Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
Weda adalah nama dari talenta baru di Industri musik Indonesia. Bulan ini, penyanyi/penulis lagu ini baru saja merilis single debutnya bertajuk “To Die For” di bawah label Semesta Musik Indonesia pada akhir pekan lalu.
Lahir di Surabaya, penyanyi yang punya nama lengkap Wedananda Mahawira Ciptawan ini sebetulnya bukanlah nama yang asing di dunia layar lebar. Sederet film telah ia bintangi, diantaranya Mengejar Surga, Kajeng Kliwon dan yang terbaru ini adalah Musyrik.
Namun musik ternyata bukan sesuatu yang asing bagi aktor muda ini. Sejak belia, ia telah mengikuti lomba tarik suara. Selama itu juga, penyanyi ganteng berambut agak panjang ini ternyata menyimpan bakat menulis lagu. Puluhan lagu telah ia tulis dan ia kantongi untuk bekal seandainya ada produser yang mau meliriknya.
Gayung bersambut. Di sela-sela penggarapan film Musyrik, Weda dikenalkan dengan musisi Rian Ekky Pradipta. Rian yang populer dan dikenal sebagai penyanyi utama dan penulis lagu untuk band D'Masiv ini melihat bakat terpendam dari Weda, lebih dari sekadar akting.
“Dari ngobrol dan mendengar ia bernyanyi, saya melihat sesuatu yang unik yang ada dalam dirinya. Ia punya jenis suara yang khas yang tidak saya temui di penyanyi lain,” ujar Rian.
Akhirnya tanpa pertimbangan panjang, Rian pun akhirnya menulis lagu baru untuk dinyanyikan oleh Weda bertajuk “To Die For”. Single yang awalnya diperuntukkan sebagai original soundtrack bagi film Musyrik ini akhirnya juga menjadi debut single dari Weda sendiri.
Meskipun “To Die For” ditulis oleh Rian, namun lagu ini sendiri bercerita soal hubungan percintaan yang relate dengan apa yang dirasakan Weda sebagai remaja. Bahkan lagu yang isinya berbahasa Indonesia ini diberikan ‘sentuhan’ sedikit di judul oleh Weda, menjadikan lagu ini punya nuansa kekinian.
Penggarapan single “To Die For” sendiri memakan waktu yang tidak terlalu lama. Dalam prosesnya, Rian pun mengenalkan Weda kepada Rayen Pono. Rayen yang dikenal sebagai penyanyi sekaligus vocal coach Indonesian Idol ini didapuk menjadi arranger dan pengarah vokal Weda.
“Aku merasa mas Rayen benar-benar tahu bagaimana karakter vokalku dan ia bisa mendorong segenap kemampuan bernyanyiku dengan mengajarkan berbagai teknik vokal yang aku sebelumnya tidak terlalu mengerti,” kesan Weda akan kehadiran Rayen.
Bervisi jelas
Lebih jauh lagi Rian melihat sosok Weda sebagai penyanyi yang punya visi yang jelas. Ia tahu bahwa sosoknya akan seperti apa kelak.
“Tidak seperti penyanyi baru yang kadang tidak tahu arahnya mau seperti apa, saya melihat Weda punya visi dan misi ke depan yang cukup clear. Dari referensi musik yang jelas sesuai dengan umurnya, ia tahu dan mampu memvisualkan dirinya bakal menjadi penyanyi seperti apa nantinya,” jelas Rian.
Sekadar informasi, “To Die For” sendiri adalah karya teranyar Rian, baik sebagai produser dan penulis lagu. Sebelumnya, ia telah terlebih dahulu menggarap lagu untuk beberapa penyanyi dan band antara lain Rossa, Afgan, Nidji dan Noah.
Bersama label miliknya, Semesta Musik Indonesia, Rian juga akan menyiapkan beberapa rencana untuk Weda sendiri, salah satunya adalah mempersiapkan album penuh yang berisi lagu-lagu ciptaan Weda sendiri.
Semoga kehadiran Weda dengan single “To Die For” bisa memberikan warna baru bagi kanvas musik Indonesia. (OL-12)
Melalui Static Mind, Blind Phase mencoba memotret kondisi mental yang penuh kebisingan, sebuah situasi di mana pikiran terus berputar di antara fluktuasi emosi tanpa jeda.
Nama Theresa Kusumadjaja bersanding dengan jajaran sineas dan musisi global dalam kategori yang sangat kompetitif, yakni Best Music Video.
Scoring dari film Phantom Thread, yang dikomposisi oleh Jonny Greenwood dan disutradarai oleh Paul Thomas Anderson, muncul dalam film dokumenter Melania tanpa izin.
Berbeda dengan versi aslinya yang kental dengan nuansa pop-rock era 90-an, Chandra Satria membawa nyawa baru ke dalam lagu Dan.
Bagi Sayap Lepas, musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan rasa dan cerita secara tulus.
Westlife tampil di Indonesia dalam konser bertajuk A Gala Evening, yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), BSD City, Selasa (10/2) malam.
Melalui Static Mind, Blind Phase mencoba memotret kondisi mental yang penuh kebisingan, sebuah situasi di mana pikiran terus berputar di antara fluktuasi emosi tanpa jeda.
Berbeda dengan versi aslinya yang kental dengan nuansa pop-rock era 90-an, Chandra Satria membawa nyawa baru ke dalam lagu Dan.
Bagi Sayap Lepas, musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan rasa dan cerita secara tulus.
Alih-alih narasi perpisahan yang penuh amarah atau pertikaian, lagu Berjarak dari Cocolite memotret fase persimpangan ketika dua orang yang saling mencintai mulai merasa lelah dan bimbang.
Keberhasilan ini membawa Work dari No Na langsung melesat ke posisi puncak Trending YouTube Music Indonesia dan peringkat pertama iTunes Indonesia.
Lagu Born in February dari WUSS merupakan narasi perlawanan terhadap stigma bahwa menjadi yang kedua berarti menjadi bayangan atau pengganti.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved