Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PERKEMBANGAN industri hiburan khususnya dunia sineas tentu tidak luput dari kerja keras para filmmaker, cinematographer, videografer, serta divisi lain yang kompeten di bidangnya untuk menciptakan produk visual yang memicu emosi, memberi pesan atau makna, serta memikat penonton.
Rayhan Farqi sebagai filmmaker muda asal Bandung memahami betapa pentingnya kualitas sinematografi untuk mengekspresikan dan mengeksplorasi ide-ide melalui media film serta konten konkret lainnya.
Farqi mendirikan dua rumah produksi untuk menyokong produksi karya-karya audiovisual dengan fokus berbeda, yaitu perusahaan Studio Sinema (@studiosinema) dan Small Space (@smallspacetv).
Studio Sinema adalah perusahaan produksi layanan lengkap, mulai dari storyboard hingga film dengan pendekatan orisinalitas dan kreativitas. Farqi berkomitmen untuk menghidupkan ide-ide dengan konten sinematik berbasis naratif asli melalui kerja produksi yang dapat diandalkan.
Sementara Small Space adalah platform musik yang mewadahi para seniman serta musisi untuk merilis musik dengan bahasa visual yang mereka impikan. Farqi dan tim bekerja untuk mengembangkan seni multidimensi, memadukan melodi, seni visual, dan bercerita dari berbagai pertunjukan musik live sebagai kreator.
"Saya merasa perlu 'terjun' sekarang karena lanskap media berubah dengan sangat cepat; memberdayakan audiens dengan pilihan-pilihan yang belum pernah ada sebelumnya. Hanya beberapa filmmaker yang telah menemukan cara untuk berbicara 'bahasa' yang berkembang dari generasi ini tanpa memudar menjadi white noise. Saya merancang diri saya untuk bekerja secara artist-friendly above all else dan tetap menganut kualitas tertinggi di setiap karya dengan ide-ide yang tidak konvensional." Kata Farqi.
Baca juga : Polda Bali Terjunkan Tim Food Safety bagi Delegasi KTT G20
Farqi merangkap sebagai Director, Cinematographer, Editor, dan Colorist. Sejak 2018, Farqi sudah berkarya dalam pembuatan video untuk berbagai musisi lokal ternama termasuk Efek Rumah Kaca, Elephant Kind, Agatha Pricilla, GANGGA, Loner Lunar, Feel Koplo, White Corus, Oscar Lolang, Mojowojo, dan banyak lagi.
Beberapa karya lainnya berupa dokumenter dan series, termasuk mini-documentary Miss Earth Indonesia 2020, series live performance Hindia dan .Feast di berbagai panggung yang mereka mainkan, limited series Loner Lunar untuk menutup album pertama mereka, aftermovie D13HARD Festival, branded video MUSAT, dan berbagai karya kolaborasi lainnya dengan pelaku seni ternama di Indonesia.
Farqi juga pernah dinobatkan sebagai Finalis dari CAP Jabar (Curated Amazing Product for Jawa Barat): Creative Media Award 2021 karena hasil karya dokumenter edukasionalnya terkait Penyakit Cleft Lip and Palate yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran.
"Saya bertujuan untuk mewujudkan sesuatu yang rasanya sangat personal bagi saya. Saya adalah penggiat on-demand bagi para pelaku seni dan proyek perfilman yang tanpa pamrih ingin menyampaikan sesuatu untuk (dan bersama) masyarakat; yakni emosi, perasaan, dan pengalaman yang menghubungkan kita semua. In this overstimulated time, saya berfokus untuk mengembangkan dan menumbuhkan ekspresi-ekspresi mentah menjadi sesuatu yang impactful dalam media film atau konten video." Jelas Rayhan Farqi.
Awal karir sebagai fotografer di awal 2017. Farqi kemudian mulai tertarik pada seni gambar yang bergerak dari film-film yang menginspirasinya. Ia pun merasa tertantang untuk menjadi filmmaker Indonesia dengan kualitas internasional.
Saat ini Farqi juga sedang fokus mengerjakan projek yang akan dibawa ke berbagai festival film di tahun 2023 mendatang. Beberapa klip serta teaser karyanya dapat diakses melalui Instagram @rayhanfarqi dan laman rayhanfarqi.com. (RO/OL-7)
Berbeda dengan Legaly Blonde yang berlatar dunia hukum dan universitas, serial Elle akan membawa penonton kembali ke masa SMA.
Megan Domani mengungkapkan bahwa peran Annisa memberikan tantangan tersendiri, terutama dari sisi pendalaman karakter yang memiliki latar belakang keluarga yang kompleks.
Revalina S Temat membagikan pengalamannya menghadapi tuntutan peran yang menguras energi di film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?
Bukan sekadar drama rumah tangga biasa, film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? dirancang sebagai sebuah eksplorasi spiritual dan perjalanan batin seorang perempuan.
Beby mengungkap cerita dalam film Tolong Saya! (Dowajuseyo) lahir dari kejadian mistis yang ia alami saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Indonesia di Korsel.
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Rapper 50 Cent menyetujui penyelesaian gugatan sipil terkait dugaan penyerangan hanya beberapa hari sebelum Netflix merilis dokumenter mengenai Sean “Diddy” Combs.
Taylor Swift membagikan cerita hubungannya dengan Travis Kelce dalam teaser docuseries The End of an Era. Ia menyebut tunangannya itu sebagai “kejutan terbesar” dalam hidupnya.
Victoria Beckham buka-bukaan di serial Netflix terbarunya tentang rahasia di balik ekspresi dingin, perjuangan karier, dan tekanan sebagai desainer sukses.
Raja Charles merilis dokumenter “Finding Harmony” di Prime Video, menyoroti filosofi hidup selaras dengan alam demi masa depan berkelanjutan.
Bersamaan dengan penayangan dokumenternya, Simple Plan juga menghadirkan sebuah soundtrack resmi film ini dan telah dirilis pada 11 Juli lalu.
Melalui interaksi langsung dengan pasien ALS dan keluarga mereka, Vino G Bastian mendapatkan pemahaman mendalam tentang tantangan fisik dan emosional yang dihadapi pejuang ALS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved