Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi beras mulai melemah pada Maret 2024. Menurut data yang dirilis, inflasi komoditas beras pada bulan tersebut mencapai 2,06% secara bulanan (month to month/mtm).
Ini menunjukkan penurunan dibandingkan dengan angka inflasi pada Februari 2024 yang mencapai 5,32% (mtm).
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa meskipun beras masih mengalami inflasi, namun trennya mulai melemah. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya kegiatan panen raya yang berkontribusi pada peningkatan produksi beras.
Baca juga : Jelang Ramadan, Pemprov DKI Diminta Waspadai Lonjakan Harga Pangan
Amalia menjelaskan bahwa perubahan masa tanam dan masa panen mempengaruhi pola harga beras. Hal ini menyebabkan harga beras mengalami peningkatan signifikan beberapa waktu yang lalu.
Dari data BPS, inflasi beras terjadi pada tiga bulan pertama tahun 2023, dan kembali terjadi sejak akhir tahun 2023 hingga mencapai titik tertinggi pada Februari 2024.
Meskipun inflasi beras masih memberikan kontribusi terhadap tingkat inflasi umum pada bulan Maret 2024 sebesar 0,09% (mtm), namun Amalia menyatakan bahwa kondisi ini relatif lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca juga : Harga Beras Naik di 28 Provinsi, Indonesia Alami Inflasi 0,04%
Namun demikian, harga beras di tingkat eceran masih mengalami kenaikan. Data BPS menunjukkan bahwa pada bulan Maret 2024, harga beras mengalami kenaikan baik di tingkat grosir maupun eceran.
Di tingkat grosir, terjadi kenaikan inflasi beras sebesar 0,90% (mtm) dan naik 20,64% secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan di tingkat eceran, inflasi beras juga tercatat naik sebesar 2,06% (mtm) dan naik 20,07% (yoy).
"Inflasi beras eceran sebesar 20,07% (yoy) ini merupakan yang tertinggi sejak Februari 2011 yang saat itu mencapai 23,34% (yoy)," tambah Amalia. (Z-10)
Harga bahan pokok yang mengalami penurunan mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit merah, dari Rp110.000 menjadi Rp76.000 per kilogram.
Harga cabai rawit merah melonjak drastis dari Rp100.000 menjadi Rp140.000 per kilogram. Selain karena permintaan, faktor cuaca juga berpengaruh besar.
Cuaca buruk yang terjadi beberapa bulan terakhir cukup memengaruhi produksi yang berdampak berkurangnya pasokan. Di sisi lain, permintaan masyarakat cenderung meningkat.
Berdasarkan pantauan di Pasar Gedhe Klaten pada Minggu (22/2), harga cabai rawit merah di tingkat pedagang eceran telah mencapai Rp110.000 per kilogram.
Cabai besar keriting dijual seharga Rp70.000 per kilogram dari harga sebelumnya yang hanya Rp45.000 per kilogram.
Harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati hari ini (21/2) turun jadi Rp55.000/kg usai diguyur pasokan Kementan. Cek detail harganya di sini.
Mendagri Tito Karnavian memaparkan skema bansos korban bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, termasuk bantuan Rp8 juta untuk rumah rusak berat serta Dana Tunggu Hunian Rp1,8 juta.
BPS Targetkan Verifikasi 106 Ribu Peserta PBI-JKN Penyintas Penyakit Kronis Tuntas Sebelum Lebaran 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) terus memperkuat dan memutakhirkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Capaian tersebut menunjukkan tren pemulihan pascapandemi yang berkelanjutan. Meski demikian, tingkat kemiskinan Jakarta saat ini masih belum sepenuhnya kembali ke posisi sebelum pandemi.
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen secara tahunan (year on year/YoY).
BADAN Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa penduduk bekerja pada November 2025 tercatat sebesar 147,91 juta orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved