Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Mengapa Bitcoin Lebih Dilirik daripada Emas saat Perang AS-Isarel Vs Iran? Ini Alasannya

Putri Rosmalia Octaviyani
05/3/2026 21:11
Mengapa Bitcoin Lebih Dilirik daripada Emas saat Perang AS-Isarel Vs Iran? Ini Alasannya
Aset kripto, Bitcoin.(Dok. Freepik)

DINAMIKA pasar investasi global mengalami pergeseran paradigma pada Maret 2026. Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah, yakni perang AS-Israel vs Iran, Bitcoin mulai menunjukkan taringnya sebagai pesaing serius emas dunia dalam kategori aset pelindung nilai (safe haven).

Meskipun emas secara historis dianggap sebagai pelindung inflasi terbaik, situasi perang modern di Timur Tengah memunculkan kebutuhan baru yang hanya bisa dipenuhi oleh aset digital atau aset kripto. Berikut adalah alasan utama mengapa investor kini lebih melirik Bitcoin dibandingkan emas fisik:

1. Mobilitas Tanpa Batas Negara

Emas fisik memiliki kendala besar dalam situasi darurat: berat dan sulit dibawa melintasi perbatasan negara tanpa pemeriksaan ketat atau risiko penyitaan. Sebaliknya, Bitcoin dapat dibawa hanya dengan mengingat 12 kata kunci (seed phrase) di dalam kepala, memungkinkan pemiliknya memindahkan kekayaan melintasi batas negara secara instan.

2. Aksesibilitas 24/7 Tanpa Perantara

Saat konflik pecah, pasar komoditas fisik dan perbankan di zona perang sering kali mengalami penutupan atau pembatasan operasional. Bitcoin beroperasi pada jaringan terdesentralisasi yang bekerja 24 jam sehari tanpa bergantung pada bank sentral atau institusi keuangan mana pun.

Data Pasar Per 5 Maret 2026

Harga Bitcoin: US$72.927 (Rp1,23 Miliar)
Harga Emas: US$5.390/troy ons
Kurs Rupiah: Rp16.905 per Dolar AS

3. Ketahanan Terhadap Penyitaan (Censorship Resistance)

Dalam kondisi perang, pemerintah sering kali melakukan kontrol modal atau pembekuan rekening bank milik pihak tertentu. Bitcoin, dengan sifatnya yang anonim dan terdesentralisasi, memberikan kedaulatan penuh kepada pemiliknya sehingga aset tidak dapat dibekukan oleh otoritas mana pun selama kunci privat dipegang sendiri.

4. Likuiditas Digital yang Tinggi

Menjual emas batangan dalam jumlah besar di tengah situasi perang bisa menjadi tantangan logistik yang berbahaya. Bitcoin menawarkan likuiditas instan melalui bursa global (exchanges) atau transaksi peer-to-peer yang tetap aktif selama jaringan internet tersedia.

5. Kelangkaan yang Terverifikasi Secara Matematis

Investor mulai menyadari bahwa pasokan Bitcoin terkunci secara matematis di angka 21 juta koin. Sementara itu, eksplorasi emas baru masih terus berlangsung, dan dalam skenario perang, distribusi emas fisik sering kali terganggu oleh blokade wilayah seperti yang terjadi di Selat Hormuz saat ini.

Analis Senior CryptoQuant, Julio Moreno, menyatakan: "Bitcoin menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki emas fisik dalam situasi perang: likuiditas instan dan kemampuan melintasi batas negara tanpa pemeriksaan fisik yang ketat."

Meski demikian, investor di Indonesia diingatkan untuk tetap waspada. Pelemahan Mata Uang Rupiah ke level Rp16.905 per Dolar AS menunjukkan bahwa volatilitas tetap tinggi, dan diversifikasi aset antara Bitcoin serta emas tetap menjadi strategi paling bijak di tengah ketidakpastian global 2026.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya