Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI Jahen Fachrul Rezki mengatakan volume ekspor Indonesia yang menurun bisa dijelaskan beberapa faktor.
Pertama dari sisi harga komoditas yang turun. Harga minyak dunia dan juga minyak kelapa sawit, serta batu bara turun.
"Ini yang menyebabkan total nilai ekspor Indonesia turun," kata Jahen dihubungi Minggu (17/3).
Baca juga : Ekspor Venezuela ke AS Naik 770% pada 2023
Ketiga komoditas tersebut menjadi kontributor utama ekspor Indonesia selama ini.
Kedua adalah ekonomi Tiongkok yang melemah. Diperkirakan produk domestik bruto (PDB) Tiongkok pada kuartal I-2024 akan di bawah 5%.
Pelemahan ekonomi Tiongkok, yang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia tentu berdampak terhadap kinerja ekspor.
Baca juga : BCA terus Dorong UMKM Lakukan Ekspor
Ketiga, secara global ekonomi dunia juga melemah. Jepang, Jerman, dan Inggris secara teknikal mengalami resesi.
"Kita mungkin akan mengantisipasi penurunan permintaan global dan dampaknya akan cukup persist jika melihat tren dari data. Hanya India dan Vietnam yg perekonomiannya diproyeksikan tumbuh tinggi dibandingkan Indonesia," kata Jahen.
Indonesia tentu perlu mencoba mencari alternatif dagang dengan negara-negara yang masih tinggi tingkat permintaannya.
Baca juga : 45 Bulan Surplus, Pemerintah Diminta Lebih Jeli di Sektor Perdagangan
Sedangkan, isu geopolitik sepertinya akan terus membayangi dunia. S&P bahkan memproyeksikan tensinya akan terus meningkat dan berdampak buruk terhadap ekonomi global.
Ini juga mungkin ditambah dengan tahun 2024 sebagai tahun politik di banyak negara.
"Negara-negara besar melakukan pemilu dan sebagian besar memilih untuk menjalankan program-program populis," kata Jahen. (Z-3)
MENTERI Perdagangan (Mendag) Budi Santoso akan memanggil sejumlah eksportir untuk membahas potensi gangguan pasokan akibat penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen dibandingkan Januari 2025
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Dukungan Kementerian Koperasi (Kemenkop) terhadap kemajuan Koperasi Produsen Upland Subang Farm tidak hanya sebatas kebijakan, tetapi juga pembiayaan.
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menyebut risiko serangan AS ke Iran tidak hanya berasal dari sentimen pasar tetapi juga dari potensi gangguan jalur energi dan perdagangan global.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia berkomitmen membeli BBM dari Amerika Serikat senilai USD15 miliar sebagai bagian negosiasi dagang.
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat penyerapan tenaga kerja nasional menunjukkan tren membaik pada November 2025.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja positif, menguat tipis sebesar 2,68 poin.
Anjloknya harga emas pada perdagangan hari ini memberikan tekanan langsung terhadap sentimen saham-saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG mengakhiri perdagangan Selasa sore di zona merah. Tekanan jual muncul seiring investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menjelang libur dan cuti bersama Natal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved