Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
FUNDAMEN perekonomian Indonesia saat ini relatif kuat dan lebih baik dibanding banyak negara. Ketahanan ekonomi nasional itu banyak ditopang oleh sejumlah indikator perekonomian dalam negeri yang masih menunjukkan kondisi cukup berdaya tahan.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Outlook yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Selasa (21/11).
"Fundamen ekonomi kita dibandingkan dengan berbagai negara lain relatif jauh lebih baik, dan di Indonesia termasuk dalam top five ekonomi di dunia dan ketahanan ekonomi masih resilience," ujarnya.
Baca juga : Perekonomian Indonesia Tetap Solid, Inflasi Terkendali, dan PMI Terus Ekspansif
Airlangga mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2023 berada di angka 4,94%. Angka itu dinilai masih cukup baik kendati mengalami sedikit perlambatan. Dengan kondisi itu, pertumbuhan ekonomi dalam tahun berjalan berada di angka 5,05%.
Pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat itu juga diikuti dengan terkendalinya angka inflasi di kisaran target pemerintah. Per Oktober 2023, misalnya, angka inflasi umum Indonesia berada di angka 2,56%, jauh lebih baik dibanding banyak negara.
Selain itu, lanjut Airlangga, tingkat utang Indonesia juga berhasil dikendalikan di batas yang cukup rendah. Setidaknya hingga saat ini utang pemerintah berada di level 39% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca juga : Outlook Perekonomian Indonesia 2024: Optimisme Penguatan Ekonomi Nasional
"Utang kita kurang dari 40% terhadap PDB, bandingkan negara-negara lain apakah Jepang atau Amerika yang seluruhnya lebih dari 100% PDB. Tidak banyak negara yang bisa mengendalikan pertumbuhan inflasi dan inklusitas ekonomi seperti Indonesia," terang Airlangga.
"Dengan posisi tersebut pemerintah yakin bahwa tahun depan ekonomi masih solid dan berbagai lembaga memperkirakan pertumbuhan kita masih di angka 5,2%. Tentu kami akan terus memperhatikan berbagai risiko, kita perlu mengantisipasi berbagai ketidakpastian global di masa mendatang," sambungnya.
Keseimbangan Fiskal Surplus
Baca juga : Menko Airlangga: Keberlanjutan Kebijakan Ekonomi Bisa Jadikan Indonesia Negara Maju
Di kesempatan yang sama, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Abdurrahman mengatakan, fundamen perekonomian Indonesia yang baik tak terlepas dari upaya pemerintah mengelola fiskal negara dengan baik. Prinsip kehati-hatian dalam menjalankan kebijakan fiskal itu tampak dari defisit anggaran yang dapat ditekan.
"Kebijakan kita cukup pruden dan juga defisit dan utang. Kalau dibandingkan banyak negara, defisit kita sudah mengalami perbaikan signifikan. AS ketika pandemi defisit 14%, membaik, namun masih di atas 3%, India bahkan masih 10%, ini menyebabkan rasio utang kita, termasuk yang sangat rendah dan dalam tren yang menurun," jelasnya.
Adapun hingga September 2023, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat mengalami surplus sebesar Rp67,7 triliun, setara 0,32% terhadap PDB. Itu terjadi lantaran kinerja penerimaan negara masih lebih besar dibanding realisasi penggunaan dana belanja negara.
Baca juga : ASEAN Tekankan Pentingnya Upaya Inklusif dan Kolaboratif dari Sektor Swasta
Pengelola Keuangan Negara memperkirakan anggaran 2023 nantinya akan mengalami defisit 2,28% terhadap PDB, setara Rp486,4 triliun. Itu terjadi lantaran akan ada peningkatan belanja pemerintah di triwulan IV 2023.
"Posisi keseimbangan fiskal kita masih surplus 0,3% dan penerimaan pajak masih tumbuh positif. Ini sebenarnya karena desain fiskal kita yang konservatif tahun ini, kita melihat ini adalah tahun yang sulit, sehingga desainnya kita buat konservatif, ini jauh lebih baik dari yang kita targetkan sebelumnya," jelas Abdurrahman.
Sedangkan Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Habib Rab menyatakan sependapat mengenai kondisi fundamen perekonomian Indonesia yang masih berdaya tahan dan relatif lebih baik ketimbang banyak negara. Hal itu menurutnya dapat dilihat dari rasio utang, daya saing, dan kondisi makroekonomi dalam negeri yang memiliki performa cukup baik.
Baca juga : Perekonomian Indonesia Tumbuh Kuat dan Cetak 5,17% di Kuartal II 2023
"Yang kami lihat adalah kinerja manajemen makroekonomi Indonesia sangat baik. Kinerjanya sangat baik dalam hal pembangunan infrastruktur. Ini juga memiliki kinerja yang cukup dalam hal tata kelola sektor publik," jelas Rab.
"Keuntungan daya saing akan lebih besar pada pembukaan pasar, pasar keuangan, pasar perdagangan barang, pasar input dan pasar internasional. Hal ini akan menjadi pendorong penting bagi tahap pertumbuhan ekonomi selanjutnya," pungkasnya. (Z-4)
Baca juga : Jaga Momentum Perekonomian Tetap Kondusif Pasca G20
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan lawatan ke AS pada 19 Februari 2026, termasuk rencana penandatanganan kesepakatan tarif dagang Indonesia-AS.
MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan soal pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Apindo dan lima konglomerat.
Ketahanan energi jadi prioritas nasional utama pada 2026 seiring penguatan strategi ekonomi hijau yang menjadi bagian dari agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kembali mendapat kepercayaan untuk menakhodai Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) masa bakti 2026-2030.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta Danantara Indonesia untuk menjelaskan kepastian arah kebijakan fiskal Indonesia kepada Moody's.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Daging ayam potong dari Rp37 ribu menjadi Rp40 ribu per kg, telur ayam ras menjadi Rp32 ribu per kg, bawang merah Rp45 ribu per kg, cabai merah menjadi Rp70 ribu per kg.
Berdasarkan pemantauan, harga cabai rawit merah tertinggi tercatat Rp90 ribu per kilogram, dan pada pemantauan terakhir berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram.
Harga daging sapi terpantau Rp140.000 per kilogram, daging kambing Rp160.000, ayam ras Rp42.000, ayam kampung Rp65.000. Serta minyak goreng berada di kisaran Rp15.700 per liter.
Harga cabai domba mencapai Rp80.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp60.000. Begitu juga cabai tanjung dari Rp30.000 menjadi Rp 45.000.
Kenaikan harga cabai rawit yang menembus harga eceran tertinggi menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks harga pangan daerah.
Harga cabai rawit dipatok Rp80 ribu, dari harga sepekan sebelumnya yang masih dalam kisaran Rp50 ribu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved