Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PERGERAKAN nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (7/1). Mata uang Garuda terkoreksi akibat tekanan eksternal ganda, yakni ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) serta eskalasi geopolitik di Venezuela.
Pada pasar spot, nilai tukar rupiah ditutup melemah 22 poin atau setara 0,13% ke level Rp16.780 per dolar AS, tergelincir dari posisi penutupan sebelumnya di angka Rp16.758 per dolar AS.
Senada dengan pasar spot, data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatatkan pelemahan. Kurs referensi tersebut berada di posisi Rp16.785 per dolar AS, melemah dibandingkan hari sebelumnya yang bertengger di Rp16.762 per dolar AS.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menganalisis bahwa pelemahan rupiah kali ini sangat dipengaruhi oleh sinyal yang membingungkan dari para pengambil kebijakan The Fed. Terdapat perbedaan pandangan tajam antara pejabat bank sentral AS tersebut mengenai masa depan suku bunga.
"Gubernur The Fed, Stephen Miran, menilai aktivitas bisnis AS masih solid namun tetap membenarkan perlunya pemangkasan suku bunga. Sebaliknya, Presiden The Fed Richmond, Thomas Barkin, justru menegaskan bahwa suku bunga saat ini sudah berada di level netral, tidak merangsang maupun menghambat ekonomi," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu.
Pelaku pasar kini bersikap wait and see. Berdasarkan data CME FedWatch, terdapat probabilitas sebesar 82 persen bahwa suku bunga acuan akan ditahan pada pertemuan FOMC tanggal 27-28 Januari mendatang.
Selain faktor kebijakan moneter, investor global juga tengah menantikan rilis data tenaga kerja AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) periode Desember 2025 yang dijadwalkan keluar pada Jumat (9/1). "Kekuatan pasar tenaga kerja akan menjadi variabel kunci bagi Federal Reserve dalam menentukan pivot kebijakan mereka," tambah Ibrahim.
Dari sisi geopolitik, invasi AS ke Venezuela menjadi sentimen negatif yang mengguncang pasar. Situasi memanas setelah Washington mengonfirmasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhir pekan lalu.
"Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Caracas telah menyepakati pasokan minyak antara 30 juta hingga 50 juta barel ke Amerika Serikat pasca-penangkapan tersebut. Dinamika ini memicu kekhawatiran baru di pasar energi dan keuangan global yang berimbas pada aset berisiko seperti rupiah," pungkas Ibrahim. (Ant/Z-10)
HARGA bitcoin kembali mengalami pelemahan di bawah US$90.000 setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%.
HARGA emas hari ini dan perak terus mencatatkan rekor kenaikan pada Kamis (29/1) akibat pembelian aset aman di tengah ketegangan geopolitik dan ekonomi, serta setelah kebijakan The Fed AS.
Federal Reserve (The Fed) hampir dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan kebijakan terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/1) sore waktu setempat
Memahami dinamika harga emas tidak hanya sekadar melihat grafik harian.
Selain faktor suku bunga, Deni menilai bahwa kondisi neraca pembayaran pemerintah juga turut memberikan tekanan.
Harga emas batangan Antam diprediksi akan melanjutkan tren kenaikan hingga mendekati level psikologis Rp2,7 juta per gram akibat sentimen positif melandainya inflasi Amerika Serikat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved