Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
YUK isi libur lebaran dengan menyaksikan film terbaru hasil kolaborasi Visinema Pictures dan Aenigma Pictures, yang berjudul Tarian Lengger Maut.
Dibintangi oleh Refal Hady dan Della Dartyan, film yang disutradarai Yongki Ongestu ini akan menyajikan cerita yang kaya akan informasi budaya tentang tari lengger, sebuah tarian tradisional asal Banyumas.
Selain itu, masih ada hal-hal seru lainnya, yang bikin kamu harus nonton film yang mulai tayang di bioskop pada 13 Mei 2021 ini. Berikut 5 alasan kenapa kamu harus nonton film Tarian Lengger Maut.
Persiapan yang tak biasa
Sebelumnya, film ini berjudul Detak. Namun Visinema Pictures bersama Aenigma Pictures mencoba untuk mengeksplor lagi film ini, sehingga muncullah judul Tarian Lengger Maut.
Lalu apa yang membedakan film ini? Tentu saja akan ada hal-hal yang akan lebih greget dan memberikan pengalaman baru bagi penonton, seperti yang disampaikan oleh Angga Dwimas Sasongko selaku eksekutif produser Visinema Pictures.
“Dua bulan terakhir, tim Visinema dan Aenigma bekerja keras supaya film ini lebih punya experience ketika tayang di bioskop,” ungkap Angga.
Mengangkat budaya di Indonesia
Bukan sekedar cerita, tetapi film Tarian Lengger Maut juga akan membuat kamu tahu bahwa Indonesia tuh punya budaya tradisional yang namanya tarian lengger loh.
Nah, buat kamu yang belum tahu, akan jadi tahu setelah menyaksikan film ini. Sementara yang baru tahu sedikit, akan tahu lebih banyak dari film ini.
Apalagi ada beberapa stigma negatif tentang tarian ini. Di film ini kamu akan melihat perspektif yang berbeda tentang tarian lengger. Seperti yang diungkap oleh sang sutradara, Yongki Ongestu.
“Stigma tarian lengger kan banyak yang negatif, kita mau coba angkat dari perspektif yang berbeda dan buat bagaimana supaya anak muda pengin nonton. Dan juga karena ini pengin angkat budaya kita kolaborasi dengan seniman lokal,” ujar Yongki.
Melibatkan banyak seniman dan pekerja kreatif lokal
Seperti yang sudah disebutkan oleh Yongki Ongestu, film ini memang melibatkan banyak seniman lokal. Bukan hanya senimannya saja, tetapi juga pekerja kreatifnya langsung melibatkan dari daerah lokal.
“Visi kita berusaha untuk selalu bisa direct impact kepada pekerja kreatif dan budaya Indonesia setiap kali kita produksi film atau projek apapun. Di Tarian Lengger Maut ini visi kita membangun pekerja kreatif di daerah yang sangat talented,” kata Aryanna Yuris, produser Aenigma Pictures.
Sekitar 70% filmmaker yang terlibat berasal dari tim lokal. Kemudian juga melibatkan banyak seniman lokal yang ikut masuk di dalam film.
“Kita juga mau mengangkat Banyumas. Kita juga langsung melibatkan seniman lokal karena kita percaya untuk memberi direct impact bukan cuma menceritakan tentang mereka, tapi juga memperlihatkan bagaimana mereka bisa hidup dari skill dan profesi mereka,” lanjut Aryanna.
Bukan film horor
Kalau dari judulnya, kamu pasti akan mengira jika film ini akan memiliki jalan cerita seram seperti horor-horor kebanyakan kan? Kalau kamu menebak demikian, sayangnya tebakanmu salah.
Karena film ini bergenre thriller dan kamu harus nonton untuk menyaksikan sendiri cerita yang mendebarkan dari film ini.
“Karena walau judulnya ‘maut’ bukan berarti horor. Karena maut kan bisa kematian, pembunuhan,” kata sutradara Yongki Ongestu.
Akting yang tak biasa
Di film ini penonton akan melihat akting yang tak biasa dari Refal Hady dan Della Dartyan. Film ini menjadi momen keluar dari zona nyaman untuk Refal Hady.
Di sini Refal Hady berperan sebagai dokter Jati yang hidupnya memiliki trauma dan misterius. Untuk mendalami peran ini, Refal Hady mengaku sempat kehilangan empati sebagai seorang manusia.
“Kita pemain punya waktu yang cukup lama untuk mendalami peran, termasuk mendalami cara berpikir dan ada satu treatment yang itu sampai menghilangkan empati gue sebagai Refal Hady,” ungkapnya.
Sementara Della Dartyan berperan sebagai Sukma yang tak lain adalah seorang penari lengger. Demi bisa membawakan budaya asal Banyumas itu, Della menghabiskan waktu dua bulan untuk belajar menari. (RO/OL-09)
Lestari Moerdijat mengatakan inisiatif masyarakat berkesenian harus mendapat dukungan demi melestarikan kebudayaan nasional yang mampu memperkuat identitas dan persatuan bangsa.
Melalui Polantas Menyapa, kampanye keselamatan diwujudkan dalam format dialog yang santai dan kreatif di tengah pusat keramaian.
MENGINJAK usia 80 tahun Indonesia merdeka dan berdemokrasi, Laboratorium Indonesia 2045 menilai hubungan partai politik dan konstituen semakin memburuk.
Indonesia tercatat memiliki 2.213 warisan budaya tak benda, meski baru 16 yang diakui UNESCO mulai dari wayang, batik, keris, hingga jamu dan reog.
Direktur SIPA Irawati Kusumorasri menyebut Patricia Arstuti sebagai representasi generasi Z yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisional dengan ekspresi kekinian.
Thai Trade Center Jakarta, di bawah naungan Department of International Trade Promotion (DITP) Ministry of Commerce Thailand resmi membuka acara Thailand Week 2025 di Jakarta.
Film produksi Falcon Pictures itu berkisah tentang Solah Vincenzo (Rigen) pulang ke kampungnya, ditemani Fajrul (Jegel), Jaka, (Tora) dan Supra (Indro).
Di film Siapa Dia, Morgan memerankan karakter Samo/Ong.
Mission: Impossible - Final Reckoning masih dibintangi oleh Tom Cruise, Hayley Atwell, Ving Rhames, Simon Pegg, Rebecca Ferguson, dan Esai Morales.
Tim pra produksi film Margono 46 melakukan kegiatan doa dan ziarah ke makam pahlawan yang menjadi tokoh sentral dalam film tersebut, yaitu Margono Djojohadikoesoemo.
Donny Alamsyah dan Shareefa Daanish akan bermain dalam film drama terbaru berjudul Lebih dari Selamanya. Film ini akan tayang di bioskop mulai 28 Agustus.
Dalam cuplikan perdana itu, tertulis jelas Etienne Caesar duduk di kursi Sutradara, itu menjadi debut perdananya untuk film panjang.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved