Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Lewat Film Jejak Rasa Yogyakarta, Garin Nugroho Rayakan Kuliner dan Budaya Kota Pelajar

Cornelius Juan Prawira
20/12/2025 12:33
Lewat Film Jejak Rasa Yogyakarta, Garin Nugroho Rayakan Kuliner dan Budaya Kota Pelajar
Happy Salma, Garin Nugroho, Maudy Ayunda, Ida Bagus Dita Yudistira, dan Didit Prasetoyo berfoto bersama dalam peluncuran film Jejak Rasa Yogyakarta.(MI)

Di tangan Garin Nugroho, Yogyakarta tampil bukan sekadar sebagai kota tujuan wisata, melainkan ruang hidup tempat tradisi dan kreativitas bertemu. Melalui film pendek berjudul Jejak Rasa Yogyakarta, Garin mengeksplorasi kekayaan kuliner Yogyakarta sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya dan lingkungan.

Menurut Garin, kuliner tidak hanya soal makanan, melainkan representasi hubungan manusia dengan alam dan ruang hidupnya.

“Setiap kuliner adalah ruang luas dari lingkungan kita, seluruh alam ini. Setiap bentuk makanan dan minuman merupakan hasil dari lingkungan alam,” ujar Garin sebelum pemutaran film di Teater Keong Mas, Jakarta, Kamis (18/12/2025).

Film berdurasi enam menit ini dibintangi Maudy Ayunda dan Ida Bagus Dita Yudistira. Keduanya ditampilkan menyusuri ragam kuliner Yogyakarta, mulai dari jajanan kaki lima di pasar tradisional, hidangan khas keraton, hingga santapan di restoran.

Lagu legendaris Yogyakarta karya KLA Project, yang dinyanyikan Maudy dengan aransemen orkestra oleh Tohpati, mengiringi perjalanan visual tersebut. Nuansa tari tradisional, permainan rakyat, serta lantunan suling dan gamelan turut memperkuat atmosfer budaya yang hangat dan intim.

Garin menyebut film ini sebagai karya sederhana yang terbuka untuk dikembangkan lebih jauh. “Karya sederhana ini sebetulnya akan menjadi suatu karya yang jejaknya akan banyak,” ungkapnya.

Sementara itu, Didit Prasetyo, putra Presiden Prabowo Subianto yang terlibat dalam produksi film, berharap karya ini mendorong publik kembali menyadari kekayaan rasa dan tradisi kuliner Indonesia.

“Jejak Rasa Yogyakarta adalah cara kami merayakan tradisi kuliner Indonesia yang berakar kuat, sekaligus kisah-kisah di baliknya,” ujarnya.

Maudy Ayunda pun mengungkapkan rasa syukurnya dapat berkolaborasi dengan Garin Nugroho, Didit Prasetyo, dan Tohpati. Ia menyebut film ini istimewa karena mengangkat budaya Indonesia dan telah berhasil menembus Osaka Expo 2025 di Jepang.

“Karya ini sangat spesial karena menceritakan budaya Indonesia,” kata Maudy.

Ekspresi Kuliner dalam Trilogi Buku

Eksplorasi kuliner dalam Jejak Rasa Yogyakarta juga diperluas melalui trilogi buku yang mengangkat tiga ikon utama kuliner Nusantara: soto, sambal, dan nasi.

Buku Telusuri Jalanan Kami Bersama Soto menampilkan keragaman soto Nusantara, dari ciri khas daerah hingga ragam topping. Telusuri Dapur Kami Bersama Sambal menggambarkan kreativitas ratusan tradisi sambal di Indonesia. Sementara Telusuri Ladang Kami Bersama Nasi memberi penghormatan pada nasi sebagai fondasi kehidupan masyarakat Indonesia.

Ketiga buku tersebut tidak hanya memuat resep, tetapi juga kisah, tradisi, serta detail budaya yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Disajikan dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang, buku-buku ini merupakan hasil riset mendalam dan konsultasi dengan sejumlah pakar.

Narasumber utama meliputi William Wongso, Murdijati Gardjito, dan Hardian Eko Nurseto, serta diperkaya oleh kontribusi Ade Putri Paramadita sebagai praktisi dan pencerita kuliner.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik