Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Pandu Sjahrir: Evaluasi MSCI Jadi Momentum Benahi Pasar Modal

Naufal Zuhdi
10/2/2026 21:18
Pandu Sjahrir: Evaluasi MSCI Jadi Momentum Benahi Pasar Modal
Ilustrasi(MI/NAUFAL ZUHDI)

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menilai sorotan negatif terhadap sektor keuangan Indonesia seperti halnya evaluasi MSCI justru harus dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki transparansi dan daya saing pasar modal nasional.

Menurut Pandu, sebagai investor aktif di pasar saham domestik maupun global, Danantara memandang transparansi sebagai kunci utama untuk memulihkan dan memperkuat kepercayaan pasar.

“Pada akhirnya kami adalah investor di pasar saham, baik di Indonesia maupun global. Yang terpenting adalah transparansi. Kami juga harus lincah dan terus membaik. Kalau kita tidak berubah, pihak lain yang akan memaksa kita berubah,” ujar Pandu pada acara China Conference: Southeast Asia (CCSEA) 2026 di Jakarta, Selasa (10/2).

Ia mengungkapkan, dalam sepekan terakhir dirinya bersama jajaran manajemen Danantara, termasuk Ali Setiawan, telah intens berkomunikasi dengan regulator untuk merespons dinamika pasar. Pandu menyebut langkah MSCI sebagai peringatan keras yang justru dibutuhkan.

“Apa yang dilakukan MSCI itu seperti tamparan dingin yang memang kita perlukan. Kita perlu memahami dampaknya jika kita tidak berkomunikasi dan menyesuaikan diri dengan pasar. Jangan menyalahkan pihak lain,” tegasnya.

Pandu menekankan pentingnya memahami “aturan main” pasar modal. Ia mengibaratkan kondisi saat ini dengan pepatah lama: jangan membenci pemainnya, tetapi pahami permainannya. Fokus utama, kata dia, adalah bagaimana regulator dan pelaku pasar termasuk Danantara yang berkaitan dengan pemerintah bersama-sama memperbaiki ekosistem pasar modal.

Dalam konteks tersebut, Danantara menjadikan India dan Hong Kong sebagai rujukan utama. Pandu menilai Hong Kong berhasil membangun pasar modal yang dalam, likuid, dan kredibel, bahkan mencatat rekor global jumlah IPO pada tahun lalu.

“Salah satu indikator penting adalah rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB. Di pasar maju, rasionya berkisar dua hingga empat kali. Di Indonesia, baru sekitar 0,6 kali,” jelasnya.

Rasio yang rendah tersebut, lanjut Pandu, sangat berkaitan erat dengan isu transparansi dan likuiditas. Karena itu, perbaikan tata kelola pasar modal menjadi agenda penting. Ia optimistis jika rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB Indonesia bisa didorong ke kisaran 1,5 hingga 2 kali, maka nilai pasar modal nasional berpotensi meningkat hingga tiga kali lipat.

“Peluang itu ada sekarang, apalagi ketika negara-negara ASEAN lain juga menghadapi tantangan. Kita harus agresif menjadi yang terbaik di ASEAN. Jangan membandingkan diri ke bawah. Kita harus melihat ke atas dan menjadi lebih baik,” ujarnya.

Terkait wacana kemungkinan Danantara mengambil saham di bursa lokal, Pandu menyebut pendekatan yang akan ditempuh tidak akan jauh berbeda dengan praktik di Hong Kong. Ia menekankan pentingnya pemisahan yang jelas antara peran regulator dan pemegang saham.

“Di Hong Kong ada proses demutualisasi, dari organisasi berbasis anggota menjadi perusahaan berorientasi laba. Biasanya ada dua atau tiga investor finansial global dengan kepemilikan sekitar 5%, dan kepemilikan di atas itu harus mendapat persetujuan regulator,” jelas Pandu. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya