Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Kronologi Harga Bitcoin Tembus US$72.000: Efek Domino Perang AS-Israel vs Iran

Putri Rosmalia Octaviyani
05/3/2026 20:54
Kronologi Harga Bitcoin Tembus US$72.000: Efek Domino Perang AS-Israel vs Iran
Salah satu jenis aset kripto, Bitcoin.(Dok. Freepik)

PASAR kripto global diguncang volatilitas ekstrem setelah Bitcoin (BTC) berhasil menembus level psikologis US$72.000 (sekitar Rp1,22 miliar) pada Kamis, 5 Maret 2026. Lonjakan ini terjadi hanya beberapa jam setelah eskalasi konflik Tmur Tengah, perang AS-Israel vs Iran memasuki fase paling mematikan dalam enam hari terakhir.

Kenaikan harga Bitcoin ini dipicu oleh kepanikan investor di pasar tradisional yang mulai mengalihkan aset mereka ke instrumen digital yang dianggap jauh dari jangkauan sistem perbankan konvensional yang terancam sanksi perang.

Kronologi Lonjakan Harga Bitcoin (WIB)

  • 02.00 WIB: Laporan intelijen mengonfirmasi peluncuran gelombang rudal balistik dari Teheran menuju pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Harga Bitcoin masih stabil di kisaran US$68.500.
  • 04.30 WIB: Israel memulai serangan udara balasan ke fasilitas nuklir Iran. Bitcoin mulai merangkak naik ke US$70.200 seiring dengan jatuhnya indeks saham berjangka (Futures) di Wall Street.
  • 08.00 WIB: Harga Bitcoin menembus US$71.500. Data on-chain menunjukkan lonjakan volume transaksi masif dari wilayah Timur Tengah dan Eropa Timur.
  • 11.00 WIB: Bitcoin mencapai puncaknya di US$72.927. Di bursa lokal Indonesia, harga BTC menyentuh Rp1,24 miliar akibat pelemahan Mata Uang Rupiah yang terdepresiasi ke Rp16.905 per Dolar AS.

Pergerakan harga aset kripto saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen berita perang (news-driven). Investor disarankan tetap waspada terhadap potensi flash crash jika terjadi gencatan senjata mendadak atau aksi ambil untung (profit taking) oleh pemegang besar (whales).

Dampak ke Ekonomi Domestik

Kenaikan harga Bitcoin yang dibarengi dengan lonjakan harga minyak mentah ke US$82 per barel memberikan tekanan ganda bagi ekonomi Indonesia. Pelemahan Mata Uang Rupiah yang kini berada di level Rp16.905 memaksa Bank Indonesia untuk memantau ketat arus modal keluar.

Analis pasar modal menyebut fenomena ini sebagai "The Great Hedging". Investor tidak lagi hanya mengandalkan emas dunia yang kini tertahan di level US$5.390, tetapi mulai melihat Bitcoin sebagai aset pelindung nilai (safe haven) yang lebih likuid untuk dipindahkan lintas negara di tengah situasi darurat militer.

Hingga berita ini diturunkan, pertempuran di Timur Tengah salah satunya di perbatasan Lebanon-Israel masih berlangsung, dan pasar aset kripto diprediksi akan tetap berada dalam zona hijau selama ketidakpastian geopolitik belum mereda. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya