Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menilai bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan pembangunan nasional di tengah dinamika kebijakan fiskal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Ia menyoroti adanya penurunan pada pos Transfer Keuangan Daerah (TKD), meskipun secara keseluruhan belanja negara untuk pembangunan di daerah mengalami peningkatan.
Menurut Azis, kebijakan ini tidak dapat dilihat semata dari sisi nominal, melainkan harus dipahami dalam konteks perubahan arah kebijakan pembangunan. Saat ini, banyak program kementerian dan lembaga dirancang langsung menyasar ke daerah melalui mekanisme sektoral. Dengan demikian, efektivitas pembangunan daerah tidak lagi bergantung pada besaran transfer fiskal, tetapi pada sinergi antara kebijakan pusat dan kebutuhan nyata di lapangan.
“Pembangunan daerah tidak boleh hanya bergantung pada besaran transfer fiskal. Sinergi lintas sektor antara kementerian/lembaga dan pemerintah daerah menjadi kebutuhan struktural agar pembangunan berjalan efektif dan merata,” ujar Azis dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (16/10).
Azis juga menekankan pentingnya peran Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai fasilitator utama dalam menyatukan arah pembangunan pusat dan daerah. Menurutnya, Kemendagri harus mampu menjembatani komunikasi antara kementerian teknis dan pemerintah daerah untuk menyelaraskan prioritas pembangunan serta memastikan setiap program nasional memiliki relevansi terhadap kebutuhan masyarakat di daerah.
Ia menambahkan bahwa kebijakan pengurangan TKD oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan sejatinya bertujuan untuk mengefisienkan distribusi anggaran. Namun, ia mengingatkan agar langkah tersebut tidak menimbulkan dampak negatif, khususnya bagi daerah dengan kapasitas fiskal terbatas. “Tanpa perencanaan dan koordinasi matang, pemangkasan TKD bisa menghambat kemampuan daerah dalam membayar gaji ASN, tunjangan P3K, dan layanan dasar seperti pendidikan serta kesehatan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Azis menilai bahwa perencanaan pembangunan harus dilakukan secara integratif dengan melibatkan pemerintah daerah sejak tahap awal. Ia juga mendorong adanya evaluasi bersama yang transparan antara pusat dan daerah untuk menghindari tumpang tindih kebijakan. “Belanja kementerian yang diarahkan ke daerah harus berdampak ganda bukan hanya menyelesaikan proyek, tetapi juga memperkuat kapasitas ekonomi lokal,” ujarnya.
Azis menekankan agar keseimbangan fiskal nasional dijaga secara adil. Menurutnya, APBN dan APBD harus dipandang sebagai satu kesatuan sistem pembangunan nasional yang saling melengkapi. “Kekuatan pembangunan Indonesia ada di daerah. Sinergi pusat dan daerah adalah kunci agar pembangunan benar-benar dirasakan hingga pelosok, bukan hanya di kota besar,” pungkasnya. (H-3)
Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan ketatnya persaingan global, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor kunci kemajuan suatu bangsa.
Ketua Umum Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI), Husnain, menegaskan bahwa pembangunan nasional akan rapuh jika tidak memperhatikan kemampuan dan kesesuaian lahan.
Asosiasi penyelenggara jaringan telekomunikasi menyoroti empat persoalan utama yang dianggap dapat memperlambat pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Plt. Deputi Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, menegaskan peran strategis zakat dalam pembangunan nasional.
BAZNAS menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2025 dengan mengusung tema "Menguatkan Baznas, Mendukung Astacita" sebagai dukungan terhadap agenda pembangunan nasional.
Karena coretax berjalan belum sesuai perencanaan awal. Sehingga hal ini justru menyebabkan penerimaan pajak tersendat.
Kebijakan peningkatan belanja pada 2025 sudah berada di jalur yang tepat. Namun, tantangan besar ke depan adalah memastikan efektivitasnya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bonus atlet SEA Games Thailand senilai Rp480 miliar bersumber dari APBN, bukan uang pribadi Presiden. Peraih emas terima Rp1 miliar.
DEFISIT fiskal Indonesia pada 2025 tercatat melebar melampaui target pemerintah, seiring percepatan belanja negara di penghujung tahun dan lemahnya kinerja penerimaan.
Suahasil menyebut bahwa realisasi PNBP 2025 yang mencapai Rp534,1 triliun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi PNBP 2024 tang mencapai Rp584,4 triliun.
Di tengah upaya pembangunan SDGs, muncul pertanyaan penting mengenai bagaimana sumber daya dapat dimobilisasi untuk menutup kesenjangan pembangunan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved