Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan sejarah baru pada perdagangan Rabu pagi, 14 Januari 2026. IHSG hari ini dibuka melesat 0,66% atau bertambah 58,75 poin ke level 9.007,05. Tak lama setelah pembukaan, IHSG bahkan sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) di posisi 9.021,15.
Tabel Data Perdagangan IHSG (Sesi I - 14 Januari 2026)
| Indikator | Nilai/Posisi |
|---|---|
| Level Pembukaan | 9.007,05 |
| Level Tertinggi (Intraday) | 9.021,15 (ATH) |
| Level Terendah | 8.981,27 |
| Perubahan | +0,66% (+58,75 Poin) |
| Volume Transaksi | 2,13 Miliar Saham |
| Nilai Transaksi | Rp1,21 Triliun (Menit Awal) |
| Kurs Rupiah (Jisdor) | Rp16.875 per USD |
Analisis: Mengapa IHSG Melesat Pecah Rekor?
Kenaikan fantastis IHSG pagi ini dipicu oleh perpaduan sentimen domestik yang solid dan gairah sektor komoditas. Berikut adalah faktor kuncinya:
- Sentimen Biodiesel B40: Kepastian pemerintah untuk merealisasikan program mandatori B40 tahun ini memberikan angin segar bagi emiten sektor perkebunan dan energi.
- Lonjakan Sektor Nikel: Rencana pemangkasan produksi nikel Indonesia guna menjaga stabilitas harga global telah mendorong saham-saham seperti INCO, MBMA, dan MDKA menjadi motor penggerak indeks.
- Inflow Asing: Aksi beli bersih (net buy) investor asing yang mencapai Rp1,99 triliun pada perdagangan sebelumnya memberikan kepercayaan diri tinggi bagi pelaku pasar lokal untuk terus melakukan akumulasi.
- Top Gainers: Saham raksasa BREN (Barito Renewables Energy) melonjak 5,98% ke Rp9.750, disusul TINS (Timah) yang menguat 5,74% ke level Rp3.870.
Meskipun bursa global seperti Wall Street sedang tertekan akibat isu kebijakan suku bunga kartu kredit di AS, pasar domestik menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Analis memprediksi IHSG akan mencoba bertahan di atas level support 8.900 dengan target resistance selanjutnya di kisaran 9.100 jika momentum beli terus terjaga hingga penutupan sesi II.
Waspada: Investor disarankan tetap mencermati fluktuasi nilai tukar Rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp16.800-an per dolar AS serta eskalasi ketidakpastian geopolitik global yang dapat memicu aksi ambil untung (profit taking) sewaktu-waktu.
