Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KUOTA penyaluran pembiayaan rumah bersubsidi sebanyak 166 ribu unit bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) diprediksi akan habis pada Agustus 2024. Untuk memenuhi demand sebanyak 223 ribu unit rumah, Badan Pembiayaan Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mengusulkan penambahan kuota pada pemerintah.
“Saat ini kita sedang koordinasikan dengan Kementerian PUPR untuk penambahan kuota,” ungkap Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho saat media visit ke Kantor Media Indonesia, Selasa (14/5).
Heru menyampaikan, bila berkaca pada penyaluran pembiayaan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), perkiraan demand hunian disampaikan oleh Heru mencapai 233 ribu unit rumah.
Baca juga : Realisasi Pembiayaan Rumah Subsidi mencapai 103.749 Unit, 47,15% dari Target
Berdasarkan data yang diterima, BP Tapera telah menyalurkan dana sebesar Rp9,083 triliun untuk rumah subsidi bagi MBR pada tahun 2024. Dana tersebut disalurkan melalui dua program pembiayaan perumahan yang dikelola oleh BP Tapera.
Adapun, hingga 8 Mei 2024, dana FLPP telah digunakan untuk 72.779 unit rumah dengan total nilai Rp8,830 triliun. Rumah-rumah ini tersebar di 8.245 perumahan yang dibangun oleh 5.899 pengembang perumahan melalui 32 bank penyalur di 33 provinsi dan 376 kabupaten/kota.
Selain itu, akad pembiayaan perumahan Tapera pada periode yang sama telah mencapai 1.528 unit dengan nilai Rp253,47 miliar.
Baca juga : Gema Tapera Digelar 3 Hari di Kantor Kemenag
“Kami pun berharap persetujuan penambahan kuota pembiayaan rumah subsidi keluar secepatny. Namun itu tergantung kemampuan fiskal pemerintah, mudah-mudahan tidak lama.
Sebelumnya diberitakan, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI), Junaidi Abdillah, menyatakan bahwa kuota rumah bersubsidi pada tahun 2024 mengalami penurunan drastis dibandingkan dengan kuota tahun 2023 yang mencapai 250 ribu unit. Padahal, jumlah tersebut bisa diserap sepenuhnya oleh masyarakat.
"Kuota rumah subsidi sebanyak 166 ribu unit tahun ini diperkirakan akan habis pada bulan Juli. Kami berharap kuota ini bisa ditambah, setidaknya sama dengan kuota tahun lalu, karena jika habis, dampaknya akan besar bagi MBR," ujar Junaidi di Jakarta, kemarin.
Junaidi menambahkan, para pengembang berharap ada tindakan nyata untuk mengatasi penurunan kuota rumah subsidi ini. Penurunan kuota tersebut berpotensi menyebabkan dampak besar, tidak hanya bagi MBR dan pengembang, tetapi juga bagi industri properti secara keseluruhan.
“Keterbatasan kuota bisa menghambat pertumbuhan sektor properti, menghambat pengembangan properti, dan meningkatkan risiko kebangkrutan bagi pengembang yang tidak dapat memenuhi kewajiban perbankan,” tandas dia. (Z-8)
PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) menyatakan kesiapan mendukung program 3 juta rumah Prabowo-Gibran dengan teknologi precast yang efisien dan tahan gempa.
BP Tapera mencatat penyaluran FLPP rumah subsidi pada 2025 mencapai 278.868 unit senilai Rp34,64 triliun melalui 40 bank di 33 provinsi.
Mendukung percepatan Program 3 Juta Rumah, ratusan calon pengembang baru dilatih intensif oleh praktisi dan pemerintah di Cileungsi, Bogor.
Menurutnya, akad massal ini menjadi salah satu tonggak penting percepatan program perumahan nasional.
Rumah tipe 36 yang ditempatinya memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, dan ruang tengah untuk ruang keluarga.
Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) menyatakan mutu rumah subsidi yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menunjukkan tren perbaikan
KENAIKAN harga rumah yang terus tinggi menjadi salah satu faktor harga rumah semakin sulit terjangkau, termasuk oleh gen Z. Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan sangat minim.
OJK menegaskan hanya segelintir calon debitur KPR dengan skema FLPP terkendala akibat catatan di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Generasi milenial menjadi kelompok paling banyak menerima manfaat program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi yang disalurkan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).
Kementerian PKP sedang mengkaji skema Rent to Own (RTO) atau sewa-beli untuk mendukung program pembangunan 3 juta rumah, dengan fokus utama pada penyediaan pembiayaan bagi pekerja informal.
BTN menegaskan posisinya sebagai penyalur terbesar Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun 2025.
Segmen pasar menengah saat ini menjadi target pasar yang menjanjikan. Hal ini didorong oleh dominasi end-user, khususnya generasi milenial, Gen Z, serta pasangan muda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved