Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH didesak segera menyelesaikan persoalan utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Proyek ini sempat disebut sebagai barang busuk oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut sebelumnya menjabat sebagai Ketua Komite Percepatan Pembangunan Kereta Cepat saat pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics & Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman berpandangan pemerintah perlu menata ulang fondasi keekonomian proyek, bukan sekadar menambal defisit keuangan yang terjadi.
Sejak awal, ujar dia, proyek ini dirancang dengan asumsi komersial yang terlalu optimistis tanpa memperhitungkan keseimbangan antara beban investasi, kapasitas penumpang, dan tarif yang realistis. Oleh karena itu menurut Rizal, penyelesaian masalah tidak cukup dilakukan dengan menambah penyertaan modal negara atau menunggu peningkatan jumlah penumpang.
"Dibutuhkan langkah penyelamatan strategis dari pemerintah mengenai proyek kereta cepat ini," ungkapnya kepada Media Indonesia, Minggu (19/10).
Pemerintah, lanjutnya, perlu melakukan re-engineering atau menata ulang model bisnis agar proyek menjadi lebih produktif dan berkelanjutan. Langkah tersebut harus diiringi negosiasi restrukturisasi utang yang melibatkan aspek bunga, tenor, serta perbaikan manajemen dan tata kelola.
Lebih jauh, proyek ini sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pengembangan koridor transportasi (transportation corridor development), bukan hanya sebagai moda transportasi. Dengan demikian, ujarnya, pendapatan non-tiket seperti pemanfaatan lahan di sekitar stasiun, konektivitas logistik, serta integrasi dengan kawasan industri dan properti harus menjadi sumber utama perbaikan arus kas dan pelunasan utang.
Pendekatan ini, lanjutnya, mencakup pembangunan ekosistem ekonomi terintegrasi antara sektor pariwisata, industri manufaktur, serta pusat bisnis di jalur Jakarta-Bandung dan kota-kota yang dilewati.
Dari sisi fiskal, menurut Rizal, keterlibatan APBN seharusnya menjadi opsi terakhir dan bersifat bersyarat. Pemerintah bisa menerapkan mekanisme fiscal firewall, yakni batasan tegas agar risiko utang tidak langsung membebani neraca fiskal. "Kemudian, dikelola melalui lembaga khusus yang berorientasi pada pemulihan pendapatan (revenue recovery)," jelasnya.
Tanpa reformasi tata kelola dan pembagian risiko yang jelas antara pemerintah, BUMN, dan investor, proyek ini berpotensi terus menjadi beban tanpa arah penyelesaian. Karena itu, tegas Rizal, penyelesaian utang kereta cepat bukan hanya soal siapa yang membayar, tetapi bagaimana menjadikan proyek ini memiliki nilai tambah (value creation) nyata bagi perekonomian nasional. (H-4)
Penjualan tiket Whoosh diprediksi akan terus bertambah dan diperkirakan dapat melampaui 23 ribu penumpang hingga malam nanti, seiring tingginya mobilitas saat libur Natal 2025.
lembaga negara didesak menindaklanjuti dugaan mark up proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung atau Whoosh yang sebelumnya diungkapkan oleh mantan Menko Polhukam Mahfud MD.
GENERAL Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa turut buka suara menjawab pernyataan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal proyek Whoosh.
KPK menegaskan tetap melanjutkan penyelidikan dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh meski Presiden Prabowo Subianto tanggung jawab utang Whoosh
Presiden Prabowo Subianto meminta publik tak perlu cemas dan khawatir mengenai permasalahan utang dari proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) Whoosh
MANTAN Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M Praswad Nugraha, meminta penanganan kasus dugaan korupsi kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh, transparan dan independen.
PEMERINTAH Indonesia menghentikan sementara izin operasional PT Toba Pulp Lestari (TPL) menyusul tuduhan kuat bahwa aktivitas perusahaan pulp dan kertas tersebut ikut berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan bencana ekologis di wilayah Sumatra.
KETUA Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan kembali menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki keterkaitan maupun kepemilikan dengan PT Toba Pulp Lestari (TPL).
KETUA Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa dirinya telah menolak keberadaan PT Toba Pulp Lestari sejak lebih dari 20 tahun lalu.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan membantah tuduhan yang mengaitkannya dengan kepemilikan perusahaan Toba Pulp Lestari (TPL).
Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan sejarah pembangunan kawasan industri Morowali dimulai pada era Presiden SBY.
KETUA Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Woosh sudah mampu
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved