Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Perdagangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengungkapkan melonjaknya harga beras dalam beberapa waktu terakhir disebabkan oleh kurangnya ketersediaan komoditas itu di lapangan. Hal itu disebabkan oleh produksi beras yang tertunda akibat fenomena iklim el nino.
"Musim tanam itu bergeser, maka beras lokal kurang, karena tidak ada yang tanam. Kalau tanam pun, itu hanya sedikit, mereka yang punya bendungan dan irigasi yang kuat saja. Jadi musim tanamnya bergeser, panennya bergeser," ujarnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu (13/3).
Zulkifli mengatakan, situasi itu kemudian mendorong pemerintah untuk mengambil langkah cepat, yaitu impor beras. Itu bahkan telah dipercepat sejak akhir tahun lalu dengan realisasi impor mendekati 3 juta ton.
Baca juga : Pedagang Diminta tidak Jual Beras SPHP di Marketplace
Impor terus dilakukan dengan kuota importasi beras tahun ini mencapai 3,6 juta ton. Jumlah itu bertambah 1,6 juta ton dari kuota awal tahun ini yang sebelumnya disepakati 2 juta ton.
Beras impor itu, kata pria yang akrab disapa Zulhas tersebut, digunakan untuk membanjiri pasar melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan yang dijalankan oleh Perum Bulog. "SPHP itu dijamin oleh pemerintah harganya Rp11 ribu kurang sedikit, dan beras medium Rp14 ribu per kg," tuturnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, kenaikan harga beras sedianya tak hanya terjadi di Indonesia. Negara-negara produsen beras lainnya juga mengalami hal yang sama. Dus, harga beras di level internasional juga berada dalam level yang relatif tinggi.
Baca juga : Stok Beras Aman, Kemendag Imbau Masyarakat tidak Panic Buying
Selain karena faktor iklim, kebijakan proteksi, atau pelarangan ekspor beras oleh India disebut menjadi sebab melambungnya harga komoditas itu di tingkat internasional. "Harga beras Thailand per Februari 2024 itu US$610, naik 32% dari periode yang sama tahun lalu," pungkas Zulhas.
Namun penjelasan mengenai dinamika harga beras itu dikritisi oleh Anggota Komisi VI DPR Harris Turino. Dia mengatakan, jika El Nino disebut menjadi sebab utama, maka pemerintah dianggap gagal mengelola perberasan nasional. Sebab, masih banyak negara lain yang menghadapi El Nino namun harga beras relatif terkendali.
"Banyak negara lain yang masih punya kemampuan ekspor. Jadi pernyataan bahwa ini melulu karena El Nino menjadi dapat dipertanyakan," kata dia.
Baca juga : Kemendag Sebut Beras Medium Tunjukkan Penurunan Harga, Beras Premium Masih Tinggi
Salah pengelolaan juga menurutnya dilakukan secara sadar oleh pemerintah. Harris mengungkapkan, pada Januari 2024, data Badan Pangan Nasional (Bapanas) stok beras nasional ada di angka 7,04 juta ton. Sementara kebutuhan untuk Februari saat itu diperkirakan mencapai 3 juta ton.
Namun karena adanya kepentingan Pemilu 2024, pemerintah tampak mengabaikan hal itu dan memilih melakukan impor secara masif. Penggunaannya pun menurut Harris tak jelas. Dugaan terkuat ialah untuk menyalurkan bansos menjelang pemilu.
"Bansos yang dilakukan besar-besaran di dalam waktu menjelang pemilu ini akhirnya menurunkan kemampuan pemerintah melakukan operasi pasar ketika terjadi kenaikan harga," tuturnya.
(Z-9)
Beras medium SPHP seharga Rp57.500 kemsan 5 kg, beraskita premium Rp74.000 kemasan 5 kg, minyakkita Rp31 ribu kemasan 2 liter.
Beras SPHP dijual Rp58 ribu per kemasan 5 kilogram. kemudian gula pasir Rp15 ribu per kilogram, minyakkita 2 liter Rp25 ribu, telur ayam 10 butir 10 ribu rupiah atau 1.000 per butir.
Cabai rawit saat ini mencapai Rp100 ribu per kilogram, dari sebelumnya hanya Rp60 ribu per kilogram, atau naik sekitar 25 persen.
Salah satu produk yang paling diminati adalah daging sapi yang dijual dengan harga Rp100 ribu per kg jauh lebih murah dibanding harga pasar.
Komoditas seperti bawang merah dan bawang putih tercatat naik di kisaran 5 hingga 10 persen, harga cabai merah dan cabai besar juga naik.
Beras kemasan yang sebelumnya dijual sekitar Rp14.000 hingga Rp15.000 per kg kini mencapai Rp16.000 hingga Rp17.000 per kg.
BADAN Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mengingatkan potensi terjadinya El Nino kuat atau Godzilla yang berdampak pada kekeringan saat musim kemarau 2026.
Peneliti menemukan pola kadar garam (salinitas) di Pasifik Barat saat musim semi dapat memperkuat intensitas El Niño hingga 20%.
BMKG) melalui akun Instagram, Senin (9/2), mengeluarkan peringatan wilayah Jabodetabek masih akan terus diguyur hujan lebat hingga sangat lebat dalam beberapa hari
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, untuk berhati-hati dalam menyusun tata kelola pangan 2026.
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved