulu dari Indra Dinda, Turun Di Sini Dulu hadir dengan sentuhan aransemen musik pop alternatif.
Berbeda dengan lagu religi pada umumnya yang sarat akan pesan tersurat, Hidup Tanpa Kata justru menonjolkan kekuatan dalam kesunyian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved