Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Masalah Sampah yang Terus Berulang

Alfath Syawal Ridho Putra, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
05/1/2026 16:27
Masalah Sampah yang Terus Berulang
Alfath Syawal Ridho Putra(DOK PRIBADI)

PENUMPUKAN sampah di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), menunjukkan bahwa masalah kebersihan kota bukanlah insiden tiba-tiba, melainkan akumulasi dari kebijakan yang lemah dalam perencanaan. Ketika aktivitas pengangkutan terganggu, ruang publik langsung berubah menjadi tempat pembuangan sementara. Ini menandakan bahwa sistem pengelolaan sampah belum dirancang untuk menghadapi situasi darurat, padahal kota dengan kepadatan tinggi seperti Tangsel sangat rentan terhadap gangguan layanan dasar.

Penutupan TPA dan Minimnya Antisipasi

Pemerintah Kota Tangerang Selatan menjelaskan bahwa penumpukan terjadi akibat penutupan sementara TPA Cipeucang untuk penataan. Penjelasan ini memang memberi konteks, tetapi sekaligus mengungkap persoalan yang lebih mendasar: tidak adanya skema antisipasi yang siap dijalankan.

Kebijakan penting seperti penutupan fasilitas utama seharusnya dibarengi dengan rencana alternatif yang matang, bukan baru dirumuskan ketika dampak sudah dirasakan masyarakat. Ketika kebijakan tidak disertai mitigasi, maka krisis menjadi konsekuensi yang bisa diprediksi.

Pengakuan Politik atas Kegagalan Layanan

Situasi ini bahkan mendorong pimpinan DPRD Tangerang Selatan untuk menyampaikan permintaan maaf kepada warga dan mendesak pemerintah daerah segera membenahi sistem pengelolaan sampah. Respons tersebut penting secara politis karena menunjukkan bahwa persoalan sampah telah melampaui ranah teknis dan masuk ke wilayah akuntabilitas kebijakan publik. Ketika lembaga legislatif merasa perlu meminta maaf kepada warga, itu menandakan adanya kegagalan layanan yang tidak bisa dianggap sepele.

Masalah sampah di Tangsel bukan pertama kali terjadi. Polanya cenderung sama: volume sampah meningkat, fasilitas pengolahan tertinggal, lalu pemerintah kewalahan. Ini memperlihatkan bahwa kebijakan pengelolaan sampah belum berbasis pada proyeksi pertumbuhan kota dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Ketergantungan pada TPA sebagai solusi utama juga menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan masih jangka pendek, bukan sistemik dan berkelanjutan.

Momentum Evaluasi, Bukan Sekadar Pembersihan

Krisis sampah di Ciputat seharusnya tidak disikapi hanya dengan pengerahan armada dan pembersihan sementara. Peristiwa ini perlu dijadikan momentum untuk mengevaluasi perencanaan kebijakan perkotaan secara menyeluruh, khususnya dalam pengelolaan sampah. Tanpa perubahan paradigma—dari kebijakan reaktif menuju perencanaan yang antisipatif dan berbasis data—masalah serupa akan terus berulang, merusak lingkungan sekaligus menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik