Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani turut merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan (BI Rate) di angka 4,75%. Shinta mengatakan bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah yang paling prudent dalam konteks tantangan makro ekonomi yang ada saat ini, khususnya ketika nilai tukar masih rentan mengalami pelemahan dalam jangka pendek-menengah.
“Memang pelaku usaha mengharapkan tren penurunan suku bunga acuan bisa berlanjut untuk turut mendorong kinerja ekonomi sektor riil. Namun, bila suku bunga acuan turun dengan kondisi nilai tukar terus melemah juga, dalam penilaian kami kondisi tersebut juga tidak ideal karena secara agregat tetap menjadi beban pertumbuhan kinerja pasar di lapangan,” kata Shinta saat dihubungi, Rabu (17/12).
Selain itu, dengan menahan suku bunga di level ini, Shinta meyakini bahwa suku bunga pinjaman riil tetap terbuka untuk turun apabila stabilitas makro dan pertumbuhan kinerja pasar relatif stabil.
“Apalagi stimulasi kinerja pasar di sektor riil juga sebetulnya bisa dipicu dengan instrumen lain (non-suku bunga acuan) seperti percepatan realisasi deregulasi dan debirokratisasi di lapangan atau dengan relaksasi ketentuan-ketentuan perkreditan usaha sehingga akses pembiayaan usaha dan investasi menjadi lebih mudah meskipun suku bunganya belum turun,” sebut dia.
Lebih jauh, meski Apindo berharap suku bunga acuan dan suku bunga pinjaman riil bisa terus turun ke level yang bersaing di kawasan, pihaknya tetap mendukung kebijakan suku bunga BI saat ini sambil berharap suku bunga bisa kembali turun ketika stabilitas makro relatif lebih stabil/manageable dalam waktu dekat.
Dihubungi secara terpisah, Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani menyatakan bahwa dunia usaha mempunyai ekspektasi agar suku bunga acuan bisa diturunkan 25 basis point menjelang akhir tahun.
“Kalau selanjutnya Bank Indonesia menahan di 4,75%, dunia usaha mengapresiasi sebagai bentuk upaya moneter menjaga stabilitas. Kuartal keempat tahun 2025 ini menjadi ukuran tingkat pertumbuhan ekonomi, sebagai landasan untuk memasuki tahun 2026,” tuturnya.
Namun demikian, sambung Ajib, sebelum masuk kuartal kedua 2026, idealnya Bank Indonesia memberikan stimulus moneter agar pertumbuhan ekonomi tetap stabil di atas 5% per kuartal. (Fal/M-3)
KETUA Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5%–6% bukanlah capaian yang patut dibanggakan.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp911,16 miliar untuk memberikan diskon transportasi selama periode mudik Lebaran 2026.
Indef menilai outlook negatif Moody’s mencerminkan kenaikan persepsi risiko, bukan pelemahan fundamental, sehingga menekan kepercayaan investor.
TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80%, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 33,79%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved