Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DESAKAN kepada pemerintah dan DPR RI agar menuntaskan kasus penculikan dan penghilangan paksa para aktivis prodemokrasi pada 1997-1998 kembali disuarakan. Kali ini, suara desakan itu disampaikan sejumlah aktivis dan musisi seperti Usman Hamid bersama kelompok musik The Blackstones, Once Mekel, dan Fajar Merah.
Mereka meluncurkan lagu hasil kolaborasi teranyar mereka pada ajang festival musik Amnesty Interna=onal Indonesia yang digelar di Pos Bloc, Gedung Filateli, Pasar Baru, Jakarta, Minggu (3/12). Lagu kolaborasi berjudul “Kemanakah” bercerita soal keluarga korban dari para aktivis yang diculik dan hilang pada 1997/1998.
Lagu ini ditulis Usman Hamid dan Denny Setiawan. Usman mengajak musisi Fajar Merah untuk mengaransemen lagu tersebut dan menyanyikannya secara bersama. Beberapa bagian lirik di lagu tersebut dibawakan oleh Once.
Baca juga: Amnesty Minta Isu HAM Warnai Debat Capres-Cawapres
“Lagu ini ditulis ketika saya mendampingi Dyah Sujirah atau Sipon untuk mencari keberadaan dan kejelasan suaminya, Wiji Thukul. Tapi ini juga tentang Tuti Koto, ibunda Yani Afri, atau Paian Siahaan yang mencari kejelasan nasib anak-anaknya yang diculik dan belum ditemukan hingga kini,” jelas Usman.
“Kami mendesak agar pemerintah dan DPR RI menuntaskan kasus ini. Apalagi sudah ada empat rekomendasi DPR RI pada tahun 2009. Pemerintah wajib membentuk pengadilan ad hoc HAM, mencari dan menemukan kejelasan nasib mereka, menyediakan reparasi untuk korban, serta meratifikasi konvensi PBB tentang orang hilang,” tambah Usman.
Baca juga: Kata 'HAM' di Dokumen Visi Misi Prabowo-Gibran Paling Sedikit
Beberapa penggalan lirik lagu berbunyi: keserakahan/kekuasaan/hilangkan paksamu/Bahagia ku kau hempaskan/ kemanakah/aku harus mencari/Dan di mana/Di mana engkau kini.
Penyanyi Once menyambut baik kolaborasi tersebut. “Senang sekali bisa tampil membawakan beberapa lagu bareng Usman Hamid and the Blackstones di event yang penting ini. Khususnya di saat awan mendung sedang ada di atas demokrasi indonesia. Tidak ada penghormatan atas hukum, moral dan etika. Adanya event ini bisa mencerahkan masyarakat bahwa apa yang benar tetap benar dan demikian juga sebaliknya,” kata Once.
“Rightsfest tadi bagus banget. Menggugah, mengingatkan kembali masalah-masalah penting terkait hukum dan penegakan hak asasi yang belum terselesaikan. Dengan banyaknya anak muda yang terlibat sebagai penyelenggara dan penonton kita berharap obor estafet perjuangan hak masyarakat bisa terus dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, agar semangat itu tidak akan padam,” tutupnya.
Di kesempatan yang sama, Fajar menjelaskan alasan dia membacakan puisi kritik sosial. “Saya merasa bahwa kemanusiaan saat ini memang diliputi kebencian dan kepalsuan. Harapanku adalah dengan membaca itu manusia tidak lupa cara menjadi manusia dan memanusiakan manusia, khususnya untuk diriku sendiri,” kata Fajar.
Pada ajang festival musik Amnesty International, Usman and The Blackstones memainkan lagu-lagu mereka secara live. Dari sekitar panggung, enam lagu yang mereka mainkan memperoleh sambutan hangat penonton yang kebanyakan berusia muda. Pada lagu pertama, “Sakongsa”, Usman mengatakan lagu itu dibuat karena kasus Sambo dan rusaknya penegakan hukum.
Lagu kedua “Munir” dibawakan bersama Once. Once semangat meneriakkan beberapa bagian lirik yang berbunyi: “Perjuangan tak lekang sampai penghabisan/Aku ada dan berlipat ganda.”
Usman dan kelompok musiknya juga membawakan lagu anyar yang didedikasikannya kepada para aktivis seperti Haris Azhar, Fatia Maulidyanti, hingga Bang Long di Rempang dan Mama Yosefa Alomang di Papua. Lirik lagu ini berbunyi: “Negara hukum diinjak/oleh korupsi, kolusi/nepotisme rezim dinasti/di negara pemuja kuasa/ulasan investigasi dianggap menghina/di negara yang memuja harta/demonstrasi pun dianggap subversi kuasa. (RO/Z-7)
60 pencipta lagu yang tergabung dalam Garda Publik Pencipta Lagu (Garputala) melaporkan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
SPOTIFY resmi merilis Wrapped 2025 untuk para pendengar di seluruh dunia. Setiap tahunnya, Spotify Wrapped merangkum perjalanan mendengarkan musik dan podcast
PADI Reborn akhirnya resmi meluncurkan single terbarunya, Ego, pada Jumat, (7/11). Single ini menjadi pembuka album terbaru mendatang berjudul Dua Delapan.
Pada 1996, James F Sundah bersama Titiek Puspa, bekerja sama dengan member band legendaris Scorpions, Klaus Meine dan Rudolf Schenker.
Lagu Omoide Scroll kini telah dirilis di layanan streaming sebagai singel resmi ke-67 AKB48, sementara lagu ciptaan asli Akimoto berjudul Cécile telah dihapus dari YouTube.
Dengan hook Piipapii papipo yang glitch, chorus yang penuh gula, dan produksi chaos-pop, Punks adalah sebuah uppercut sonik.
Tak Kancani terinspirasi dari pertemuan Ndarboy Genk dengan para musisi tunanetra yang mengamen di sudut-sudut Yogyakarta.
Melalui unggahan di media sosial, Harry Styles membagikan sampul album terbarunya.
Berkolaborasi dengan TransJakarta, Nidji menghadirkan instalasi interaktif bertajuk Booth Manifestasi Hati 2026 di tiga titik strategis transportasi publik ibu kota.
Lagu Hati Bertali dari Bumiy hadir bukan sekadar sebagai rilisan musik biasa, melainkan sebuah ruang refleksi dan penguat jiwa bagi mereka yang tengah diuji oleh perpisahan.
Musisi legendaris Sting dilaporkan telah membayar lebih dari setengah juta pound sterling kepada mantan rekan bandnya di The Police, Andy Summers dan Stewart Copeland.
Rencananya, konser LUX NOVA dari KLa Project akan dihelat pada 7 Februari 2026 di Balai Sarbini, Jakarta Pusat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved