Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH bakal mendorong konsumsi pemerintah di sisa tahun ini untuk mendukung laju pertumbuhan ekonomi. Itu seiring dengan selesainya proses administrasi realokasi anggaran dan pembukaan blokir anggaran oleh Kementerian Keuangan.
Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kepada pewarta menanggapi realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I yang hanya tumbuh 4,87%.
"Jadi terkait dengan perkembangan selanjutnya, kita lihat triwulan berikutnya karena kita lihat di triwulan berikutnya ini diharapkan anggaran pemerintah sudah mulai berjalan, sehingga momentum pertumbuhan bisa dijaga," ujarnya, Jakarta, Senin (5/5).
Airlangga turut menyatakan, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup baik. Itu didasari pada pertumbuhan ekonomi banyak negara, terutama anggota G-20 dan kawasan ASEAN yang mayoritas laju perekonomiannya lebih lambat dari Indonesia.
"Untuk negara G-20, kita pertumbuhannya nomor dua tertinggi di bawah Tiongkok yang 5,4%. Kita masih di atas Malaysia yang 4,4%, Singapura 3,8%, Spanyol 2,9%. Khusus untuk ASEAN, kita sedikit di bawah Vietnam," kata dia.
Adapun berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2025 mengalami pelambatan. Dalam tiga bulan pertama di tahun ini, perekonomian Indonesia hanya mampu melaju 4,87% secara tahunan (year on year/yoy).
Realisasi tersebut mengalami pertumbuhan -0,98% dari triwulan IV 2024, juga lebih rendah dari pertumbuhan triwulan I 2024 yang tercatat 5,11% (yoy).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan, laju pertumbuhan ekonomi triwulan I 2025 didapat dari besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) yang turun dari Rp3.296,7 triliun di triwulan IV 2024 menjadi Rp3.264,5 triliun.
Lalu PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) juga turun dari Rp5.674,9 triliun di triwulan IV 2024 menjadi Rp5.665,9 triliun. "Jadi bila dibandingkan dengan triwulan IV 2024 (quatter to quarter/q to q), ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar minus 0,98%," jelasnya dalam konferensi pers, Jakarta, Senin (5/5).
Adapun komponen pengeluaran yang mengalami pertumbuhan minus ialah konsumsi pemerintah. Pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan I 2025 tercatat tumbuh -1,38% secara tahunan (yoy) dan memiliki distribusi terhadap PDB sebesar 5,88%.
Penurunan itu disebut terjadi karena pemerintah tak lagi melakukan belanja pemilihan umum (Pemilu) seperti di tahun lalu. "Tahun lalu terjadi realisasi anggaran yang relatif lebih cepat dan juga relatif lebih banyak karena adanya pemilu tahun 2024," kata Amalia. (Mir/M-3)
Kondisi infrastruktur terutama jalan di Kabupaten Pati yang rusak cukup parah, sehingga pemerintah daerah perlu sesegera mungkin untuk melakukan perbaikan.
Realokasi anggaran tidak akan melalui mekanisme APBD-P, tapi hanya akan dilakukan melalui re-focusing.
PEMERINTAH didorong untuk bisa mengimbangi kebijakan efisiensi anggaran dengan meningkatkan inklusivitas perekonomian. Itu dinilai dapat menambal kontribusi belanja negara yang hilang
Seluruh fraksi di DPRD DKI setuju atas rencana kebijakan sekolah gratis di Jakarta dengan mengalihkan anggaran KJP Plus.
Tidak ingin mengulang kejadian tahun lalu, Pemprov Babel menyiapkan anggaran tak terduga untuk penanganan karhutla.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp911,16 miliar untuk memberikan diskon transportasi selama periode mudik Lebaran 2026.
Indef menilai outlook negatif Moody’s mencerminkan kenaikan persepsi risiko, bukan pelemahan fundamental, sehingga menekan kepercayaan investor.
TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80%, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 33,79%.
Secara tahunan, ekonomi DIY tumbuh sebesar 5,94% (year-on-year/yoy) dibandingkan triwulan IV-2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved