Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
BURSA karbon yang rencananya dirilis pada 26 September 2023 sepertinya membawa dampak positif terhadap saham energi terbarukan (EBT). Hal itu terlihat dari nilai saham perusahaan-perusahaan itu yang kompak melesat.
Salah satunya yakni, PT Mutuagung Lestari Tbk atau MUTU International (MUTU). Hingga penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini, Jumat (22/9), saham MUTU naik sebesar 16,64% selama sebulan terakhir.
Baca juga: Perdagangan di Bursa Karbon Dimulai 26 September 2023
Praktisi pasar modal yang juga akademisi Universitas Atmajaya dan Trisakti Hans Kwee mengatakan, bergulirnya bursa karbon memang akan menguntungkan bagi emiten saham EBT yang bisnisnya ramah lingkungan.
“MUTU (akan diuntungkan) karena perdagangan karbon menjadi salah satu fokus perseroan. Perseroan juga memasuki pasar karbon jauh sebelum rencana pembentukan bursa karbon, yakni pada 2015 sebagai lembaga verifikasi dan validasi,” kata Hans, dalam keterangannya, Jumat (22/9).
Hans menjelaskan, peluang MUTU dalam bursa karbon cukup positif. Hal ini lantaran MUTU akan jadi perusahaan yang bisa memberikan verifikasi dan validasi terhadap gas buang sebuah perusahaan saat akan masuk bursa karbon.
“Setiap perusahaan perlu menghitung emisi gas rumah kaca untuk menentukan apakah melewati batas atau di bawah. Nah ini perlu perusahan yang memiliki kemampuan verifikasi dan validasi terhadap gas buang sebuah perusahaan,” imbuhnya.
Baca juga: OJK Terbitkan Aturan Perdagangan Bursa Karbon melalui POJK Nomor 14 Tahun 2023
Selain MUTU, Hans juga menyebutkan sejumlah emiten saham yang akan diuntungkan dengan bursa karbon ini.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) juga masuk jajaran emiten yang diuntungkan karena memproduksi energi panas bumi yang lebih ramah lingkungan.
Kemudian, ada PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan anak perusahaannya, BREN dan STAR yang menyediakan energi lebih ramah lingkungan dengan emisi lebih rendah.
Lalu, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Menurut Hans, MEDC diuntungkan karena memiliki anak usaha energi terbarukan dan menargetkan kapasitas terpasang dari energi terbarukan mencapai 26% pada 2025 dan 30% pada 2030.
Berikutnya, adalah PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) yang merupakan perusahaan energi terbarukan dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yakni perusahaan induk yang bergerak di bidang industri energi terbarukan.
Baca juga: Ini Empat Skema Perdagangan Karbon yang Disiapkan BEI
Dalam riset terbaru NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI), MUTU juga masuk jajaran emiten saham yang mendapatkan keuntungan dengan adanya bursa karbon.
Pasalnya, MUTU bergerak pada sektor verifikasi gas rumah kaca, yang merupakan kegiatan untuk melihat apakah emisi yang dihasilkan dari aktivitas usaha sebuah perusahaan telah melewati ambang batas atau belum.
Bursa karbon akan meluncur pada 26 September 2023 dengan BEI sebagai penyelenggaranya.
Penunjukan BEI ini berdasarkan Peraturan OJK (POJK) No 14/2023 tentang Perdagangan Karbon melalui Bursa Karbon dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) No 12/SEOJK.04/2023 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Perdagangan Karbon melalui Bursa Karbon. (RO/S-2)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan ini, seiring meningkatnya risiko geopolitik global.
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir atau pada periode 23-27 Februari 2026 mengalami koreksi sebesar 0,44%.
Tren investasi pada 2026 diproyeksikan semakin mengarah pada penguatan portofolio yang mampu bertahan di tengah gejolak pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, sempat dibuka di zona hijau.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada pembukaan perdagangan Rabu, 25 Februari 2026, mengalami penguatan.
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menegaskan posisinya sebagai pionir inovasi teknologi di industri pasar modal Indonesia melalui peluncuran versi terbaru LADI.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Ernest Gunawan menyampaikan alokasi program mandatori B40 pada 2026 ditetapkan sebesar 15,646 juta kiloliter.
Fokus utamanya adalah penambahan kapasitas pembangkit listrik hingga 100 gigawatt, di mana 75% di antaranya ditargetkan berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT).
Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menjalin kerja sama strategis dengan PT Borneo Indobara (BIB) melalui penandatanganan perjanjian jual beli REC.
INDUSTRI panas bumi memiliki prospek baik dalam mendukung pencapaian target pemerintah dalam memperluas kapasitas pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT).
Pemerintah terus memperkuat arah kebijakan energi nasional dengan mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Langkah ini untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Langkah pemerintah dalam memperluas pemanfaatan EBT sudah berada di jalur yang tepat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved