Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

IHSG Hari Ini 29 Januari 2026: Market Crash Berlanjut, Indeks Jebol ke Level 7.800

Andhika Prasetyo
29/1/2026 09:32
IHSG Hari Ini 29 Januari 2026: Market Crash Berlanjut, Indeks Jebol ke Level 7.800
Ilustrasi(Antara)

 

Pasar saham Indonesia kembali mengalami guncangan hebat pada perdagangan hari ini, Kamis 29 Januari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren terjun bebas (freefall) setelah dibuka anjlok tajam menembus level psikologis 8.000 hingga menyentuh area 7.800-an.

Aksi jual masif (panic selling) yang dimulai sejak kemarin masih mendominasi pasar, dipicu oleh sentimen negatif dari keputusan MSCI yang membekukan sementara review indeks saham Indonesia. Berikut adalah data perdagangan real-time sesi pagi yang dihimpun tim redaksi Media Indonesia.

Indikator Nilai / Posisi Perubahan
Level IHSG (Sesi I) 7.845,85 ▼ -5,71%
Pembukaan 8.027,82 -
Penutupan Kemarin 8.320,56 ▼ -7,35%
Kurs Rupiah (JISDOR) Rp 16.722 / USD Melemah Tipis
Asing Net Sell Rp 5,38 Triliun (YTD High)

*Data perdagangan sesi pagi per pukul 10:00 WIB, 29 Januari 2026.

Analisis: 'MSCI Freeze' dan Dampaknya pada Rupiah

Kejatuhan IHSG hari ini dan kemarin bukan koreksi teknikal biasa, melainkan respons fundamental terhadap risiko capital outflow struktural. Berikut poin analisis utama:

  • Sentimen MSCI (Morgan Stanley Capital International): Keputusan MSCI untuk melakukan "Interim Freeze" atau pembekuan penyesuaian bobot saham Indonesia akibat isu transparansi free float menjadi pemicu utama. Investor asing merespons dengan melepas aset berisiko tinggi (saham Big Caps) karena khawatir Indonesia bisa turun kasta dari Emerging Market ke Frontier Market jika isu ini tidak selesai hingga Mei 2026.
  • Tekanan Mata Uang Rupiah: Derasnya dana asing yang keluar dari pasar saham (outflow) memberikan tekanan hebat pada Mata Uang Rupiah. Meskipun Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi, Rupiah masih tertahan di level lemah Rp16.700-an per USD. Jika IHSG terus tergerus, psikologis pasar dapat menyeret Rupiah mendekati level Rp17.000.
  • Sektor Terpukul: Hampir seluruh sektor memerah, dengan sektor Energi dan Perbankan mencatatkan penurunan terdalam. Saham-saham blue chip yang biasanya menjadi penopang indeks kini justru menjadi pemberat utama karena porsi kepemilikan asing yang besar di sana.

(Ant/E-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya