Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
TREN positif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir-akhir ini tidak dibarengi penguatan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan 7 Januri 2026 sore, IHSG hampir menyentuh 9.000 atau di level 8.944,80.
Namun pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (7/1) ini.
Pada pasar spot, nilai tukar rupiah ditutup melemah 22 poin atau setara 0,13% ke level Rp16.780 per dolar AS, tergelincir dari posisi penutupan sebelumnya di angka Rp16.758 per dolar AS.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, perihal IHSG yang naik sementara rupiah masih tertekan sebenarnya cukup lazim. Pasalnya keduanya digerakkan oleh mekanisme yang berbeda.
Pertama, katanya, tidak semua penguatan IHSG berasal dari arus dana asing yang menambah pasokan valuta asing di pasar. Sebagian kenaikan justru bisa datang dari perpindahan dana domestik.
"Misalnya dana pensiun dan asuransi yang meningkatkan alokasi ke saham ketika imbal hasil instrumen pendapatan tetap menurun. Perpindahan dana domestik seperti ini mengangkat IHSG tetapi tidak memperkuat rupiah karena tidak menciptakan pasokan valuta asing baru," katanya kepada Media Indonesia, Rabu (7/1).
Kedua, rupiah ditentukan oleh keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing secara keseluruhan. Hal itu dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran impor, cicilan utang luar negeri, repatriasi keuntungan, serta perubahan ekspektasi pelaku pasar terhadap defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal.
"Kami menilai rupiah berpotensi menghadapi tekanan pelemahan moderat pada awal 2026 karena ketidakpastian global dan kekhawatiran defisit kembar, serta memperkirakan rupiah bergerak lebih lemah di kisaran 16.725–16.825 dalam tiga bulan ke depan," ungkap Josua.
Ketiga, faktor musiman dan guncangan eksternal sering membuat rupiah bergerak tidak sejalan dengan IHSG dalam jangka pendek. Pihaknya mencatat, pada awal Desember 2025 rupiah sempat menguat karena arus dana masuk ke pasar saham.
Namun ia kemudian melemah ketika data impor Tiongkok lebih lemah dari perkiraan dan ketika permintaan dolar meningkat menjelang libur panjang akhir tahun.
Keempat, sambung dia, bila neraca pembayaran sedang tertekan dan cadangan devisa menurun, rupiah bisa tetap rentan walaupun pasar saham terlihat kuat. Tekanan neraca pembayaran dan turunnya cadangan devisa disebut ikut mendorong tekanan pelemahan rupiah.
"Dengan kata lain, penguatan IHSG mendekati 9.000 lebih tepat dibaca sebagai cerminan optimisme dan dukungan likuiditas terhadap aset berisiko. Sementara rupiah mencerminkan penilaian pasar terhadap daya tahan eksternal Indonesia dalam menghadapi kebutuhan valuta asing dan persepsi risiko defisit kembar," papar Josua.
Menurutnya, kombinasi IHSG kuat tetapi rupiah masih tertekan biasanya menjadi sinyal bahwa sentimen pasar saham membaik. Namun fondasi eksternal masih perlu diperkuat agar penguatan aset keuangan dapat lebih selaras dengan stabilitas nilai tukar. (H-4)
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hampir menyentuh level 9.000. Pada penutupan perdagangan Rabu (7/1) sore, IHSG ditutup terapresiasi 11,19 poin
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved