Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Aspebindo Ungkap 4 Tantangan Berat Sektor Energi Tahun Depan

Rahmatul Fajri
20/12/2025 10:31
Aspebindo Ungkap 4 Tantangan Berat Sektor Energi Tahun Depan
Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira.(Dok. ASPEBINDO)

ASOSIASI Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) menegaskan bahwa penguatan rantai pasok energi nasional harus ditempatkan sebagai fondasi kedaulatan negara, bukan lagi sekadar isu teknis logistik atau komoditas dagang.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira, saat membuka gelaran Indonesia Energy Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (17/12). Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, serta jajaran petinggi BUMN energi.

"Energi adalah darah bagi perekonomian. Kami melihat rantai pasok dalam tiga dimensi strategis: penjamin ketahanan rakyat, mesin pertumbuhan ekonomi melalui efisiensi biaya, serta instrumen kedaulatan untuk mengurangi ketergantungan impor," kata Anggawira.

Meski optimistis, Anggawira memberikan peringatan dini terkait empat tantangan besar (Key Challenges) yang diprediksi akan menekan sektor energi Indonesia pada tahun 2026. Tantangan pertama adalah fragmentasi rantai pasok global akibat konflik geopolitik yang mengganggu rute perdagangan tradisional.

Tantangan kedua berasal dari faktor internal, yakni kesenjangan infrastruktur (infrastructure gaps) yang masih lebar. Menurut Anggawira, konektivitas antarwilayah yang belum merata menyebabkan biaya logistik energi di Indonesia menjadi salah satu yang termahal di kawasan regional.

Selain itu, tantangan ketiga berkaitan dengan dilema transisi energi. Indonesia didesak melakukan investasi hijau, sementara dominasi energi fosil masih sangat kuat untuk menopang beban dasar (baseload). Terakhir, Anggawira menyoroti masalah ketidakpastian regulasi yang kerap menghambat investasi jangka panjang.

"Inkonsistensi kebijakan adalah musuh utama investasi. Investor membutuhkan aturan main yang stabil dan tidak berubah-ubah di tengah jalan," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ASPEBINDO juga mendorong demokratisasi sektor energi dengan melibatkan koperasi. Kehadiran Menteri Koperasi Ferry Juliantono dinilai sebagai sinyal kuat bahwa sektor energi tidak lagi eksklusif milik korporasi besar.

Sebagai langkah konkret, Anggawira memperkenalkan inisiatif Koperasi Merah Putih yang akan menjadi ujung tombak eksekusi di lapangan. Koperasi ini diproyeksikan sebagai agregator bagi pengusaha daerah dan pelaku UMKM agar dapat masuk ke dalam rantai pasok industri energi secara profesional.

"Koperasi Merah Putih hadir untuk menjahit potensi pengusaha daerah agar bisa masuk ke rantai pasok industri besar. Ini adalah wadah konkret kami untuk memastikan bahwa kue pembangunan energi dinikmati secara merata melalui semangat gotong royong," pungkas Anggawira. (H-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya