Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Bitcoin Melesat US$72 Ribu saat Perang AS-Israel vs Iran Hari Ke-6

Putri Rosmalia Octaviyani
05/3/2026 20:47
Bitcoin Melesat US$72 Ribu saat Perang AS-Israel vs Iran Hari Ke-6
Ilustrasi Bitcoin.(Dok. Freepik)

HARGA Bitcoin (BTC) menunjukkan resiliensi luar biasa dengan melesat melampaui level psikologis US$72.000 (sekitar Rp1,22 miliar) pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026. Lonjakan ini terjadi tepat saat konflik Timur Tengah, yakni perang As-Israel vs Iran memasuki hari keenam dengan intensitas yang kian mencekam.

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 11.03 WIB, Bitcoin menguat 6,96% ke level US$72.495 setelah sempat tertekan di kisaran US$63.000 pada awal pekan. Sementara itu, data dari bursa Pintu mencatat BTC bahkan menyentuh level tertinggi di Rp1.246.591.921 dalam periode 24 jam terakhir.

Eskalasi Perang dan Respons Pasar

Kenaikan harga Bitcoin yang tajam ini bertepatan dengan laporan dari medan tempur di mana Iran meluncurkan gelombang rudal balasan ke wilayah Israel pada Kamis dini hari. Di sisi lain, operasi militer gabungan "Operation Epic Fury" yang dipimpin AS sejak 28 Februari telah melumpuhkan sejumlah fasilitas strategis di Teheran.

Ketegangan geopolitik ini menyebabkan volatilitas tinggi di pasar keuangan tradisional. Indeks saham di Asia dan Eropa sempat mengalami aksi jual besar-besaran, sementara harga minyak mentah dunia melonjak hingga US$82 per barel akibat blokade di Selat Hormuz.

border-left: 5px solid #007bff; padding: 15px; margin: 20px 0;">

Statistik Kunci Pasar (5 Maret 2026)

Aset Nilai/Harga Status
Bitcoin (BTC) US$72.927 ▲ 7,23%
Emas Dunia US$5.390 ▲ Stabil
Kurs Rupiah Rp16.905 ▼ Melemah

Dilema Safe Haven Baru

Analis melihat adanya pergeseran perilaku investor. Jika sebelumnya Bitcoin bergerak searah dengan saham teknologi (Nasdaq), dalam krisis kali ini BTC justru menunjukkan korelasi unik dengan emas. Arus masuk ke ETF Bitcoin spot di AS yang mencapai US$700 juta sepanjang Maret mengindikasikan bahwa investor institusional mulai memandang aset digital ini sebagai pelindung risiko sistemik.

Namun, tekanan pada mata uang domestik tetap nyata. Mata Uang Rupiah ditutup melemah 13 poin ke level Rp16.905 per Dolar AS pada Kamis sore. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen risk-off di mana investor global cenderung memegang Dolar AS di tengah ketidakpastian perang yang melibatkan kekuatan nuklir.

Presiden Donald Trump sendiri menyatakan bahwa operasi militer diproyeksikan berlangsung selama 4 hingga 5 minggu. Jika konflik ini meluas dan melibatkan lebih banyak negara NATO, para analis memperkirakan volatilitas Bitcoin akan tetap ekstrem, dengan potensi target berikutnya di level US$76.000 atau justru koreksi tajam jika terjadi aksi ambil untung masif. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya