Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Danau Kemiri Jadi Motor Ekonomi Desa, Pendapatan Wisata Naik 191 Persen

Naufal Zuhdi
14/1/2026 18:15
Danau Kemiri Jadi Motor Ekonomi Desa, Pendapatan Wisata Naik 191 Persen
Danau Kemiri(PGN)

Danau Kemiri di Desa Pagardewa, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, kini berkembang menjadi motor ekonomi baru berbasis wisata edukatif dan ekonomi kreatif. Transformasi ini didorong oleh program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui Program Inovasi Sosial Penguatan Desa Ekonomi Kreatif, Aman, dan Setara (Pendekar Dewa). Pada Senin (12/1), PGN menyerahkan sarana wisata edukatif kreatif berupa playground dan landmark Danau Kemiri kepada Pemerintah Desa Pagardewa sebagai bagian dari penguatan pengelolaan berbasis komunitas.

Penguatan industri pariwisata merupakan salah satu dari tiga program yang diusung PGN. Direktur Manajemen Risiko PGN Eri Surya Kelana menjelaskan bahwa program Pendekar Dewa dijalankan melalui tiga pilar utama, yakni Ekonomi Kreatif, Aman, dan Setara.

Pilar Ekonomi Kreatif diwujudkan melalui pengembangan kawasan Danau Kemiri sebagai pusat wisata edukatif dan ekonomi kreatif desa. Kawasan ini dilengkapi lima fasilitas publik, meliputi aula, booth UMKM, playground, taman lalu lintas, dan amphitheater, serta berfungsi sebagai sumber air berkapasitas 22.500 meter kubik untuk mendukung ketahanan lingkungan. Dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Rumpun Kemiri, Danau Kemiri mencatat 6.554 kunjungan sepanjang 2025 dan menghasilkan pendapatan wisata Rp92,48 juta, melonjak 191% dibandingkan periode sebelumnya.

Eri menambahkan, pengembangan Danau Kemiri dirancang melampaui fungsi estetika dan rekreasi. Kawasan ini menjadi ruang publik terpadu yang mendukung wisata edukatif, interaksi sosial, serta menyediakan sumber air alternatif untuk mitigasi kebakaran saat musim kemarau. 

“Danau Kemiri tidak hanya dikembangkan sebagai kawasan wisata, tetapi juga sebagai solusi berbasis kebutuhan masyarakat yang mendukung penguatan ketahanan lingkungan desa,” ujar Eri, Selasa (13/1).. 

Ia berharap seluruh fasilitas dan program yang telah diserahterimakan dapat dijaga dan dimanfaatkan secara optimal agar memberi manfaat jangka panjang.

Sementara itu, Pilar Aman difokuskan pada peningkatan kepastian usaha dan pendapatan petani karet melalui program stabilisasi harga, sentra bibit unggul karet, serta pengembangan budidaya madu dan penguatan UMKM keluarga petani. Hasilnya, pendapatan petani karet pada 2025 tercatat mencapai Rp57,6 juta per tahun atau meningkat 33,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Optimalisasi lahan replanting juga menghasilkan nilai ekonomi Rp120 juta, sementara 28 anggota keluarga petani, terutama perempuan, kini memiliki sumber penghasilan mandiri dengan total penjualan UMKM mencapai Rp11,38 juta.

Selama ini, Desa Pagardewa sangat bergantung pada perkebunan karet, yang menjadi sumber penghidupan sekitar 70% warganya. Yang menjadi persoalan selama ini, mereka dihadapkan pada fluktuasi harga, keterbatasan akses air bersih, serta tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau.

"Kondisi tersebut kerap menekan produktivitas dan kestabilan pendapatan, terutama bagi kelompok rentan. Melalui Pendekar Dewa, PGN menghadirkan intervensi terstruktur untuk menjawab tantangan tersebut secara bertahap dan berkelanjutan," tutur Eri

Kemudian, Pilar Setara diarahkan untuk mengatasi keterbatasan akses air bersih dan sanitasi yang sebelumnya memaksa sebagian warga menempuh jarak hingga satu kilometer. PGN membangun lima fasilitas MCK bertenaga PLTS dan membentuk kelompok Pendekar Talang sebagai pengelola air. Program ini menyediakan akses air bersih bagi 28 kepala keluarga sekaligus mendukung mitigasi kebakaran hutan dan lahan.

Eri menjelaskan bahwa Pendekar Dewa dijalankan dalam tiga fase agar dampaknya berkelanjutan. Fase pertama pada 2021-2022 difokuskan pada pembangunan fondasi dan pemetaan kebutuhan masyarakat. Fase kedua pada 2023-2024 diarahkan pada pengembangan sistem dan penguatan kemandirian, sementara fase ketiga pada 2025 menitikberatkan pada penguatan keberlanjutan melalui estafet pengelolaan kepada pemangku kepentingan lokal. 

“Program ini tidak hanya berorientasi pada bantuan jangka pendek, tetapi membangun sistem yang mampu meningkatkan ketahanan lingkungan dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” imbuhnya.

Apresiasi juga datang dari Staf Ahli Pemerintahan, Hukum, dan Politik Kabupaten Muara Enim Juli Jumatan Nuri. Ia menilai Program Pendekar Dewa dirancang komprehensif dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat. 

“Program PGN dirancang dan dijalankan dari hulu hingga hilir, mulai dari pemetaan permasalahan, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga penguatan kemandirian dan keberlanjutan pengelolaan oleh warga. Pendekatan ini mencerminkan komitmen PGN dalam menghadirkan program pemberdayaan yang tidak bersifat sesaat, melainkan memberikan dampak nyata dan berkelanjutan,” tutupnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya