Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ekonom: Inflasi Desember 2025 tidak Sekadar Lonjakan Musiman Akhir Tahun

Ihfa Firdausya
05/1/2026 15:38
Ekonom: Inflasi Desember 2025 tidak Sekadar Lonjakan Musiman Akhir Tahun
Sejumlah petani memanen bawang merah saat panen raya akhir tahun di Gondang, Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (12/12/2025).(Antara/Muhammad Mada)

KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman memberikan pandangan terkait angka inflasi Desember 2025 yang baru dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS mencatat pada Desember 2025 terjadi inflasi sebesar 0,64% (m-to-m) atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,22 pada November 2025 menjadi 109,92 pada Desember 2025. Inflasi bulanan pada Desember ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 0,17%.

Adapun secara tahunan (y-on-y), pada Desember 2025 terjadi inflasi sebesar 2,92% atau terjadi kenaikan IHK dari 106,80 pada Desember 2024 menjadi 109,92 pada Desember 2025. Angka inflasi itu lebih tinggi dibandingkan periode sama Desember 2024 sebesar 1,57%.

"Angka inflasi Desember yang dirilis BPS perlu dibaca lebih dalam, tidak sekadar sebagai lonjakan musiman akhir tahun," kata Rizal saat dihubungi, Senin (5/1).

Inflasi tahunan (yoy) dan tahun kalender yang naik tajam, katanya, memang dipengaruhi basis inflasi tahun lalu yang rendah. Namun ia juga mencerminkan mulai menguatnya tekanan harga seiring pemulihan permintaan dan meningkatnya biaya distribusi.

"Secara level masih berada dalam rentang sasaran, namun arah kenaikannya patut diwaspadai karena terjadi di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih," jelas Rizal.

Sementara dari sisi bulanan, inflasi 0,64% (mtm) yang melonjak dari 0,17% pada November 2025 menegaskan kuatnya faktor musiman Natal dan Tahun Baru, peningkatan mobilitas, serta penyesuaian harga pangan dan jasa.

"Fakta bahwa seluruh provinsi mencatat inflasi menunjukkan tekanan harga yang semakin merata dan tidak lagi bersifat lokal. Pola ini penting dicermati karena inflasi yang menyebar biasanya lebih persisten dan berpotensi menahan laju disinflasi ke depan," pungkasnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyebut dalam lima tahun terakhir, tingkat inflasi yang tinggi umumnya terjadi pada periode-periode perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), momen puasa, Lebaran, dan juga perayaan Natal dan Tahun Baru.

“Secara historis, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi terbesar di setiap Desember,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (5/1).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,58% dan memberikan andil inflasi sebesar 1,33%.  

Begitu pun kelompok pengeluaran menyumbang inflasi bulanan terbesar yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar 1,66% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,48%.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi bulanan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau adalah cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,17%, kemudian daging ayam ras dengan andil inflasi sebesar 0,09%. (Ifa/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik