Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
TINGKAT inflasi pada akhirnya turun lebih dalam dari perkiraan. Inflasi utama turun dari sebelumnya 7,7% menjadi 7,1%. Lalu, inflasi inti Amerika Serikat (AS) turun dari sebelumnya 6,3% menjadi 6%.
Kedua, inflasi itu turun lebih dalam dari proyeksi sebelumnya. Tentu efek ini menggembirakan bagi pasar. Sebab, ruang untuk Bank Sentral AS, The Fed, untuk menaikkan tingkat suku bunga tinggi, akan semakin berkurang.
Inflasi utama mencatatkan kenaikan bulanan terkecil dalam lebih dari satu tahun terakhir. Sehingga, harapan akan inflasi yang terkendali bukan lagi sekedar mimpi.
Harga energi yang lebih rendah telah mendorong inflasi turun, mengimbangi kenaikan biaya pangan. Indeks S&P 500 AS melonjak pada pembukaan dan imbal hasil US Treasury turun.
Baca juga: Gubernur BI Ungkap Lima Masalah Ekonomi Global Saat Ini
Selanjutnya, pasar menunggu hasil pertemuan The Fed yang akan berlangsung pada hari Kamis (15/12). Dengan data inflasi AS yang lebih rendah daripada yang diproyeksikan, ini menjadi bekal bagi The Fed pada pertemuannya.
Adapun kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) 50 basis poin dapat dipastikan akan terjadi, karena inflasi yang mendukung alasan The Fed membuat keputusan.
"Namun tetap harus cermati. The Fed sendiri masih akan menaikkan tingkat suku bunga, sampai pada satu titik inflasi dan tingkat suku bunga bertemu," kata Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Rabu (14/12).
Biar bagaimanapun inflasi harus tetap dikendalikan, karena itu merupakan salah satu komitmen Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell sejak awal tahun. The Fed juga berjanji untuk mengembalikan tingkat inflasi untuk menghadapi ketidakpastian global.
Baca juga: Erick: BUMN Telah Ciptakan Lapangan Kerja Bagi 45 Juta Orang
Namun setidaknya untuk saat ini, tidak ada alasan bagi The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga 75 bps. Hal ini akan mengubah keputusasaan menjadi harapan.
Persepsi dan ekspektasi akan membantu situasi dan kondisi menjadi jauh lebih baik, optimisme akan muncul seiring dengan kehadiran harapan dalam situasi dan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian. Meski inflasi mulai menurun, namun bukan berarti The Fed tidak akan menaikkan tingkat suku bunga.
"Kami melihat pengetatan tetap akan dilanjutkan, namun tidak akan setinggi dari target sebelumnya yang berkisar 5-5,5% untuk tingkat suku bunga The Fed pada tahun depan, selama inflasi bergerak mengalami penurunan," tutur Nico.(OL-11)
Bursa kembali memperketat pengawasan pasar. Pada perdagangan Rabu (21/1), sebanyak enam saham emiten resmi masuk daftar papan pemantauan khusus
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus terhenti sejenak pada pembukaan perdagangan Rabu, 21 Januari 2026.
IHSG hari ini 20 Januari 2026 cetak rekor baru di 9.169 sebelum berfluktuasi. Cek saham top gainers ZATA, ELIT & analisis dampak Rupiah Rp17.000.
PT OCBC Sekuritas Indonesia bersama PT Inovasi Finansial Teknologi resmi menjalin kemitraan strategis untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur.
IHSG kembali mencetak rekor All Time High di level 9.072 pada Kamis (15/1/2026). Simak data perdagangan, saham top gainers, dan sentimen pasar global.
VICE President Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi, memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang menguat hingga akhir Januari 2026.
Diskoneksi antara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berlanjut.
Ini rahasia pensiun Warren Buffett: investasi jangka panjang, hidup sederhana, dan strategi keuangan aman di usia tua.
Saham RAJA dan RATU sama-sama milik Happy Hapsoro, tapi punya bisnis dan risiko berbeda. Simak perbedaan RAJA vs RATU sebelum investasi.
Aplikasi ini diunduh oleh dua juta investor di sepanjang tahun ini, naik 37% dibandingkan tahun 2024
Dalam dunia investasi saham, strategi bisa berubah, tren bisa datang dan pergi. Namun, ada satu pendekatan yang tetap relevan lintas generasi, cara berinvestasi ala Warren Buffett.
Para pelaku penipuan biasanya menjerat calon korban dengan menawarkan kesempatan cuan cepat, undangan ke grup eksklusif, hingga jasa pendampingan trading.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved