NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan Selasa, 13 Januari 2026. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka terdepresiasi sebesar 0,09% dan berada di level Rp16.840 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp16.825. Para analis memperkirakan pergerakan kurs hari ini akan berada dalam rentang sempit antara Rp16.770 hingga Rp16.900 per dolar AS.
Pemicu Pelemahan dari Pasar Global
Sentimen negatif utama datang dari ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat. Isu mengenai independensi The Federal Reserve kembali mencuat setelah adanya laporan investigasi internal terhadap pimpinan bank sentral tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas kebijakan suku bunga AS di masa depan.
Indeks Dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis ke level 98,950 pada pukul 09.00 WIB. "Investor cenderung berhati-hati dan mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman (safe haven) seperti emas, sementara mata uang pasar berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan jual," ujar salah satu pengamat pasar uang di Jakarta.
Optimisme Ekonomi Domestik 2026
Meski nilai tukar mengalami fluktuasi, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kokoh. Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, dalam pernyataannya baru-baru ini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 dapat mencapai kisaran 5,4% hingga 5,5%.
Sektor perdagangan dan investasi diperkirakan akan menjadi penopang utama. Pemerintah Indonesia juga dijadwalkan menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos pekan depan untuk menarik minat investor global, yang diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.
Referensi Kurs Bank Indonesia (JISDOR)
Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan pasar secara real-time melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Hingga berita ini diturunkan, BI diperkirakan akan tetap melakukan intervensi di pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) guna menjaga volatilitas rupiah agar tidak bergerak terlalu liar di tengah gejolak global.
Bagi pelaku usaha dan masyarakat yang ingin melakukan transaksi valuta asing, disarankan untuk memantau kurs secara berkala mengingat fluktuasi pasar yang cukup tinggi pada sesi perdagangan hari ini.
