Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KERESAHAN dari pelaku industri hasil tembakau (IHT), terutama dari sektor akar rumput, kian menguat seiring wacana kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang terus bergulir. Para petani tembakau, pekerja, hingga pelaku usaha kecil mendesak pemerintah untuk memberlakukan moratorium kenaikan tarif CHT selama tiga tahun ke depan. Desakan ini muncul sebagai respons atas tekanan berkelanjutan yang dinilai telah menurunkan produktivitas industri dan mengancam keberlangsungan jutaan lapangan kerja di sektor padat karya tersebut.
Ketua Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) Surabaya, Sulami Bahar, menyuarakan kekhawatiran atas kondisi industri, khususnya di Jawa Timur yang menjadi salah satu basis utama IHT. Ia mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah pabrik yang kini berada di ambang tutup akibat tekanan biaya produksi yang tidak sebanding dengan daya beli masyarakat.
“Pabrik yang dulu menyerap ribuan tenaga kerja kini banyak yang hanya bisa bertahan dengan ratusan atau bahkan puluhan pekerja. Beberapa perusahaan terpaksa menutup usahanya,” ungkapnya dilansir dari keterangan resmi, Senin (14/7).
Ia berharap pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang baru, dapat lebih terbuka terhadap aspirasi pelaku usaha yang selama ini menjadi tulang punggung industri. “Pabrik-pabrik di industri tembakau adalah tempat bergantungnya jutaan pekerja, petani tembakau, dan pedagang kecil. Kami ingin kebijakan yang adil, terukur, dan berpihak kepada keberlangsungan usaha rakyat.”
Sulami juga menyatakan dukungan penuh terhadap usulan moratorium CHT untuk periode 2026–2029. Menurutnya, masa jeda ini akan menjadi momentum penting bagi pemerintah dan pelaku industri untuk menyusun peta jalan yang seimbang antara kebutuhan fiskal negara dan keberlangsungan sektor IHT.
“Saya sangat mendukung adanya moratorium tiga tahun untuk menghentikan sementara kenaikan CHT,” tegasnya.
Senada dengan Sulami, Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), I Ketut Budhyman Mudara, menegaskan bahwa keresahan pelaku usaha kecil semakin dalam setiap kali isu kenaikan cukai mencuat. Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap petani, pekerja, dan pengusaha kecil semakin berat.
“Mereka beroperasi dalam tekanan tinggi, menghadapi penurunan produksi, penurunan penjualan, dan makin beratnya daya beli konsumen. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi menyangkut keberlangsungan mata pencaharian jutaan orang,” jelasnya.
Budhyman menilai moratorium CHT selama tiga tahun sebagai langkah realistis dan strategis. Ia menekankan bahwa kebijakan ini akan memberi ruang bagi industri untuk beradaptasi dan memperkuat daya tahan, sekaligus memungkinkan pemerintah menyusun kebijakan fiskal yang lebih adil dan berimbang.
“Moratorium ini bukan berarti menolak kontribusi kepada negara, tapi memberi waktu agar industri bisa beradaptasi, menata ulang daya tahan, dan memastikan keberlanjutan tenaga kerja.”
Lebih lanjut, Budhyman menyoroti pentingnya pelibatan seluruh pemangku kepentingan di industri tembakau dalam proses pengambilan kebijakan. Ia menegaskan bahwa petani, pekerja, dan pengusaha kecil adalah fondasi utama ekosistem tembakau yang selama ini belum cukup mendapat ruang dalam diskursus kebijakan fiskal.
“Sudah saatnya suara akar rumput didengar, bukan hanya kepentingan fiskal jangka pendek,” tutupnya.(H-2)
Wacana Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menerapkan penyeragaman kemasan rokok dengan warna yang sama atau plain packaging mendapat penolakan keras.
Tekanan kebijakan yang terus menghantam Industri Hasil Tembakau (IHT) membuat banyak pihak mendesak pemerintah untuk segera menyusun peta jalan IHT nasional yang berkeadilan.
Tekanan yang menghantam industri tembakau membuat banyak pihak semakin waspada terhadap kebijakan baru yang dinilai dapat memperburuk kondisi ekonomi dan lapangan kerja.
Keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) dan harga jual eceran (HJE) pada tahun 2026 disambut positif
Sejumlah tokoh masyarakat dan wakil rakyat menyoroti masuknya agenda Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dalam regulasi yang disusun oleh Kementerian Kesehatan
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyambut positif langkah Kementerian Keuangan yang berencana akan mengedepankan pembinaan bagi pelaku usaha rokok ilegal.
Peruri akan tetap menjadi pihak yang mencetak pita cukai untuk barang-barang kena cukai.
Saleh Husin menyoroti pentingnya menjaga industri padat karya serta memperhatikan kesejahteraan petani tembakau.
Kepastian regulasi menjadi kunci menjaga daya saing dan keberlanjutan industri tembakau.
Moratorium akan membuka ruang bagi evaluasi kebijakan yang lebih menyeluruh dan berkeadilan.
Edy mengingatkan bahwa pemerintah juga perlu mengambil langkah tegas terhadap peredaran rokok ilegal.
Keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada tahun 2026 mendapat dukungan luas dari sejumlah kementerian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved