Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) meyakini bahwa stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dengan kinerja intermediasi Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang solid didukung tingkat permodalan serta likuiditas yang memadai.
Sektor perbankan tetap resilien ditandai dengan fungsi intermediasi yang terjaga dan permodalan yang memadai di tengah tantangan perekonomian dan pasar keuangan global serta kecenderungan penurunan harga komoditas utama penopang ekspor.
Pada Juni 2023, pertumbuhan kredit perbankan tumbuh melambat 7,76% (yoy), dibandingkan dengan bulan Mei yang sebesar 9,39% (yoy), terutama ditopang kredit investasi yang tumbuh 9,60% (yoy), melambat dari Mei 2023 yang sebesar 12,69% (yoy).
Baca juga : Jumlah Rekening di Bawah Rp100 Juta Tumbuh, Rekening di Atas Rp5 Miliar Melambat
Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan kinerja pertumbuhan kredit sampai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) internal pekan lalu, menunjukkan lebih rendah dari target yang dicanangkan untuk sepanjang 2023 yang diharapkan kredit tumbuh 10-12%. Namun realisasinya di bawah 8%.
"Namun penurunan ini di lain sisi tingkat 8 persen tetap lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit sebelum pandemi Covid-19. Pada tahun 2015 - 2019, rata-rata pertumbuhan kredit di bawah dari yang dicapai di tahun 2023," kata Mahendra dalam Konferensi Pers Paparan Hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (1/8).
Baca juga : Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh 7,7%, KPR dan KPA Meningkat
Di sisi lain, dari komunikasi OJK dengan perbankan, diperoleh update bahwa perbankan dalam rencana bisnis bank masing-masing masih yakin bisa mencapai target di atas 10%.
"Kami tentu meneruskan apa yang disampaikan oleh perbankan, meski catatan kami pertumbuhan kredit selama hampir 7 bulan ini melandai. Namun itu tetap berada dalam tingkat yang lebih tinggi dari pra pandemi," kata Mahendra.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan terkait pertumbuhan kredit yang lebih lambat ini, Bank Indonesia telah menyampaikan proyeksi terbaru pertumbuhan kredit yang kemungkinan hanya 9-11%.
Sehingga kemudian disusun langkah-langkah koordinasi yang diperlukan. Bank Indonesia menambah insentif likuiditas Rp47,9 triliun kepada perbankan yang rajin menyalurkan kredit, maupun BI juga akan melakukan langkah-langkah pelonggaran di makroprudensial.
"Bank Indonesia sudah mengadakan focus group discussion dengan perbankan besar. Mereka masih optimistis akan terus meningkatkan kredit di semester II-2023. Sehingga ini akan mendukung target pencapaian kredit 9-11%," kata Perry.
Lebih lanjut Mahendra menjelaskan, sejalan dengan pengetatan likuiditas di global, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5,79% (yoy) pada Juni 2023 (yoy), dari bulan Mei yang sebesar 6,55% (yoy), dengan deposito sebagai main driver pertumbuhan.
Kondisi ini menjadikan likuiditas perbankan sedikit turun meski masih jauh di atas threshold, antara lain tercermin dari Rasio Alat Likuid/Noncore Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK) masing-masing sebesar 119,04% dan 26,73% pada Juni 2023, dibandingkan dengan Mei 2023 yang masing-masing sebesar 123,27% dan 27,55%, dengan threshold 50% dan 10%.
Selain itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) juga memadai, berada pada level 230,24% (dibandingkan Mei: 233,63%) dan melampaui threshold 100%. Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) tetap solid dan berada pada level 25,41% (dibandingkan Mei: 26,07%).
Sementara itu, risiko kredit membaik dengan Non-performing Loan (NPL) gross turun ke level 2,44% (dibandingkan Mei: 2,52%) dan NPL net 0,77% (dibandingkan Mei: 0,77%).
Selanjutnya, kredit restrukturisasi Covid-19 melanjutkan penurunan menjadi Rp361,04 triliun (Mei: Rp372,0 triliun) dengan jumlah debitur yang juga terus menurun menjadi 1,57 juta debitur (dibandingkan Mei: 1,64 juta). (Z-4)
OJK menetapkan sanksi administratif dan/atau perintah tertulis kepada PT Repower Asia Indonesia Tbk, PT Multi Makmur Lemindo Tbk, serta pihak-pihak terkait.
OJK menilai ekonomi Indonesia tetap solid seiring keputusan Moody's yang mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level Baa2 dengan penyesuaian outlook.
OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) akan terus memperkuat pengawasan di sektor perbankan seiring dengan semakin kompleksnya aktivitas perbankan yang semakin beragam dan cepatnya digitalisasi.
OJK bersama BEI dan KSEI melaksanakan pertemuan secara daring dengan indeks provider global yaitu Morgan Stanley Capital International (MSCI), Senin (2/2) sore.
OJK dan ADB terus berupaya mendorong pengembangan keuangan berkelanjutan di Indonesia dan Asia serta memperkuat strategi penguatan pasar obligasi berdenominasi mata uang lokal.
Selain aktif sebagai regulator, Dr. Friderica juga berkontribusi dalam pengembangan literasi keuangan melalui karya tulis.
OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat turut memberikan dampak signifikan pada sektor jasa keuangan di daerah terdampak.
ASTRA Auto Fest (AAF) 2025 merupakan ajang tahunan yang menandai dimulainya rangkaian festival otomotif dan mobilitas tahunan yang menghadirkan kolaborasi penuh 26 unit bisnis Grup Astra
Didimax menerima penghargaan kategori Forex Education Excellence Award dari ajang CNBC Awards 2025.
Di balik peran pentingnya sebagai Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution menyimpan sisi personal yang menarik.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
Sertifikasi ISO 27001:2022 berperan sebagai kerangka kerja teruji yang memandu penyelenggara usaha jasa keuangan dalam pengelolaan sistem keamanan informasi usaha.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved