Sabtu 24 Oktober 2020, 01:15 WIB

Seperti Naik di Pundak Raksasa

Syarief Oebaidillah | Fokus
Seperti Naik di Pundak Raksasa

DOK DIKTI KEMENDIKBUD
Prof Ir Nizam Dirjen Dikti Kemendikbud

PEMERINTAH melalui Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Konsorsium Riset Artificial Intelligence (KRAI). Konsorsium ini akan menyiapkan ribuan talenta yang berkarya di berbagai bidang strategis.

Ini merupakan salah satu upaya membangun daya saing bangsa berbasis artificial intelligence (AI), yang pijakannya diawali pada penerapan teknologi 4.0, baik di bidang pangan, kesehatan, pendidikan, keamanan, manufaktur, transportasi, dan sebagainya.

Guna mengetahui lebih jauh perkembangan AI, berikut wawancara wartawan Media Indonesia Syarief Oebaidillah dengan Dirjen Dikti Kemendikbud Prof Ir Nizam di Jakarta, Rabu (21/10).

Bisa dijelaskan latar belakang menerapkan peran AI di Indonesia?

Revolusi Industri ke-4 antara lain ditandai dengan perkawinan antara dunia digital dan dunia fi sik (cyber-physical integration). Mesin dengan mesin bisa saling berkomunikasi, sistem cerdas menggantikan peran manusia di banyak sektor. Dalam kaitan ini, AI menggantikan kemampuan analisis dan daya berpikir manusia. Dunia otomasi dan AI membuka peluang lahirnya pekerjaan baru yang belum pernah ada.

Perkiraan McKinsey akan hilangnya 23 juta lapangan pekerjaan di Indonesia disertai potensi lahirnya 46 juta lapangan pekerjaan baru dalam 10 tahun ke depan.

Apa yang mesti dilakukan?

Pendidikan tinggi harus melakukan perubahan fundamental dalam menyiapkan kompetensi lulusannya. Itulah tantangan besar kita saat ini. Berbagai kompetensi baru yang muncul dan dibutuhkan menjadi jantung perkembangan revolusi industri 4.0, yakni kecakapan digital, kecerdasan artifisial, mahadata dan analisis data, internet of things, keamanan digital, dan rekayasa genetika.

Bagaimana menyiapkan SDM bidang AI?

Hampir semua sektor ekonomi maupun sosial akan banyak bergantung pada kemajuan di bidang teknologi digital dan AI. Sistem cerdas hadir di mana-mana, hampir tanpa batas.

Estimasi kebutuhan talenta di bidang ini di Indonesia antara 250 sampai 600 ribu orang dalam 10 tahun ke depan. Berbagai program disiapkan untuk mengakselerasi pool talenta ini melalui kerja sama dengan pemain-pemain teknologi global.

Ini seperti naik di pundak raksasa, daripada kita mengembangkan sendiri, akan lebih cepat dan efektif menggandeng industri global. Selain itu sinergi dan kerja sama dengan pemain teknologi global sangat penting untuk memastikan standar kompetensi yang dihasilkan.

Apa yang tengah dikerjakan?

Ditjen Dikti memfasilitasi perguruan tinggi untuk berkolaborasi dengan perusahaan digital kelas dunia seperti Google, Amazon Web Service, Huawei, Microsoft, Aruba, dan lainnya untuk menyiapkan program-program pelatihan intensif bagi ribuan mahasiswa.

Pada 2021 kita targetkan paling kurang 10 ribu talenta AI dapat dihasilkan perguruan tinggi. Pelatihan tersebut diselaraskan dengan program Kampus Merdeka.

Tidak hanya itu, mahasiswa di program itu mengerjakan proyek nyata yang diperlukan industri, UMKM, maupun pengguna lainnya.

Link and match akan terjadi. Oh....ya kita juga kolaborasi dengan NVIDIA, perusahaan cip global yang terdepan dalam prosesor mesin kecerdasan buatan.

Contoh kolaborasi yang dijalin?

Tahun 2020 ini kita lakukan salah satu pilot project-nya melalui program Google Bangkit. Mahasiswa mengikuti pelatihan tentang machine learning, dengan proyek yang dibimbing mentor mentor dari unicorn dan decacorn nasional, seperti Gojek, Traveloka, Tokopedia, Bukalapak. Hasilnya sangat menjanjikan, meski skalanya masih kecil, baru sekitar 200 mahasiswa dan lulus di September lalu.

Terkait KRAI, apa saja tujuan bagi pengembangan AI?

Pada KRAI untuk perguruan tinggi kita dorong menyiapkan pool talenta sekaligus mengembangkan penelitian di bidang kecerdasan artifisial. Beberapa karya dari PT kita seperti smart city, smart health, telemedicine, smart farming, dan sebagainya.

Nah, agar terjadi akselerasi, kita bentuk konsorsium perguruan tinggi agar komunitas dosen dan peneliti AI bisa saling asah.

Seperti selama pandemi ini, konsorsium banyak mengembangkan penelitian AI untuk epidemiologi, deteksi covid-19, termasuk Genose yang dikembangkan UGM. Basisnya ialah sensor dan kecerdasan artifisial.

Pemerintah memiliki cetak biru pengembangan AI. Ditjen Dikti menyinergikan, mendorong, dan memfasilitasi perguruan tinggi untuk melaju di bidang AI meliputi aspek pengembangan SDM, etika, dan kebijakan AI, pengembangan infrastruktur dan data, riset, serta inovasi industri.

Kita memahami persaingan dalam pengembangan AI sangat ketat. Di banyak negara, pemerintahnya mengguyur dana besar–besaran. Dalam global AI Index, Indonesia berada di peringkat 49 dari 54 negara. Jauh di bawah Tiongkok (2), Singapura (7), Korea Selatan (8), dan Malaysia (40). (H-1)

 

Baca Juga

 ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Butuh Regulasi yang Jelas

👤 (Fer/H-1). 🕔Sabtu 28 November 2020, 00:40 WIB
FAKTOR kecepatan dan ketepatan sudah menjadi hal mutlak yang harus diadopsi terhadap pelayanan kesehatan...
Dok.MI/Seno

Layanan Kesehatan di Ujung Jari

👤ATALYA PUSPA 🕔Sabtu 28 November 2020, 00:35 WIB
PEMBATASAN sosial berskala besar akibat pandemi covid-19 memengaruhi aktivitas...
MI/Folmer

Mendekatkan RSUD Merauke dengan Warga Pedalaman

👤(Suryani Wandari Putri/H-1) 🕔Sabtu 28 November 2020, 00:30 WIB
HAMPIR di setiap rumah sakit atau pelayanan di fasilitas kesehatan lainnya di loket pendaftaran selalu ramai dengan antrean...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya