Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
GOL A Gong, penulis novel Balada Si Roy, mengaku senang karena karyanya akhirnya diadaptasi menjadi film dan akan ditayangkan pada hari ini, Rabu (18/1).
"Fajar itu datang tahun 98, syutingnya 2021. Saya hampir pesimistis juga. Kayaknya kutukan Roy ini memang akan terus berlangsung. Tapi hari ini akhirnya kita di sini," ujar Gong, dikutip Rabu (18/1).
Menurut Gong sendiri, mengadaptasi novelnya menjadi sebuah film cukup berisiko. Oleh sebab itu, kini, Gong merasa sangat bersyukur kisah Roy bisa diadaptasi dengan baik menjadi sebuah film oleh Fajar Nugros dan IDN Pictures.
Baca juga: Perjuangan Fajar Nugros Merayu Gol A Gong demi Film Balada Si Roy
"Membuat Balada Si Roy itu berisiko. Karena di situ ada bullying. Istilahnya Roy itu nggak suka sekolah. Itu memang terjadi. Kenapa Roy dihentikan, karena mempengaruhi anak-anak saat itu. Nggak mau sekolah. Banyak protes dari emak-emak. Terutama di Kalimantan dan Sulawesi," jelas Gong.
Di sisi lain, sutradara Fajar Nugros menjelaskan istilah 'kutukan' sendiri diucapkan oleh Gol A Gong. Namun, meski demikian, Fajar memang sangat tertarik dengan cerita Balada Si Roy dan sudah lama ingin mengangkat ceritanya menjadi sebuah film.
"Kalau soal kutukan, itu istilahnya Mas Gong sebenarnya. Tapi kalau bagi saya, kadang sebagai sutradara itu kan punya keinginan kayak jenjang karier saya nyampe nggak ya untuk mengangkat cerita-cerita yang dulu saya baca," terang Fajar.
"Sebenarnya terlintasnya itu ketika Mas Gong lagi posting di Twitter dia sedang ada di Kamboja. Saya DM Balada Si Roy masih available nggak untuk saya filmkan. Terus katanya kalau tertarik ke rumah saja. Akhirnya saya sama Santi ke Serang," imbuhnya.
Namun ternyata, menggarap Balada Si Roy memang tidaklah mudah. Fajar sendiri mengaku mengalami beberapa kendala saat prosesnya.
Menanggapi hal tersebut, Gong tetap bersyukur Fajar menggarapnya dengan serius. Sehingga Fajar pun dapat menyelamatkan kisah Balada Si Roy.
"Tapi, setelah dia mengatakan iya, baru bisa difilmkan 2 tahun kemudian. Ketika mau difilmin, pandemi. Jadi kita mundur lagi. Setelah pandeminya agak reda di awal 2021, baru bisa kita syuting pertama kali. Pas mau dirilis, mundur 2 kali atau 3 kali," ungkap Fajar.
"Ketika Fajar dan Santi datang, saya pikir kayaknya ini deh yang akan mencabut kutukannya. Karena mereka serius," timpal Gong. (Ant/OL-1)
Banyak karya akademik yang ia tangani berubah menjadi buku yang lebih komunikatif dan dapat dibaca masyarakat luas.
IRCOMM Group menghadirkan program khusus bagi peneliti dan akademisi. Sebanyak 12 penulis terpilih yang berhasil submit dan lolos tahap editorial review akan mendapatkan sejumlah manfaat.
Menurut Oh Su Hyang, berbicara itu bukan hanya tentang menyusun kata tapi juga bagaimana berbicara itu bisa memikat orang atau bahkan bermakna bagi orang.
PENULIS asal Korea Selatan, Oh Su Hyang, yang dikenal lewat buku laris Bicara Itu Ada Seninya, ternyata punya kebiasaan yang luar biasa yaitu membaca hingga 70 buku setiap bulan.
Dikenal lewat bukunya yang populer Bicara Itu Ada Seninya, Oh Su Hyang ternyata punya masa kecil yang jauh dari kata mudah.
Prof Agus telah menulis dan menerbitkan 11 buku yang membahas berbagai topik seputar politik, keamanan, dan hubungan internasional.
"Gitaris band Edane dan salah satu gitaris terbaik di Indonesia. Ternyata, beliau kan mengisi part gitar lagu yang saya buat. Waktu itu, otak saya sampai nge-hang lama banget."
Lulu Tobing berperan sebagai Astuti, ibu Roy di film Balada Si Roy.
Butuh dua tahun hingga akhirnya film bisa dibuat.
Pipik mengatakan dirinya sudah berpesan kepada Abizar untuk menjadikan dunia hiburan sebagai jalan dakwah.
"Ketika film ini rilis pada 2023 dan orang mulai bertanya, keluarga muslim punya anjing emang boleh? Apalagi pemainnya anak ustaz."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved