Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Rupiah Terkoreksi Akibat Silang Pendapat The Fed dan Geopolitik Venezuela

 Gana Buana
07/1/2026 17:30
Rupiah Terkoreksi Akibat Silang Pendapat The Fed dan Geopolitik Venezuela
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada Rabu (7/1/2026).(Antara)

PERGERAKAN nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (7/1). Mata uang Garuda terkoreksi akibat tekanan eksternal ganda, yakni ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) serta eskalasi geopolitik di Venezuela.

Pada pasar spot, nilai tukar rupiah ditutup melemah 22 poin atau setara 0,13% ke level Rp16.780 per dolar AS, tergelincir dari posisi penutupan sebelumnya di angka Rp16.758 per dolar AS.

Senada dengan pasar spot, data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatatkan pelemahan. Kurs referensi tersebut berada di posisi Rp16.785 per dolar AS, melemah dibandingkan hari sebelumnya yang bertengger di Rp16.762 per dolar AS.

Silang Pendapat Pejabat The Fed

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menganalisis bahwa pelemahan rupiah kali ini sangat dipengaruhi oleh sinyal yang membingungkan dari para pengambil kebijakan The Fed. Terdapat perbedaan pandangan tajam antara pejabat bank sentral AS tersebut mengenai masa depan suku bunga.

"Gubernur The Fed, Stephen Miran, menilai aktivitas bisnis AS masih solid namun tetap membenarkan perlunya pemangkasan suku bunga. Sebaliknya, Presiden The Fed Richmond, Thomas Barkin, justru menegaskan bahwa suku bunga saat ini sudah berada di level netral, tidak merangsang maupun menghambat ekonomi," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu.

Pelaku pasar kini bersikap wait and see. Berdasarkan data CME FedWatch, terdapat probabilitas sebesar 82 persen bahwa suku bunga acuan akan ditahan pada pertemuan FOMC tanggal 27-28 Januari mendatang.

Menanti Data NFP dan Isu Venezuela

Selain faktor kebijakan moneter, investor global juga tengah menantikan rilis data tenaga kerja AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) periode Desember 2025 yang dijadwalkan keluar pada Jumat (9/1). "Kekuatan pasar tenaga kerja akan menjadi variabel kunci bagi Federal Reserve dalam menentukan pivot kebijakan mereka," tambah Ibrahim.

Dari sisi geopolitik, invasi AS ke Venezuela menjadi sentimen negatif yang mengguncang pasar. Situasi memanas setelah Washington mengonfirmasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhir pekan lalu.

"Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Caracas telah menyepakati pasokan minyak antara 30 juta hingga 50 juta barel ke Amerika Serikat pasca-penangkapan tersebut. Dinamika ini memicu kekhawatiran baru di pasar energi dan keuangan global yang berimbas pada aset berisiko seperti rupiah," pungkas Ibrahim. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik