Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pangan Nasional (Bapanas) mendorong mobilisasi stok cabai dari daerah sentra produksi ke wilayah yang kekurangan. Tujuannya untuk mengendalikan dinamika harga cabai yang dipengaruhi musim penghujan di akhir tahun.
Terlebih, menjelang momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta libur panjang, masyarakat perlu mendapatkan akses pangan pokok strategis yang tersedia dengan harga yang wajar.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono menyebut hal itu perlu diantisipasi karena akhir tahun biasanya musim hujan, produk hortikultura seperti sayuran dan cabai memang rentan terhadap perubahan cuaca.
"Khusus cabai, ini agak berbeda. Begitu perubahan cuaca, misalnya hujan, biasanya para petani tidak metik atau petikannya tidak sebanyak kalau kondisi normal," ungkapnya dalam keterangan yang dikutip, Selasa (16/12).
"Di Jakarta juga seperti itu kondisinya. Pada saat musim hujan di daerah-daerah sentra mungkin pemetikannya kurang, sehingga harga terkoreksi. Begitu nanti kondisi normal akan kembali ke normal. Solusinya bagaimana produksi-produksi cabai di daerah-daerah sentra ini bisa dimobilisasi untuk ke daerah-daerah yang kekurangan," imbuhnya.
Untuk itu, Bapanas memfasilitasi secara business to business agar pedagang besar cabai di Jakarta dapat melakukan pembelian langsung dari petani cabai di Aceh Tengah. Dengan rerata pasokan 13 ton per hari, mobilisasi stok cabai dari Aceh Tengah akan didistribusikan ke Pasar Induk Senen, Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Induk Tanah Tinggi, Pasar Induk Cibitung sampai Pasar Induk Caringin Bandung.
Selain Aceh Tengah, dalam pantauan Bapanas, daerah sentra produksi cabai dengan harga yang relatif terjangkau masih ada di Kabupaten Jeneponto, Enrekang, dan Wajo Sulawesi Selatan. Hal itu akan ditindaklanjuti kembali oleh Bapanas bersama Kementerian Pertanian terkait penjajakan mobilisasi stok.
"Memang ada tantangan distribusi karena faktor cuaca dan sebagainya, yang kemudian bisa menyebabkan terganggu pasokan dan ujungnya terkoreksi harga tadi. Nah tapi kita terus lihat perkembangannya day per day secara nasional," sebut Maino.
Menurutnya, program kerja sama antardaerah sudah berjalan dalam sekian tahun terakhir. Daerah-daerah yang bukan sentra melaksanakan kerja sama dengan daerah sentra.
"Hal yang lainnya ada peranan pemerintah daerah, bagaimana membantu biaya distribusi, biaya transportasi, sehingga membantu masyarakat bisa menikmati harga pangan dengan harga baik tentunya," tambah Maino.
Dalam pantauan harga melalui Panel Harga Pangan per 14 Desember, daerah dengan rerata harga cabai tingkat produsen yang masih baik, ada di Sulawesi Utara (Sulut) dan Sulawesi Selatan (Sulsel).
Di Sulut, komoditas cabai merah kering dan cabai merah besar masing-masing memiliki rerata harga Rp20.000 per kilogram (kg) dan Rp30.000 per kg. Sementara di Sulsel cabai rawit merah di Rp30.750 per kg.
Tantangan distribusi produk hortikultura ini telah diingatkan pula oleh Kepala Bapanas yang juga mengemban amanah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Amran telah meminta jajarannya untuk segera bertindak dalam upaya meminimalisir fluktuasi harga.
"Cabai kami sudah minta Dirjen Hortikultura. Cabai dan bawang, karena bawang merah kita sudah ekspor juga. Nah tinggal distribusinya yang perlu kita kuatkan," kata Amran, belum lama ini.
Proyeksi Neraca Pangan per Desember 2025, produksi bulanan cabai besar diestimasikan meningkat 22,3% pada Desember dibandingkan November. Cabai besar di Desember dapat mencapai produksi 127,8 ribu ton, sementara November 104,5 ribu ton.
Untuk produksi cabai rawit di Desember 2025 ini diperkirakan dapat mencapai 108,6 ribu ton. Sementara kebutuhan konsumsi cabai rawit bulanan secara nasional untuk cabai besar dan cabai rawit merah berada di kisaran 76 ribu sampai 78 ribu ton. Dengan begitu, produksi bulanan dinilai masih cukup memenuhi kebutuhan konsumsi. (I-3)
APCI memprediksi setelah periode Imlek, harga cabai rawit merah akan bergerak turun secara bertahap.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, mengatakan hasil sidak menunjukkan kondisi harga relatif stabil dan pasokan tersedia.
Tradisi mudik yang memacu mobilitas masyarakat juga perlu disiapkan sejak dini.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, komoditas seperti beras, daging ayam, telur ayam, gula, dan daging sapi masih mencukupi untuk tiga bulan ke depan.
"Kepada para pelaku usaha pangan, mohon harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah dapat dipedomani, khususnya selama Ramadan sampai Idulfitri."
Adapun total bantuan yang telah disalurkan mencapai sekitar 353,5 ribu ton beras dan 70,7 juta liter minyak goreng.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved