Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
ANTREAN panjang pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah sudah berlangsung tiga hari terakhir. Sikap panic buying atau membeli secara berlebihan itu diduga terkait pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Senin (2/3) yang menyatakan bahwa stok BBM di Indonesia hanya sampai 20 hari.
Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah dua kawasan bertetangga di wilayah tengah Provinsi Aceh. Itu merupakan lokasi paling parah dilanda banjir besar pada 24-27 November 2025 lalu.
Penelusuran Media Indonesia di Kota Takengon, Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah, sedikitnya ada lokasi pompa bahan bakar yang mengalami lonjakan antrean hingga 5 km. Masing-masing adalah di SPBU Paya Ilang, SPBU Kemili, dan SPBU Nunang Antara.
Bukan saja untuk mengisi kebutuhan sepeda motor dan mobil yang rela antre hingga 4 jam. Tapi juga banyak yang membawa jeriken dan wadah botol untuk menyimpan bahan cadangan.
Pemerhati masalah sosial kemasyarakatan dari UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe, Rahmy Zulmaulida, kepada Media Indonesia mengatakan, melubernya anteran itu diduga karena terjadi kepanikan warga.
Dikatakan Rahmy, hal itu juga karena kembalinya rasa trauma warga di dua kabupaten berjulukan Tanah Gayo itu dari pengalaman setelah banjir besar 24-27 November 2025 lalu. Pasalnya waktu itu akibat banjir, tanah longsor hingga terputus badan jalan, mereka sempat terkurung sekitar dua pekan yang berakibat kelangkaan BBM dan bahan pokok.
"Cukup parah, anteannya hingga 5 kilometer. Tadi pagi bapak saya mengisi bahan bakar mulainya antrean pukul 8 pagi, baru selesai pukul 12.15 siang," tutur Rahmy Zulmaulida yang juga tokoh masyarakat Takengon, Aceh Tengah.
Lebih parah lagi, menurut aktivis peduli banjir Sumatra itu, warga dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, aksi panic buying itu membuat aktivitas berburu BBM mulai meluas ke SPBU di Kabupaten Bireuen hingga SPBU Kabupaten Aceh Utara.
Itu karena terjadi kepanikan luar biasa hingga mengundang rasa trauma masa dua bulan lalu.
Pemburu BBM dari dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh dan Bener Meriah tersebut bukan saja untuk kebutuhan kendaraan pribadi. Ternyata cukup ramai para pengecer tidak resmi yang ingin menjual kembali ke kampung asal mereka.
"Ada yang turun melalui jalur Bireuen bertujuan SPBU di Kabupaten Bireuen ada juga arah Aceh Utara. Mereka membawa jeriken menggunakan sepeda motor atau mobil bak terbuka," turur Rahmy.
Bahkan menurutnya, warga Tanah Gayo yang mengira akan terjadi Perang Dunia ke-3 juga membeli gas elpiji 3 kg untuk disimpan. Lalu di Kabupaten Bener Meriah ada sebagian warga yang membeli bahan pokok seperti beras dan minyak gorang dalam jumlah besar. Tujuannya untuk stok menghadapi isu akan meluasnya konflik di Timur Tengah. Dikhawatirkan kondisi meresahkan itu akan meluas ke lokasi lain dan timbul berkepanjangan.
"Ada yang mulai mendatangi pangkalan elpiji melon untuk membeli gas lebih dari satu. Katanya untuk mengantisipasi kelangkaan," sekian kata Rahmy menirukan pemburu elpiji 3 kg. (MR/E-4)
FENOMENA panic buying atau membeli secara berlebihan BBM terjadi di Kabupaten Bangka, Bangka Belitung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved