Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Tips Kelola THR agar Tetap Aman setelah Lebaran

Naufal Zuhdi
10/3/2026 13:46
Tips Kelola THR agar Tetap Aman setelah Lebaran
ilustrasi(Antara)

Menjelang Lebaran, salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu adalah Tunjangan Hari Raya (THR). Bagi banyak orang, THR terasa seperti hadiah setelah setahun bekerja keras. Tak heran jika dorongan untuk langsung membelanjakannya muncul begitu kuat, mulai membeli baju baru, menyiapkan hidangan Lebaran, hingga kebutuhan mudik. Namun di tengah euforia itu, sering kali ada satu hal yang terlupakan, yaitu kehidupan setelah Lebaran tetap berjalan seperti biasa.

Mengelola THR bukan berarti harus menahan diri atau berhemat secara berlebihan. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara menikmati momen Lebaran dan tetap menjaga kondisi finansial setelahnya.

Belanja untuk kebutuhan Lebaran tentu wajar, karena momen ini hanya datang setahun sekali. Namun ketika hampir semua terasa penting untuk dibeli, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini benar-benar kebutuhan, atau sekadar keinginan sesaat?

Di era media sosial, standar perayaan sering kali terasa semakin tinggi. Mulai dari hampers yang estetis, pakaian keluarga seragam, hingga dekorasi rumah yang menarik. Tanpa disadari, tren tersebut bisa mendorong pengeluaran lebih besar dari yang direncanakan. Padahal, esensi Lebaran sejatinya bukan pada kemewahan, melainkan pada kebersamaan dan kehangatan keluarga.

Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama mengatakan THR sebaiknya dipandang sebagai rezeki yang perlu dikelola dengan tujuan yang jelas.

“THR sebaiknya kita maknai sebagai rezeki yang dititipkan. Setidaknya ada empat prioritas yang bisa dipertimbangkan: ibadah seperti zakat dan berbagi, kebutuhan Lebaran, kebutuhan masa depan melalui tabungan atau investasi, serta proteksi keluarga,” ujarnya dikutip dari siaran pers yang diterima, Selasa (10/3).

Menurut Vivin, perencanaan keuangan bukan hanya tentang mengumpulkan uang, tetapi juga melindungi apa yang telah dimiliki. Jika pencari nafkah tiba-tiba tidak dapat bekerja, tabungan keluarga dapat dengan cepat terkuras. Karena itu, sebagian THR sebaiknya dialokasikan untuk perlindungan finansial.

Ia juga menyarankan pendekatan sederhana dalam mengatur THR melalui formula 50-30-20.

  • 50% untuk kebutuhan Lebaran dan zakat
  • 30% untuk tabungan atau investasi
  • 20% untuk perlindungan finansial seperti dana darurat atau asuransi

Skema ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga. Prinsip utamanya adalah menikmati momen saat ini tanpa melupakan keamanan finansial di masa depan. Selain itu, THR juga dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kondisi keuangan. Setelah beberapa bulan menjalani rutinitas pengeluaran, periode Lebaran bisa dimanfaatkan untuk memperkuat tabungan atau dana darurat.

Bagi sebagian orang, menyisihkan THR untuk investasi juga mulai menjadi kebiasaan. Tidak harus dalam jumlah besar, tetapi dilakukan secara konsisten sebagai langkah membangun aset jangka panjang. Lebaran juga identik dengan berbagi. Menyisihkan sebagian THR untuk zakat dan sedekah tidak hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga memberikan makna lebih dalam bagi perayaan.

Pada akhirnya, pengelolaan THR bukan tentang seberapa besar uang yang dibelanjakan, melainkan bagaimana menggunakannya secara bijak tanpa mengorbankan kestabilan finansial setelah Lebaran. (E-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya