Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

IHSG Hampir Sentuh 9.000, Pengamat: Indikasikan Optimisme Pasar

Ihfa Firdausya
07/1/2026 22:45
IHSG Hampir Sentuh 9.000, Pengamat: Indikasikan Optimisme Pasar
Ilustrasi.(Antara Foto)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hampir menyentuh level 9.000. Pada penutupan perdagangan Rabu 7 Januari 2026 sore, IHSG ditutup terapresiasi 11,19 poin atau setara 0,13 persen ke level 8.944,80.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, pergerakan IHSG yang mendekati 9.000 mencerminkan pelaku pasar sedang memberi bobot lebih besar pada prospek pertumbuhan laba dan dukungan likuiditas, dibandingkan kekhawatiran jangka pendek lainnya.

Dalam konteks ini, katanya, kenaikan IHSG umumnya ditopang oleh dua mesin utama. Pertama, penurunan imbal hasil instrumen pendapatan tetap yang membuat investor mencari alternatif imbal hasil di saham.

Kedua, ekspektasi bahwa pelonggaran kebijakan suku bunga dan dukungan fiskal akan memperbaiki permintaan domestik serta mendorong pemulihan laba emiten. 

"Adanya perpindahan alokasi investor institusi ke saham ketika imbal hasil surat utang menurun, serta kondisi valuasi saham yang dinilai lebih menarik karena tingkat laba terhadap harga saham sekitar 8%, sementara imbal hasil surat utang pemerintah sekitar 6%," ujarnya kepada Media Indonesia, Rabu (7/1).

Namun, kata Josua, IHSG yang tinggi tidak otomatis berarti penguatan pasar yang merata. Pasar bisa tampak sangat kuat di permukaan, tetapi sebenarnya ditopang oleh konsentrasi kenaikan pada segelintir saham berkapitalisasi besar atau saham yang sedang menjadi pusat perhatian.

Untuk tahun 2025, terlihat perbedaan yang lebar antara kinerja IHSG dan indeks saham unggulan LQ45, yang mana LQ45 hanya naik 2,41%. Zementara IHSG naik 22,13%, dan kondisi ini dijelaskan sebagai hasil dari konsentrasi kenaikan pada sejumlah kecil saham berdaya dorong besar.

"Artinya, mendekati 9.000 bisa mengindikasikan optimisme, tetapi kualitas optimisme itu tetap perlu dibaca dari seberapa luas partisipasi sektor dan saham, bukan hanya angka indeksnya," ujarnya.

Jika IHSG benar-benar menembus 9.000, kata Josua, dampak pertama biasanya bersifat psikologis. Kepercayaan diri pasar akan menguat, minat investor ritel meningkat, dan investor institusi yang selama ini menunggu kepastian cenderung lebih berani menambah posisi.

"Dampak lanjutan yang lebih penting adalah turunnya biaya penghimpunan dana di pasar saham bagi emiten, sehingga ruang untuk ekspansi investasi, penawaran saham baru, maupun aksi korporasi menjadi lebih terbuka. Pada akhirnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi melalui jalur pembiayaan," paparnya.

Akan tetapi, lanjutnya, keberlanjutan setelah menembus 9.000 akan sangat ditentukan oleh apakah kenaikan indeks didukung oleh perbaikan laba dan stabilitas makro, terutama stabilitas nilai tukar.

"Pelemahan rupiah disebut sebagai salah satu risiko kunci karena dapat menaikkan biaya input impor, menekan laba, dan mendorong otoritas moneter menahan pelonggaran agar inflasi tidak meningkat," pungkasnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya