Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Airlangga: RI Sudah Amankan Pasokan Energi dari Luar Timur Tengah

Media Indonesia
05/3/2026 14:38
Airlangga: RI Sudah Amankan Pasokan Energi dari Luar Timur Tengah
Ilustrasi(MI/Agus Mulyawan)

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan energi. Langkah itu diperlukan di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Salah satu strategi yang ditempuh pemerintah adalah memastikan pasokan energi berasal dari berbagai sumber di luar kawasan Timur Tengah.

Airlangga menjelaskan bahwa alternatif pasokan energi diperoleh melalui kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat serta akses sumber energi yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) di Venezuela.

"Kalau dari segi energi, karena kebetulan kita sudah tanda tangan ART (Agreement of Reciprocal Trade), memang suplai dari energi kita sudah juga melakukan MoU dengan Amerika Serikat dan juga Pertamina punya akses di Venezuela," kata Airlangga dalam konferensi pers Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (5/3).

Pemerintah Pantau Ketidakpastian Global

Pemerintah juga terus memantau perkembangan situasi global yang dinilai masih sulit diprediksi. Airlangga menegaskan bahwa Indonesia kini memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi potensi gejolak harga energi setelah belajar dari pengalaman lonjakan harga saat konflik Perang Rusia-Ukraina.

Menurutnya, dinamika tersebut perlu dilihat dari dua sisi. Pemerintah tetap menjaga agar subsidi energi tidak membebani masyarakat, sekaligus memanfaatkan peluang tambahan penerimaan negara ketika harga komoditas meningkat.

"Di satu sisi itu yang terkait dengan subsidi kita jaga dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi ya kita akan lanjutkan. Dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau (harga) komoditas itu naik," tuturnya.

Meski demikian, Airlangga menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak penuh konflik Timur Tengah terhadap perekonomian global maupun domestik.

"Kita tentu melihat situasinya, masih too early to call," ujarnya.

Ketahanan Ekonomi Jadi Faktor Utama

Lebih lanjut, ia menilai ketidakpastian global juga membuat banyak investor cenderung menunda ekspansi bisnis. Dalam kondisi seperti ini, ketahanan ekonomi nasional menjadi faktor penting yang diperhatikan pelaku investasi.

"Inilah yang harus kita dorong karena the new world juga membuat semua investasi akan melihat kembali, dan juga akan menahan karena dalam situasi seperti ini tentu daya tahan, resiliensi itu yang paling utama termasuk juga di sektor ekonomi," katanya.

Komitmen Impor Energi dari AS

Dalam dokumen kesepakatan dagang timbal balik atau Agreement of Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat, pemerintah Indonesia berkomitmen membeli komoditas energi dari Negeri Paman Sam dengan nilai sekitar US$15 miliar.

Nilai tersebut mencakup impor liquefied petroleum gas (LPG) sebesar US$3,5 miliar, minyak mentah senilai US$4,5 miliar, serta bensin hasil kilang sekitar US$7 miliar. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari kawasan tertentu. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya