Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Minyak Sawit, Karet hingga Tekstil Bebas Tarif ke AS

Insi Nantika Jelita
20/2/2026 09:47
Minyak Sawit, Karet hingga Tekstil Bebas Tarif ke AS
Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Presiden AS Donald Trump (kanan)(Biro Pers Sekretariat Presiden)

MENTERI Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan berdasarkan hasil kesepakatan dagang, Amerika Serikat dan Indonesia sepakat memberlakukan tarif 0% untuk sejumlah produk dari kedua negara. Produk Indonesia yang mendapatkan tarif 0% meliputi minyak sawit, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang.

Untuk tekstil dan produk tekstil (TPT), tarif 0% juga akan diberikan pada volume impor pakaian dan tekstil tertentu yang akan ditetapkan kemudian. Penentuan volume tersebut akan disesuaikan dengan jumlah ekspor tekstil yang diproduksi dari kapas Amerika dan input tekstil serat buatan asal Amerika Serikat.

"Dan khusus untuk tekstil dan produk tekstil, Amerika juga akan memberikan tarif 0% dengan mekanisme Tariff Rate Quota atau TRQ," ujar Airlangga dalam konferensi pers pengumuman Kesepakatan Dagang Indonesia dengan AS di Washington, AS, Jumat (20/2).

Airlangga menilai pembebasan tarif untuk produk TPT ke pasar AS akan memberi manfaat besar bagi sekitar 4 juta pekerja di sektor tersebut.

"Kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," klaimnya.

Sebagai timbal balik, Indonesia berkomitmen memberikan fasilitas tarif 0% bagi sejumlah produk Amerika, terutama komoditas yang selama ini diimpor seperti produk pertanian, gandum (wheat), dan kedelai (soybean). Dengan demikian, kata Menko Perekonomian, masyarakat tidak akan menanggung tambahan biaya untuk bahan baku yang berasal dari kedua komoditas tersebut, baik dalam bentuk mi maupun produk olahan seperti tahu dan tempe.

"Jadi, masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat," katanya.

Lebih lanjut, sesuai posisi di forum World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia, kedua negara juga sepakat untuk tidak mengenakan bea masuk atas transaksi ekonomi digital. Kebijakan ini, kata Airlangga, sebenarnya telah diterapkan Indonesia terhadap Eropa dan diharapkan mendorong moratorium dalam Ministerial Conference WTO.

Indonesia, lanjutnya, turut mendorong transfer data lintas batas secara terbatas sesuai dengan peraturan perundang-undangan nasional, sekaligus mengakui komitmen Amerika Serikat dalam memberikan perlindungan data konsumen yang setara dengan standar di Indonesia. 

"Selain itu, Indonesia akan menerapkan strategic trade management guna memastikan perdagangan berjalan aman dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan di luar tujuan perdamaian," tuturnya.

Kemudahan perizinan impor dan standardisasi barang, baik produk industri maupun pertanian asal Amerika, juga akan diberikan. Indonesia pun berkomitmen mengurangi hambatan tarif dan non-tarif serta memberikan kepastian di sektor teknologi informasi dan komunikasi (ICT), kesehatan, dan farmasi.

Politikus Golkar itu mengungkapkan, perjanjian ini akan berlaku 90 hari setelah seluruh proses hukum di masing-masing negara selesai, termasuk konsultasi dengan DPR RI di Indonesia dan proses internal di Amerika Serikat.

Dalam dokumen tersebut juga diatur bahwa perubahan perjanjian hanya dapat dilakukan atas kesepakatan tertulis kedua pihak. Selain itu, terdapat peluang penyesuaian tarif yang akan dibahas melalui Council of Board yang akan dibentuk.

"Pemerintah selanjutnya akan menyampaikan perjanjian ini kepada DPR RI," ungkapnya.

Airlangga menegaskan kesepakatan ini diarahkan untuk mendukung visi Indonesia Emas sehingga disebut sebagai “New Golden Age” bagi Indonesia dan Amerika Serikat.

Teken MoU

Presiden Prabowo bersama delegasi Indonesia menghadiri Indonesia–US Business Summit yang diselenggarakan bersama United States – Indonesia Society (USINDO), Kadin, Apindo. Pada forum tersebut ditandatangani 11 memorandum of understanding (MoU) yang merupakan turunan dari agreement reciprocal trade, mencakup pembelian energi, sektor pertanian, serta kerja sama lainnya dengan nilai mencapai US$38,4 miliar, termasuk di sektor teknologi.

Kerja sama juga mencakup pengembangan mineral kritis melalui perpanjangan kontrak izin tambang Freeport di Grasberg diperpanjang dari 2041 menjadi 2061, pembelian jagung dan kapas, kerja sama terkait shredded worn clothes, furnitur, oil field recovery, hingga hilirisasi silika menjadi silica iron untuk produksi semikonduktor.  (H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya