Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
TINGKAT inflasi pada akhirnya turun lebih dalam dari perkiraan. Inflasi utama turun dari sebelumnya 7,7% menjadi 7,1%. Lalu, inflasi inti Amerika Serikat (AS) turun dari sebelumnya 6,3% menjadi 6%.
Kedua, inflasi itu turun lebih dalam dari proyeksi sebelumnya. Tentu efek ini menggembirakan bagi pasar. Sebab, ruang untuk Bank Sentral AS, The Fed, untuk menaikkan tingkat suku bunga tinggi, akan semakin berkurang.
Inflasi utama mencatatkan kenaikan bulanan terkecil dalam lebih dari satu tahun terakhir. Sehingga, harapan akan inflasi yang terkendali bukan lagi sekedar mimpi.
Harga energi yang lebih rendah telah mendorong inflasi turun, mengimbangi kenaikan biaya pangan. Indeks S&P 500 AS melonjak pada pembukaan dan imbal hasil US Treasury turun.
Baca juga: Gubernur BI Ungkap Lima Masalah Ekonomi Global Saat Ini
Selanjutnya, pasar menunggu hasil pertemuan The Fed yang akan berlangsung pada hari Kamis (15/12). Dengan data inflasi AS yang lebih rendah daripada yang diproyeksikan, ini menjadi bekal bagi The Fed pada pertemuannya.
Adapun kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) 50 basis poin dapat dipastikan akan terjadi, karena inflasi yang mendukung alasan The Fed membuat keputusan.
"Namun tetap harus cermati. The Fed sendiri masih akan menaikkan tingkat suku bunga, sampai pada satu titik inflasi dan tingkat suku bunga bertemu," kata Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Rabu (14/12).
Biar bagaimanapun inflasi harus tetap dikendalikan, karena itu merupakan salah satu komitmen Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell sejak awal tahun. The Fed juga berjanji untuk mengembalikan tingkat inflasi untuk menghadapi ketidakpastian global.
Baca juga: Erick: BUMN Telah Ciptakan Lapangan Kerja Bagi 45 Juta Orang
Namun setidaknya untuk saat ini, tidak ada alasan bagi The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga 75 bps. Hal ini akan mengubah keputusasaan menjadi harapan.
Persepsi dan ekspektasi akan membantu situasi dan kondisi menjadi jauh lebih baik, optimisme akan muncul seiring dengan kehadiran harapan dalam situasi dan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian. Meski inflasi mulai menurun, namun bukan berarti The Fed tidak akan menaikkan tingkat suku bunga.
"Kami melihat pengetatan tetap akan dilanjutkan, namun tidak akan setinggi dari target sebelumnya yang berkisar 5-5,5% untuk tingkat suku bunga The Fed pada tahun depan, selama inflasi bergerak mengalami penurunan," tutur Nico.(OL-11)
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, bukan karena sentimen domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan Rabu 4 Maret 2026, dibuka melemah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah terbatas pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026).
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (3/3) di tengah sikap pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Selasa, 3 Maret 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (2/3) pagi dibuka melemah seiring tekanan dari bursa saham Asia, yang dipicu meningkatnya konflik Iran vs AS.
UBS menggelar UBS OneASEAN Summit untuk ke-14 kalinya dengan menghadirkan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengingatkan para investor untuk tetap bersikap rasional di tengah konflik Timur Tengah.
Pasar saham akan dibayangi sentimen risk off. Hal itu menyusul memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah pascaserangan terkoordinasi AS-Israel terhadap Iran.
Tren investasi pada 2026 diproyeksikan semakin mengarah pada penguatan portofolio yang mampu bertahan di tengah gejolak pasar.
Ketidaksinkronan antara data administratif dan realitas pasar ini menjadi salah satu alasan mengapa lembaga internasional mulai mempertanyakan kredibilitas tata kelola ekonomi nasional.
Jumlah investor pasar modal mencapai 20 juta pada akhir 2025, hanya 5% dari total penduduk Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved