Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu 21 Januari 2026, bergerak menguat 1 poin atau 0,01% menjadi Rp16.955 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.956 per dolar AS.Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan kurs rupiah menguat seiring ancaman tarif Presiden AS Donald Trump kepada negara-negara Eropa.
“Rupiah hari ini berpeluang menguat di kisaran Rp16.910-Rp16.970 dipengaruhi oleh global trend pelemahan indeks dolar seiring meningkatnya risiko ancaman tarif AS ke negara-negara Eropa,” ucap Rully.
Mengapa Rupiah Tetap Anjlok?
Ada tiga faktor utama yang menyebabkan Rupiah tetap lunglai meski Dolar AS secara global sedang melemah:
- Sentimen Geopolitik Greenland: Ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap Uni Eropa terkait wilayah Greenland memicu ketidakpastian global. Investor cenderung beralih ke aset safe haven tradisional, yang sayangnya bukan mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
- Isu Independensi Bank Indonesia: Kabar mengenai pencalonan figur politik ke dalam jajaran Deputi Gubernur BI memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral dalam menjaga stabilitas moneter.
- Permintaan Valas Musiman: Di awal tahun, kebutuhan Dolar AS oleh korporasi dalam negeri untuk pembayaran utang luar negeri dan impor bahan baku biasanya meningkat tajam, sehingga menekan ketersediaan likuiditas USD di pasar domestik.
Prediksi dan Dampak
Jika level Rp17.000 tertembus, hal ini akan menjadi beban berat bagi sektor industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor. Harga barang-barang elektronik, pangan olahan, hingga transportasi berisiko mengalami kenaikan harga (imported inflation). (Ant/E-3)
