Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
THE HUD Institute mengingatkan pemerintah bahwa persoalan perumahan nasional tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan proyek semata. Tanpa integrasi data nasional, pembenahan backlog berbasis kebutuhan riil, serta skema sosial housing yang terpadu, ambisi pembangunan 3 juta rumah berpotensi kembali melahirkan ketimpangan dan salah sasaran.
Ketua Majelis Tinggi The HUD Institute, Suharso Monoarfa, menyampaikan, perumahan dan pengembangan kawasan, adalah urusan strategis negara, bukan sekadar sektor ekonomi. Negara-negara maju menempatkan housing sebagai kebijakan publik yang dilembagakan, dengan sistem data, tata kelola, dan keadilan sosial yang jelas.
“Hampir tidak ada negara maju yang menyerahkan urusan perumahan pada logika pasar semata. Perumahan adalah fondasi modernitas yang bermartabat,” tegas dalam Tasyakuran dan Ulang Tahun ke-15 The HUD Institute, kemarin.
Ia menekankan bahwa kegagalan negara dalam membangun sistem perumahan yang solid akan berdampak langsung pada ketimpangan kota, ekspansi kawasan kumuh, dan rapuhnya kohesi sosial.
Salah satu kritik utama yang mengemuka adalah absennya satu basis data perumahan nasional yang terintegrasi. Perbedaan metodologi antar lembaga membuat angka backlog tidak seragam dan sulit dijadikan dasar kebijakan jangka panjang.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, menyatakan bahwa backlog tidak bisa diperlakukan sebagai angka tunggal.
“Negara harus membedakan antara backlog kepemilikan, backlog kelayakan, dan kelompok ekstrem rentan yang tinggal di hunian tidak layak. Tanpa itu, kebijakan akan selalu meleset,” ujarnya.
Ia menegaskan, program 3 juta rumah tidak boleh direduksi menjadi pembangunan unit baru, melainkan harus mencakup renovasi rumah tidak layak huni, penataan kawasan kumuh, serta hunian vertikal perkotaan yang terjangkau dan terhubung dengan transportasi publik.
Selain itu, ia juga menyoroti urgensi pembentukan Badan Percepatan Pembangunan Perumahan Rakyat (BP3R) sebagai lembaga terintegrasi yang mengelola sisi suplai dan permintaan secara simultan, mulai dari pertanahan, perizinan, pembiayaan, hingga penghunian.
“Tanpa sistem antrian yang transparan dan basis data yang akuntabel, program perumahan akan selalu rawan salah sasaran. Ini bukan soal teknis, ini soal keadilan sosial,” tegas Fahri. (Z-10)
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan lahan milik badan usaha milik negara (BUMN) tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas komersial.
Vista Land Group mencatatkan prestasi di sektor perumahan nasional setelah meraih penghargaan sebagai pengembang rumah subsidi terbaik dalam ajang BTN Awards 2025 yang digelar di Jakarta.
PEMERINTAH Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, diketahui melakukan alih fungsi lahan baku sawah (LBS) mencapai 500 hektare setiap tahunnya dan mengubahnya menjadi kawasan hunian.
Sektor perumahan menjadi salah satu instrumen strategis Presiden Prabowo Subianto dalam mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Wamen PKP Fahri Hamzah menilai angka backlog perumahan belum bisa dianggap demand riil karena tidak dipetakan dan tidak terkonsolidasi sebagai kebutuhan.
HUNIAN berbasis Transit Oriented Development (TOD) semakin diminati masyarakat. Saat ini pilihan hunian tersebut juga semakin terjangkau.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved