Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Purbaya Tambah Rp100 triliun untuk Subsidi Energi, Defisit APBN Melebar?

Media Indonesia
01/4/2026 18:40
Purbaya Tambah Rp100 triliun untuk Subsidi Energi, Defisit APBN Melebar?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa(Antara Foto)

MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan menambah anggaran hingga Rp100 triliun untuk subsidi energi. Hal itu dilakukan mengantisipasi dampak dari konflik di tengah yang mengganggu rantai pasok energi global dan harga minyak dunia

Purbaya menjelaskan alokasi Rp100 triliun untuk subsidi energi, bukan kompensasi. Skema subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN antara lain LPG 3 kg dan solar.

Adapun kompensasi yakni pemerintah atau perusahaan BUMN membayar untuk menutup selisih antara harga jual eceran yang ditetapkan pemerintah dengan harga harga pasar bahan bakar minyak (BBM). Kompensasi yang ditanggung dari APBN yakni Pertalite.
    
"(Rp100 triliun) itu subsidi. Kompensasi lain lagi. Saya lupa," papar Purbaya.

Untuk subsidi energi alokasi dana yang dianggarkan pemerintah sebesar Rp210,1 triliun, atau sekitar 65,87 persen dari APBN. Apabila ditambah dengan kompensasi energi, pemerintah harus mengeluarkan dana sebesar Rp381,3 triliun. Meskipun demikian, Purbaya mengatakan defisit APBN masih dapat dikendalikan.

"Meski dengan rata-rata (harga minyak dunia) 100 (dolar per barel) pun kita sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen, itu di sekitar 2,9 persen," papar Purbaya.

Menurut pemerintah, APBN masih punya ruang meskipun harga minyak dunia naik. Masyarakat diminta tak khawatir terhadap potensi pelebaran defisit APBN.

Skenario 

Ada sejumlah skenario yang dihitung terkait kenaikan harga minyak mentah yakni apabila harga minyak mentah Indonesia berada di kisaran 86 dolar AS per barel, dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp17.000 per dolar AS. Jika pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dan imbal hasil surat berharga negara sekitar 6,8 persen, defisit APBN diprediksi sebesar 3,18 persen.

Namun, apabila harga minyak diperkirakan sekitar 97 dolar AS per barel dengan nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.300 per dolar AS dan pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5,2 persen dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 7,2 persen, defisit APBN bisa meningkat menjadi 3,53 persen. Terakhir, jika harga minyak mencapai 115 dolar AS per barel, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS, dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, maka defisit APBN diperkirakan melebar hingga 4,06 persen. (Ant/H-4)

    

    
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya