Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Pembangunan Tanpa Evaluasi Tanah Berisiko Melahirkan Peradaban yang Rapuh

Naufal Zuhdi
05/12/2025 12:53
 Pembangunan Tanpa Evaluasi Tanah Berisiko Melahirkan Peradaban yang Rapuh
Ilustrasi(Antara)

Ketua Umum Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI), Husnain, menegaskan bahwa pembangunan nasional akan rapuh jika tidak memperhatikan kemampuan dan kesesuaian lahan. Menurutnya, perencanaan tata ruang membutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap bentang lahan agar pemanfaatan ruang dapat berkelanjutan dan terhindar dari risiko bencana.

“Kemampuan wilayah menampung air hingga potensi likuefaksi harus dikaji terlebih dahulu,” ujar Husnain dalam peringatan World Soil Day 2025 di Bogor, Kamis (4/12).

HITI mendorong masyarakat untuk lebih menghargai tanah serta menempatkannya sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan pembangunan di seluruh sektor. Berbagai bencana yang muncul di sejumlah daerah, menurutnya, sering kali berakar dari pengabaian terhadap karakteristik tanah dan bentang alam sekitar.

“Ketika sebuah bangsa memanfaatkan tanah sesuai kemampuan dan kapasitasnya, peradabannya akan tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan,” tegasnya.

Peringatan World Soil Day 2025 mengusung tema dari FAO, Healthy Soils for Healthy Cities, yang menekankan pentingnya tanah sehat bagi kualitas hidup perkotaan. Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, menyampaikan bahwa tema ini menjadi momentum penting karena ilmu tanah kini berperan lebih luas daripada sekadar pertanian.

Di tingkat global, Senior Economist Global Food and Agriculture Practice World Bank, Vikas Choudhary, menuturkan bahwa perspektif ilmu tanah telah berkembang karena tanah merupakan fondasi seluruh kehidupan, mulai dari penyediaan pangan, mendukung keberlanjutan ekosistem, hingga menjaga keberagaman hayati.

“Tanah yang sehat melahirkan manusia yang sehat dan akhirnya bangsa yang sehat. Setiap negara perlu merumuskan kebijakan dan praktik nyata untuk menjaga kesehatan tanah,” kata Vikas.

World Soil Day mulai dirayakan secara internasional pada 2014, sementara Indonesia mulai berpartisipasi sejak 2017 dan terus merayakannya setiap tahun. Tahun ini, rangkaian kegiatan semakin meriah dengan partisipasi 705 peserta dari berbagai daerah. Lomba yang digelar mencakup soil judging contest, esai, vlog, puisi, serta lomba mewarnai dan menggambar.

“Kategori esai menjadi yang paling diminati dengan 235 peserta, sekaligus menjadi rekor tertinggi dalam delapan tahun terakhir,” ungkap Ketua Panitia, Ladiyani Retno Widowati.

Menurut Ladiyani, tingginya antusiasme peserta dari beragam latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum, menunjukkan bahwa isu tanah telah menarik perhatian banyak kalangan.

“Yang menarik, pesertanya bukan hanya dari bidang pertanian, tetapi juga sosial, ekonomi, pariwisata, politik, bahkan agama. Ini menunjukkan tanah semakin diakui sebagai isu penting di tanah air,” katanya.

Juara lomba esai diraih oleh Dila Aksani dari Institut Pertanian Bogor, disusul Ghaida Tamma Rusyda dari Universitas Tidar sebagai juara kedua, dan Dyima Guszita dari SMAN 2 Padang di posisi ketiga. Adapun pemenang soil judging contest adalah Tim IPB University B sebagai juara pertama, diikuti Tim Universitas Padjadjaran A sebagai juara kedua, dan Tim IPB University A sebagai juara ketiga. Lomba bergengsi mahasiswa ilmu tanah tersebut diikuti oleh 18 tim dari 11 perguruan tinggi dengan total 65 peserta. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya